| Views |
1325  |
|
Tgk.H.MUHAMMAD RUM, M.A. [Pimpinan Dayah al-Fityan school Aceh] Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.[al an'am:122]
Ibnu Hisyam dalam tahdzibnya menjelaskan bahwa al-walid bin al- Mughirah yang di tokohkan oleh kaumnya suatu ketika di datangi oleh kaumnya dan diminta memberikan penilaian tentang Muhammad untuk di jadikan kesepakatan bersama tatkala menjawab pertanyaan kaum Arab yang sebentar lagi akan datang untuk menunaikan ibadah haji, kemudian terjadilah diskusi yang di awali dengan permintaan pandangan al-walid, mereka berakata,’kita sepakati saja sebagai sastrawan, atau tukang sihir, al-walid menapikan usulan mereka itu karena karakteristik sastrawan dan tukang sihir sangat jauh dari kepribadian Muhammad, al-walid malah bersumpah bahwa apa yang dibacakan Muhammad dari alqur'an itu bahasanya sangat indah dan menawan, dahannya ibarat pohon kurma yang segalanya bermanfaat, dan rantingnya mempesona setiap orang yang mendengarkannya. Masih dalam kitab yang sama, ibnu Hisyam kembali menukil sebuah kisah tentang Utbah bin Rabiah dengan kaumnya, dimana dia menawarkan diri untuk mendatangi Muhammad dan bernegosiasi dengannya, mudah-mudahan-membuahkan kesepakatan yang berarti; setelah terjadi komunikasi dimana Nabi memperdengarkan beberapa ayat al-qur'an kepadanya, setelah itu, Utbah kembali dan menemui kaumnya, mereka bertanya dengan penasaran dan nada menyelidiki karena ternyata mimic wajahnya sangat berbeda dengan sewaktu berangkat, ketika di desak dia berkata,’demi Allah saya telah mendengarkan perkataan yang sangat agung dan mempesona, dia bukanlah perkataan sastrawan, dia bukanlah permainan supra natural, wahai segenap Quraisy, ikutilah anjuran saya!, biarkan Muhammad melanjutkan misinya, karena dibalik itu pasti akan terdapat kejadian yang bersejarah pada lembaran-lembaran sejarah kehidupan kita, kalau dia dan pengikutnya berhadapan dengan kaum Arab, maka kalian tinggal menanti hasil dan tidak perlu repot menghadapi mereka, dan kalau Muhammad dan pengikutnya berhasil menaklukkan kaum Arab, maka ketahuilah bahwasanya kerajaan Muhammad adalah kerajaan kaum Qurais juga, wibawa Muhammad adalah wibawa kalian juga, dan pada saat itulah kalian akan menjadi manusia paling bahagia dan terhormat di dunia. Fenomena inilah yang kemudian menyebabkan beberapa petinggi tokoh Quraisy pada waktu malam dengan melakukan gerakan rahasia dan sendiri-sendiri, datang kerumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa sepengetahuan beliau, dengan maksud untuk menghibur hati mereka [baca:menenteramkan] dengan keindahan lantunan kata-kata yang di bacakan oleh Beliau pada malam hari. Takjub, terpesona, simpati, kagum, semua itu adalah respon spontanitas terhadap sebuah fenomena, namun urusan hidayah adalah hak perogratif dari sang Penguasa manusia, pada jari- jari-Nyalah letak hati setiap makhluk, Dia bolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.Mereka kaum kafir Quraisy, tidak mengingkari kebenaran al-qur'an, mereka hanya di kelilingi oleh lingkaran keserakahan materi, popularitas, status social di tengah masyarakat, itulah yang menyebabkan mereka membuat opini dengan mulut dan pernyataan mereka yang sangat berlawanan dengan kenyataan dan kata hati mereka yang sesungguhnya. T ermasuk disinilah letak perbedaan seorang muslim dengan seorang yang berstatus kafir dari kalangan Quraisy pada waktu itu. Sangatlah aneh bila ada kelompok muslim yang melakukan tindakan yang sama dengan mereka, mereka tahu namun memunculkan opini yang berlawanan karena target materi atau popularitas, yang lebih aneh lagi bila opini yang terlontar dari mulut seorang yang mengaku muslim berangkat dari sebuah keyakinan hati dan format pemikiran yang baku. Ibnu Hayyan al-Anshary meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa sebab turunnya ayat ini adalah karena kasus Umar dan Abu Jahal. Ibnu Jarir al Tabary dari al-Dakhak juga menguatkan riwayat itu. Abu Bakar al-Haritsy dari zaid bin Aslam memberikan penjelasan dengan berkata,'apakah orang yang tadinya bagaikan mayat berjalan yaitu; Umar, sama halnya dengan yang masih dalam gemerlapnya kejahiliaan seperti Abu Jahal? Al-wahidy al-Naisabury dari Ibn Abas meriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat diatas adalah pada kasus Hamzah bin Abd Mutthalib dan Abu Jahal, dimana Abu Jahal suatu ketika melempari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan kotoran, Hamzah pada waktu itu belum beriman dan baru kembali dari perburuannya membawa perlengkapan panahnya. Mengetahui keponakannya dijahilin, dia langsung memukulkan panahnya itu ke kepala Abu jahal, Abu jahal berkilah,’mengapa kamu membela orang yang menghina akal kita, mencomooh Tuhan kita, dan menyalahi budaya nenek moyang kita? Hamzah berkata:'lalu siapa yang lebih bodoh dari orang yang menyembah batu, aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhamad adalah utusan Allah, kemudian turunlah ayat diatas.Ibn katsir dan al-Qurthuby berkata,’ayat diatas mencakup setiap mukmin dan setiap orang kafir.Dr wahbah al-zuhaily memberikan penjelasan ayat ini dengan berkata,'inilah perumpaan antara orang beriman yang tadinya mati karena kesesatan, binasa dan terombang-ambing dengan kondisi zamannya, kemudian Allah menghidupkannya dengan keimanan, dan memberikannya hidayah, dengan perumpamaan orang yang kafir, yang larut dalam kegelapan, kejahiliaan, mereka menjadi budak nafsu aneka ragam kesesatan. Masih kata al-Zuhaily,’Inilah jurang pemisah antara pemilik iman dengan pemilik kekafiran, sangatlah beda orang yang menjadi mayat karena kekafiran dan kebodohannya, kemudian menjadi hidup karena cahaya iman, iman itu membawa cahaya yang benderang menerangi kehidupan manusia, dan cahaya itu adalah cahaya al-qur'an yang diliputi dengan bukti-bukti dan penguat, dialah cahaya iman dan sumber hidayah itu.Tentunya sangatlah jauh perpautannya dengan mereka yang di kelilingi dengan gemerlapnya malam, gemerlapnya awan, gemerlapnya hujan, sementara mereka tidak bisa menjauh dan menyelamatkan diri dari semua bentuk kegemerlapan itu. Sangat menyeramkan perumpamaan orang yang jauh dari sentuhan al-quran, selain diumpakan dengan mayat yang berjalan, terkadang juga diumpamakan dengan orang yang berjalan terjungkel diatas mukanya, orang yang buta dan tuli, orang mati yang terkubur dalam tanah,seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya baik dihalau ataupun dibiarkan dengan kesendiriannya.Agar hati bisa hidup dengan lestari membutuhkan kiat-kiat yang baik dalam berinteraksi dengan al-quran. DR. Anas Ahmad Karzun dalam kitabnya yang berjudul;shahabat Rasulullah dan kesungguhan mereka dalam berinteraksi dengan al-quran, memberikan penjelasan bagiamana mereka para shahabat menghidupkan hati mereka dengan al-qur'an diantaranya sebagai berikut; 1. membaca al-quran setiap hari. 2. bangga dan gembira dengan al-quran. 3. senantiasa mentadabburi al-quran sebagai bagian dari kewajiban yang konsekwensinya membuahkan kemuliaan. 4. mengaflikasikan amanah dan pesan al-quran dalam kehidupan sehari-hari pada setiap lini kehidupan, yang memberikan jaminan kebahagiaan, ketenangan hati dan kebeningan jiwa. 5. berlomba-lomba dalam mempelajari al-quran. 6. menanamkan rasa kencintaan dengan al-quran. 7. segala permasalahan dan problematika hidup selalu di kembalikan kepada al-quran.Begitulah cara mereka menghidupkan hati dengan al- quran. Perhatikanlah bagaimana gersangnya hati Umar dengan kejahiliaannya, tatkala bermaksud untuk membunuh Nabi, namun luluh dengan untaian ayat al-quran, serta bagaimana karakternya yang keras yang masih selalu membayanginya setelah islam, termasuk kasusnya dengan Hathib bin Abi Balta'ah, menyikafi berita kematian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang menjinakkan hatinya dan yang melelehkan air matanya adalah tarbiyah al-quran. Pada penghujung tulisan ini menarik untuk direnungi sebuah perumpamaan dalam al-quran yang mengibaratkan wahyu al-quran yang di turunkan dari langit dengan air yang di turunkan untuk menghidupkan bumi yang gersang, sementara hati-hati manusia di ibaratkan dengan lembah yang menampung air hujan tersebut, atau ibarat leburan logam dalam api untuk membuat perhiasan, arus air atau leburan logam itu memunculkan buih, logam murni pada perhiasan itu dan air dari arus hujan itu akan abadi sebagai sebuah kebenaran dan buihnya akan lenyap tanpa bekas. Dalam sebuah riwayat di tegaskan bahwa air hujan yang diserap dengan baik oleh tanah, itulah perumpamaan al-qur'an dengan orang yang beriman, sementara tanah yang tidak menyerap air hujan itu, dan juga tidak mengambil manfaat darinya karena terdiri dari batu cadas, itulah perumpamaan al-qur'an dengan orang kafir. Termasuk yang menarik dari tadabbur kita pada ayat ini adalah; perumpamaan dengan mayat yang berjalan pada ayat ini di sandingkan dengan sebuah negri yang dipimpin oleh penguasa yang maksiat dan zhalim, penguasa yang gemar melakukan kerusakan, penguasa yang bermain mata dalam mengexploitasi kekayaan negara dengan penjahat dalam lingkup negrinya, atau dengan penguasa dan penjahat dalam lintas negara.Pertanyaannya adalah;sampai kapan kita membiarkan negri ini seperti negri mati yang di huni oleh bangkai-bangkai mayat yang berjalan? Manusia-manusia yang kehilangan identitas agamanya dan jauh dari jati diri bangsanya? Sampai kapan kita hanya menjadi lembah yang menampung derasnya air hujan hanya untuk sekedar numpang lewat tanpa pernah mengambil manfaat dari anugerah itu? Jawabannya ada pada kehendak kita dan kehendak para penguasa dalam menghidupkan hati dan sanubari dengan norma-norma al-qur'an.Ada pada keseriuasan penguasa[political will] dalam memberantas segala bentuk kejahiliaan, kezaliman, dan kemungkaran, khalwat dan aneka bentuk perzinahan yang telah meratulela dimana-mana baik pada kalangan muda-mudi kampus dan lainnya, termasuk bagi kalangan lanjut usia, mabuk narkoba dan zat adaiktif, termasuk upaya pendangkalan moral melalui tayangan pornograpi dan porno aksi yang nyata-nyata sangat jauh dari pesan pesan al-quran. Saatnya kita mencerdaskan kembali nilai-nilai spritualitas kita dan mengukir sejarah baru dalam kehidupan bersama pada Bulan suci Ramadhan ini, saatnya kita membuka kembali lembaran-lembaran baru keindahan bersama Allah. jika tidak, maka keindahan Ramadhan itu hanya sebatas seremonial dalam lantungan formalitas tarhib tahunan dan konteks bibir saja?!.
Users' Comments (0)  |
|
|