| Views |
1326  |
|
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha Kedelapan: Berdo’a pada kondisi yang dekat dengan Allah Perbedaan poin ini dengan sebelumnya terletak pada saat terjadinya do’a dipanjatkan, dimana pada poin sebelumnya kita lihat bahwa waktu-waktunya sudah tertentu dan tidak bisa berubah. Dalam arti kata, waktu mustajab pada poin sebelum ini memang selalu ada. Baik kita berdo’a pada waktu-waktu tersebut ataupun tidak, waktu mustajab itu tetap saja ada. Adapun yang kami maksud dengan kondisi di sini adalah kondisi yang ada dikarenakan peran kita, atau kondisi yang bisa kita ciptakan. Misalnya; ketika sedang dalam perjalanan jauh, ketika berpuasa, ketika perang sedang berkecamuk (dimana kita turut berperang di dalamnya), ketika kita dalam keadaan dizhalimi oleh seseorang, ketika khatam Al-Qur`an, dan pada saat sujud dalam shalat.
Dalam kitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam, disebutkan bahwa salah satu syarat dikabulkannya do’a adalah perjalanan yang jauh. Bahkan, sekadar bepergian saja, hal itu sudah memenuhi syarat dikabulkan sebuah do’a. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah (w. 795 H) berkata, “Dan apabila suatu perjalanan (safar) semakin jauh jaraknya, maka kemungkinan dikabulkannya do’a pun semakin besar. Sebab dalam kondisi demikian, seseorang telah mengalami beratnya beban dikarenakan jauhnya perjalanan. Dia pun asing di negeri orang dan mengemban kesulitan yang tidak sedikit. Dan, kondisi seseorang yang sedang menanggung beban berat seperti ini termasuk salah satu sebab dikabulkannya suatu do’a.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ . “Tiga macam orang yang do’anya tidak ditolak: Orang puasa hingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizhalimi; dimana do’anya diangkat Allah hingga ke atas awan dan pintu-pintu langit pun terbuka untuknya, lalu Allah berfirman; Demi kemuliaan-Ku, sungguh engkau akan Aku tolong meski sesaat lagi.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ . “Ada tiga do’a mustajab yang tidak diragukan lagi; do’a orang mazhlum (dizhalimi), do’a seorang musafir, dan do’a orangtua untuk anaknya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ . “Keadaan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud. Maka perbanyaklah do’a (ketika sujud).” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, اُطْلُبُوْا إِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوْشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلاَةِ ، وَنُزُوْلِ الْمَطَرِ . “Carilah saat dikabulkannya do’a, yaitu; ketika bertemunya para pasukan, ketika ditegakkan (iqamat) shalat, dan ketika turun hujan.” Adapun istijabahnya do’a pada saat khatam Al-Qur`an, terdapat sedikit perbincangan di dalamnya antara yang sepakat dan yang tidak. Imam Ad-Darimi meriwayatkan sebuah atsar dalam Sunan-nya dari Mujahid bin Jabr, bahwasanya ada orang yang mengundang Mujahid untuk menghadiri khataman Al-Qur`an. Orang tersebut berkata, “Sesungguhnya telah sampai kabar kepada kami bahwa do’a pada saat khatam Al-Qur`an itu mustajab.” Lalu, mereka pun memanjatkan beberapa do’a pada khatamaan Al-Qur`an tersebut. Tsabit bin Aslam berkata, “Adalah Anas bin Malik apabila mengkhatamkan Al-Qur`an, dia mengumpulkan anak-anak dan keluarganya, lalu dia pun berdo’a untuk mereka.” Syaikh DR. Bakr bin Abdillah Abu Zaid hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya hadits tentang perbuatan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu yang berdo’a ketika khatam Al-Qur`an adalah shahih. Dia (Anas) mengumpulkan keluarganya dan anak-anaknya untuk itu. Dan, sesungguhnya perbuatan ini juga diikuti oleh sekelompok orang dari kalangan tabi’in, sebagaimana yang terdapat dalam atsar Mujahid bin Jabr rahimahumullahu Ta’ala ajma’in.” Kesembilan: Menghadap ke arah kiblat Disukai menghadap ke arah kiblat dalam berdo’a. Dalam hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu disebutkan, اسْتَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَعْبَةَ فَدَعَا عَلَى نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَى شَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ فَأَشْهَدُ بِاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُهُمْ صَرْعَى قَدْ غَيَّرَتْهُمْ الشَّمْسُ وَكَانَ يَوْمًا حَارًّا . “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadap Ka’bah, beliau berdo’a agar sejumlah tokoh kaum Quraisy; Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid bin Uqbah, dan Abu Jahal bin Hisyam dicelakakan. Saya bersumpah dengan nama Allah, sungguh saya melihat mereka mati terkapar, dimana matahari membuat warna mereka berubah. Dan hari itu memang panas sekali.” Abdullah bin Zaid Al-Mazini Radhiyallahu 'Anhu menuturkan, “Saya melihat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam pada hari beliau keluar untuk shalat istisqa`, beliau membelakangi manusia dan menghadap ke arah kiblat untuk berdo’a. Kesepuluh: Dengan suara yang pelan Allah Maha Mendengar apa yang kita katakan. Bahkan apa yang kita sembunyikan dalam hati pun, Dia Maha Mengetahui. Karena itu, berdo’a kepada Allah tidak perlu dengan suara keras, apalagi berteriak. Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu mengisahkan, bahwa dia pernah bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam dalam satu perjalanan. Dan, apabila mereka melalui bukit atau jalanan naik, mereka bertakbir dengan suara yang keras. Lalu, beliau bersabda, يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ . “Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak meminta kepada sesuatu yang tuli ataupun nihil. Sesungguhnya Dia bersama kalian, dan Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat. Mahaberkah nama-Nya dan Mahatinggi Zat-Nya.” Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah (w. 852 H) menukil perkataan Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H), “Hadits ini menyatakan bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir dan berdo’a adalah makruh. Demikian pendapat para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in pada umumnya.” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’roof: 55) Kesebelas: Tidak berdo’a atau mendo’akan yang buruk Allah adalah Mahabaik, dan Dia tidak menerima dari hamba-Nya kecuali kebaikan. Demikianlah yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh meminta sesuatu yang tidak baik atau keburukan kepada Allah, baik itu keburukan untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Termasuk di dalamnya adalah do’a yang mengandung kebencian dan permusuhan, apalagi do’a yang memohon kehancuran atau kematian untuk diri sendiri maupun saudara sesama muslim. Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Dalam berdo’a tidak boleh ada unsur permusuhan atau kebencian. Sekiranya di dalamnya ada suatu permusuhan, maka sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkannya, sekalipun itu adalah do’a dari seorang bapak untuk anaknya atau dari ibu untuk anaknya. Sebab, Allah Ta’ala berfirman; ‘Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.’ (QS. Al-A’roof: 55). Begitu juga jika seseorang berdo’a yang mengandung dosa, seperti meminta sesuatu yang haram kepada Allah, maka ini pun tidak akan diterima. Karena dia telah berlebihan dalam do’anya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى خَدَمِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَاعَةَ نَيْلٍ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ . “Janganlah kalian mendo’akan keburukan atas diri kalian sendiri, juga jangan atas anak-anak kalian, pembantu kalian, dan harta-harta kalian. Tidaklah do’a kalian mengenai saat yang tepat dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, melainkan Dia kabulkan do’a kalian tersebut.” Beliau ‘Alaihi Afdhalush Shalati wat Taslim juga bersabda, لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ . “Do’a seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama dia tidak meminta suatu dosa atau memutus silaturahim.”
Users' Comments (0)  |
|
|