| Views |
1158  |
|
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha Kedua belas: Mengangkat kedua tangan Membentangkan kedua belah tangan dan mengangkatnya dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah muka atau atas dalam berdo’a adalah sunnah, dan termasuk salah satu sebab dikabulkannya sebuah do’a. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا . “Sesungguhnya Tuhanmu Tabaraka wa Ta’ala itu Mahamalu lagi dermawan. Dia malu jika ada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya kepadanya, lalu orang itu mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong.” Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Membentangkan tangan ke langit adalah salah satu adab berdo’a yang diharapkan bisa menjadi sebab dikabulkannya sebuah do’a.” Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) berkata, “Sesungguhnya mengangkat kedua tangan dalam berdo’a adalah sunnah dan merupakan salah satu faktor terkabulnya do’a. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ... Dan, hadits-hadits shahih dalam hal ini banyak sekali.” Ketiga belas: Disertai taubat dan pengakuan dosa Tidak ada manusia –selain para nabi dan rasul– yang tidak memiliki dosa dan kesalahan. Setiap manusia pasti pernah berdosa dan bersalah, sekecil apa pun dosa dan kesalahan itu, baik disengaja ataupun tidak. Dan, hendaknya kita beristighfar terlebih dahulu dan bertaubat kepada-Nya sebelum berdo’a, agar Allah berkenan mengabulkan do’a kita. Karena, demikianlah yang dicontohkan oleh orang-orang shalih pendahulu kita, sebagaimana yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang do’a yang dipanjatkan Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan Hawa, “Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’.” (QS. Al-A’roof: 23) Nabi Musa ‘Alaihis Salam berdo’a kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an, “Musa berdo’a, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qoshosh: 16) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ketika terjadi haditsul ifki, إِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبٍ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ . “Jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka mohonlah ampun dan bertaubat kepada-Nya. Karena sesungguhnya apabila seorang hamba mengakui dosanya, kemudian dia bertaubat, maka Allah pun menerima taubatnya.” Kempat belas: Tidak mengkhususkan diri dalam do’a ketika berdo’a bersama Apabila seseorang dipercaya untuk memimpin do’a bersama, hendaknya dia tidak berdo’a untuk dirinya sendiri, melainkan berdo’a untuk semuanya. Untuk itu, diperlukan kemampuan Bahasa Arab yang baik dalam hal ini. Dengan demikian seseorang yang memimpin do’a bersama bisa mengubah do’a yang artinya “untukku,” “bagiku,” “kepadaku,” “sesungguhnya aku,” “aku memohon,” atau “aku berlindung,” menjadi “untuk kami,” “bagi kami,” “kepada kami,” “sesungguhnya kami,” “kami memohon,” dan “kami berlindung,” ke dalam Bahasa Arab yang baik dan benar. Misalnya, do’a yang berbunyi: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى . Alloohumma innii as`alukal hudaa wat tuqoo wal ‘afaafa wal ghinaa. “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu: petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.” Menjadi: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى . Alloohumma innaa nas`alukal hudaa wat tuqoo wal ‘afaafa wal ghinaa. “Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu: petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, لَا يَؤُمُّ رَجُلٌ قَوْمًا فَيَخُصُّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ . “Janganlah seseorang mengimami suatu kaum, lalu dia mengkhususkan do’a hanya untuk dirinya tanpa menyertakan mereka. Sebab, jika dia melakukannya, maka sungguh dia telah mengkhianati mereka.” Kelima belas: Mengulangi do’a hingga tiga kali Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Namun, Dia juga sangat menghargai kesungguhan seorang hamba dalam berdo’a kepada-Nya. Apakah dia serius ataukah hanya sekadar melakukan ‘formalitas’ sebuah do’a. Sekiranya dalam urusan dunia kita bisa mengulangi permintaan kita kepada pemimpin kita sebagai tanda keseriusan kita dalam meminta, begitu pun dalam urusan akhirat. Apabila seorang hamba benar-benar membutuhkan apa yang dia pinta, tentu dia akan mengulangi apa yang dipintanya. Dan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah contoh terbaik dalam hal ini. Beliau sering mengulangi do’anya kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga tiga kali. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu berkata, كَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا . “Adalah beliau (Nabi) jika berdo’a, beliau berdo’a tiga kali. Dan jika beliau meminta, beliau meminta tiga kali.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendo’akan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu, يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثًا . “Semoga Allah mengampunimu, hai Abu Bakar.” Beliau mengatakannya tiga kali. Dalam hadits shahih juga disebutkan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ يَدْعُوَ ثَلَاثًا وَيَسْتَغْفِرَ ثَلَاثًا . “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senang berdo’a hingga tiga kali dan beristighfar tiga kali.” Keenam belas: Memperbanyak do’a di waktu lapang (tidak hanya saat perlu atau dirundung musibah) Maksudnya yaitu, memperbanyak do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu kita dalam keadaan lapang, tidak sedang dalam kesusahan, atau sedang membutuhkan. Karena, terkadang seseorang baru rajin berdo’a atau sangat bersemangat dalam do’anya ketika dia sedang mengalami kondisi sulit, sempit, terjepit, atau pada saat dia terkena musibah. Atau, pada waktu seseorang sedang menjalani suatu aktivitas dimana dia sangat berharap untuk dapat melaksanakannya atau melaluinya dengan baik. Misalnya, ketika dia sedang menghadapi ujian kenaikan kelas/semester, bagi yang masih sekolah/kuliah; ketika mengikuti tes masuk menjadi pegawai atau karyawan; ketika sedang menanti kelahiran si buah hati; dan sebagainya. Meskipun boleh berdo’a kapan saja termasuk –apalagi– ketika sedang membutuhkan, kita juga mesti rajin berdo’a ketika kita dalam keadaan lapang. Sebab, hal ini turut menjadi faktor menentukan dikabulkan tidaknya do’a kita oleh Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ . “Barangsiapa yang ingin do’anya dikabulkan oleh Allah pada waktu kesulitan dan kesusahan, maka hendaknya dia memperbanyak do’a pada waktu lapang.” = = = = = = = = = * Dinukil dari buku “Panduan Praktis DO’A dan DZIKIR Sehari-hari Menurut Al-Qur`an dan Sunnah”/Abduh Zulfidar Akaha/Hlm 3-31/Penerbit Pustaka Al-Kautsar/Cet. 1/Mei 2007. Http://www.binbaz.org.sa/index.php?pg=mat&type=article&id=457. Syaikh Bin Baz melanjutkan, “Akan tetapi, mengangkat tangan –dalam berdo’a– pada saat dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melakukannya seperti setelah shalat wajib, baik itu bagi imam, makmum, maupun yang shalat sendirian; maka yang demikian ini tidak disyariatkan bagi siapa pun. Sebab, beliau tidak mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a setelah salam selepas shalat wajib.”
Users' Comments (0)  |
|
|