| Views |
962  |
|
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha Keempat: Berdo’a dengan do’a-do’a yang disyari’atkan Sesungguhnya, kita boleh berdo’a apa saja kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita boleh meminta apa pun kebutuhan kita di dunia dan akhirat selama itu adalah kebaikan. Akan tetapi, sekiranya di sana terdapat contoh-contoh do’a yang berasal dari Al-Qur`an dan Sunnah yang mencakup permintaan kita, tentu lebih baik jika kita menggunakannya. Karena hal itu pasti lebih selamat dan lebih baik. Selain itu, jangan sampai kita justru menjadi orang yang berlebih-lebihan dalam berdo’a, berlebih-lebihan dalam memilih kalimat dan meminta hal-hal yang justru tidak membawa kebaikan bagi diri kita.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ . “Akan muncul suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berdo’a.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) berkata, “Dan seyogyanya manusia berdo’a dengan do’a-do’a syar’i yang terdapat dalam Al-Kitab dan Sunnah. Sebab, yang demikian itu tidak diragukan lagi keutamannya dan kebaikannya. Dan sesungguhnya itu adalah jalan yang lurus; jalan orang-orang yang telah Allah limpahkan nikmat-Nya kepada mereka dari para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan kaum shalihin. Mereka adalah teman yang sangat baik.” Adapun Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah (w. 505 H), beliau mengatakan “Yang penting adalah jangan sampai mengenyampingkan do’a-do’a yang berasal dari Al-Qur`an dan Sunnah. Sebab, terkadang seseorang bisa saja melampaui batas dalam do’anya, dimana dia meminta kepada Allah apa yang tidak baik bagi dirinya. Karena memang tidak setiap orang pandai dalam berdo’a.” Kelima: Penuh kekhusyu’an, tadharru’, dan harap-harap cemas Sudah seharusnya apabila kita berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla mesti dengan penuh kekhusyu’an dan tadharru’ (merendahkan diri) kita di hadapan-Nya seraya berharap agar do’a kita dikabulkan, sekaligus takut jika ditolak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh pengharapan dan kecemasan. Dan, mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyaa`: 90) Allah juga berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55) Keenam: Tidak bimbang dalam berdo’a dan yakin Allah akan mengabulkan Meskipun khawatir jika Allah tidak mengabulkan do’a kita, namun sikap optimisme akan dikabulkannya do’a harus lebih besar daripada sikap pesimis. Bagaimanapun juga rahmat Allah lebih besar daripada murka-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ . “Berdo’alah kalian kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Dan ketahuilah, bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai lagi lengah.” Beliau juga bersabda, لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ ارْزُقْنِي إِنْ شِئْتَ وَليَعْزِمْ مَسْأَلَتَهُ إِنَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ لَا مُكْرِهَ لَهُ . “Janganlah salah seorang kalian mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki; kasihilah aku jika engkau menghendaki; berikanlah rezeki kepadaku jika Engkau menghendaki.’ Hendaknya, dia menegaskan permintaannya. Sebab, sesungguhnya Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang memaksa-Nya.” Ketujuh: Mencari saat yang tepat untuk berdo’a Meskipun boleh berdo’a kapan saja dan di mana pun, namun ada waktu-waktu tertentu dimana Allah menjanjikan akan mengabulkan do’a yang dipanjatkan pada waktu tersebut. Dalam kitabnya yang terkenal; Ihya` ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali berkata, “Hendaknya seseorang mencari waktu-waktu yang dimulikan untuk do’anya, seperti; Hari ‘Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, dan waktu sahur di malam hari.” Selain itu, saat-saat di antara adzan dan iqamat serta sesaat setelah adzan dikumandangkan juga termasuk waktu yang istijabah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ . “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan mereka selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 18) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ . “Sesungguhnya pada saat malam terdapat satu saat dimana jika seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat pada saat tersebut, niscaya apa yang dimintanya akan diberi. Dan itu pada setiap malam” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,, إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ . “Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat satu saat dimana jika seorang muslim meminta kebaikan kepada Allah pada saat tersebut, niscaya apa yang dimintanya akan diberi.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ . “Do’a antara adzan dan iqamat tidak ditolak.” Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhuma menceritakan, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin mengungguli kami dengan adzan mereka.” Lalu beliau bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَ . “Katakanlah seperti apa yang mereka katakan. Dan, apabila engkau telah selesai (membaca do’a setelah adzan), maka mintalah (kepada Allah), pasti engkau akan diberi.”
Users' Comments (0)  |
|
|