Statistik

Sejak Juni 2007
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini290
mod_vvisit_counterkemarin284
mod_vvisit_counterpekan ini1211
mod_vvisit_counterbulan ini5823
mod_vvisit_countertotal69307

Kami Peduli

  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
powered_by.png, 1 kB

Halaman Depan arrow Artikel arrow 16 ADAB Dalam BERDO’A Bagian II
16 ADAB Dalam BERDO’A Bagian II PDF Cetak E-mail
Views 962    

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Keempat: Berdo’a dengan do’a-do’a yang disyari’atkan

                Sesungguhnya, kita boleh berdo’a apa saja kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita boleh meminta apa pun kebutuhan kita di dunia dan akhirat selama itu adalah kebaikan. Akan tetapi, sekiranya di sana terdapat contoh-contoh do’a yang berasal dari Al-Qur`an dan Sunnah yang mencakup permintaan kita, tentu lebih baik jika kita menggunakannya. Karena hal itu pasti lebih selamat dan lebih baik. Selain itu, jangan sampai kita justru menjadi orang yang berlebih-lebihan dalam berdo’a, berlebih-lebihan dalam memilih kalimat dan meminta hal-hal yang justru tidak membawa kebaikan bagi diri kita.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ .

“Akan muncul suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berdo’a.”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) berkata, “Dan seyogyanya manusia berdo’a dengan do’a-do’a syar’i yang terdapat dalam Al-Kitab dan Sunnah. Sebab, yang demikian itu tidak diragukan lagi keutamannya dan kebaikannya. Dan sesungguhnya itu adalah jalan yang lurus; jalan orang-orang yang telah Allah limpahkan nikmat-Nya kepada mereka dari para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan kaum shalihin. Mereka adalah teman yang sangat baik.”[2]

Adapun Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah (w. 505 H), beliau mengatakan “Yang penting adalah jangan sampai mengenyampingkan do’a-do’a yang berasal dari Al-Qur`an dan Sunnah. Sebab, terkadang seseorang bisa saja melampaui batas dalam do’anya, dimana dia meminta kepada Allah apa yang tidak baik bagi dirinya. Karena memang tidak setiap orang pandai dalam berdo’a.”[3]

 Kelima: Penuh kekhusyu’an, tadharru’, dan harap-harap cemas

                Sudah seharusnya apabila kita berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla mesti dengan penuh kekhusyu’an dan tadharru’ (merendahkan diri) kita di hadapan-Nya seraya berharap agar do’a kita dikabulkan, sekaligus takut jika ditolak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh pengharapan dan kecemasan. Dan, mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyaa`: 90)

 

Allah juga berfirman,

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

Keenam: Tidak bimbang dalam berdo’a dan yakin Allah akan mengabulkan

                Meskipun khawatir jika Allah tidak mengabulkan do’a kita, namun sikap optimisme akan dikabulkannya do’a harus lebih besar daripada sikap pesimis.[4] Bagaimanapun juga rahmat Allah lebih besar daripada murka-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ .

                “Berdo’alah kalian kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Dan ketahuilah, bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai lagi lengah.” [5]

                Beliau juga bersabda,

لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ ارْزُقْنِي إِنْ شِئْتَ وَليَعْزِمْ مَسْأَلَتَهُ إِنَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ لَا مُكْرِهَ لَهُ .

                “Janganlah salah seorang kalian mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki; kasihilah aku jika engkau menghendaki; berikanlah rezeki kepadaku jika Engkau menghendaki.’ Hendaknya, dia menegaskan permintaannya. Sebab, sesungguhnya Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang memaksa-Nya.”[6]

Ketujuh: Mencari saat yang tepat untuk berdo’a

                Meskipun boleh berdo’a kapan saja dan di mana pun,[7] namun ada waktu-waktu tertentu dimana Allah menjanjikan akan mengabulkan do’a yang dipanjatkan pada waktu tersebut. Dalam kitabnya yang terkenal; Ihya` ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali berkata, “Hendaknya seseorang mencari waktu-waktu yang dimulikan untuk do’anya, seperti; Hari ‘Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, dan waktu sahur di malam hari.”[8] Selain itu, saat-saat di antara adzan dan iqamat [9] serta sesaat setelah adzan dikumandangkan juga termasuk waktu yang istijabah.

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

                خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ .

                “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah.”[10]

                Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

                “Dan mereka selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 18)

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

                إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ .

                “Sesungguhnya pada saat malam terdapat satu saat dimana jika seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat pada saat tersebut, niscaya apa yang dimintanya akan diberi. Dan itu pada setiap malam”[11]

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,,

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ .

                “Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat satu saat dimana jika seorang muslim meminta kebaikan kepada Allah pada saat tersebut, niscaya apa yang dimintanya akan diberi.”[12]

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

                الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ .

                “Do’a antara adzan dan iqamat tidak ditolak.”[13]

                Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhuma menceritakan, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin mengungguli kami dengan adzan mereka.” Lalu beliau bersabda,

                قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَ .

                “Katakanlah seperti apa yang mereka katakan. Dan, apabila engkau telah selesai (membaca do’a setelah adzan), maka mintalah (kepada Allah), pasti engkau akan diberi.”[14]

 



[1] HR. Abu Dawud (1265), Ibnu Majah (3854), dan Ahmad (1402), dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu 'Anhu. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan Ibni Majah/Jilid 2/Hlm 331/hadits nomor 3116.

[2] Majmu’ Al-Fatawa/Ibnu Taimiyah/Juz 1/Hlm 346/Mathba‘ah Maktabah Al-Ma’arif, Rabath/Tanpa tahun.

[3] Ihya` ‘Ulumiddin/Imam Al-Ghazali/Juz 1/Hlm 445/Penerbit Maktabah Al-Iman, Manshurah – Mesir/Cetakan pertama/1996 H – 1417 H.

[4] Hal ini tidak bertentangan dengan harap-harap cemas dalam berdo’a. Sebab, kita memang tidak boleh memaksakan kehendak kita pada Allah bahwa Dia pasti mengabulkan do’a kita karena faktor diri kita. Yang benar adalah, bahwa kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita karena faktor kemurahan dan kasih sayang Allah kepada kita sebagai hamba-Nya. Wallahu a’lam.

[5] HR. At-Tirmidzi (3401), Ahmad (6368), dan Al-Hakim (Al-Mustadrak/Jilid 1/hadits nomor 1817); dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah/Syaikh Al-Albani/jilid 2/hadits nomor 594.

[6] HR. Al-Bukhari (6923), Muslim (4838), dan beberapa imam hadits yang lain; dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Lihat; Al-Lu`lu` wa Al-Marjan fi Mattafaqa ‘Alaihi Asy-Syaikhan/Ustadz Muhammad Fu`ad Abdul Baqi/juz 3/hadits nomor 1716. Redaksi hadits yang kami tampilkan adalah redaksi Al-Bukhari.

[7] Kecuali –tentu– tempat yang tidak layak; kamar kecil, misalnya.

[8] Ihya` ‘Ulumiddin/Imam Al-Ghazali/jilid 1/hlm 443/Penerbit Maktabah Al-Iman, Manshurah – Mesir/Cetakan pertama/1996 H – 1417 H.

[9] Terutama bagi mereka yang berada di masjid pada waktu tersebut untuk melaksanakan shalat berjama’ah.

[10] HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu 'Anhuma. Lihat; Sunan At-Tirmidzi/Kitab Ad-Da’awat ‘An Rasulillah/Bab Fi Du’aa` Yaumi ‘Arafah/hadits nomor 3509. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dalam Tuhfatu Al-Ahwadzi, Al-Hafizh Al-Mubarakfuri mengatakan, bahwa Imam Ahmad dan Al-Hakim juga meriwayakan hadits ini. Al-Hakim berkata; Hadits ini shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim. Dalam Takhrij Al-Ihya`, Imam Zainuddin Abul Fadhl Al-Iraqi hanya mengutip perkataan At-Tirmidzi saja, bahwa ini adalah hadits hasan gharib. Sedangkan Syaikh Al-Albani, beliau menghasankan hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah/jilid 4/hadits nomor 1503.

[11] HR. Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhuma. Lihat; Shahih Muslim/Kitab Shalat Al-Musafirin wa Qashruha/Bab Fi Al-Lail Sa’ah Mustajab Fiha Ad-Du’aa`/hadits nomor 1259; dan Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin/Bab Musnad Jabir ibni ‘Abdillah/hadits nomor 13835.

[12] HR. Al-Bukhari (4884), Muslim (1407), At-Tirmidzi (453), An-Nasa`i (1414), Ibnu Majah (1127), Ahmad (7489), Malik (221), dan Ad-Darimi (1523), dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu.

[13] HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa`i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Al-Hafizh Al-Iraqi berkata (Takhrij Al-Ihya`), “Al-Hakim menshahihkan hadits ini.” Dan Syaikh Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Tamam Al-Minnah fi At-Ta’liq ‘Ala Fiqhi As-Sunnah/Syaikh Al-Albani/hlm 149/hadits nomor 91/Penerbit Dar Ar-Rayah li An-Nasyr wa At-Tauzi’, Riyadh/Cetakan ke-4 edisi revisi/1417 H.

[14] HR. Ahmad (6313) dan Abu Dawud (440) dari Abdullah bin Amr.bin Al-Ash Radhiyallahu 'Anhuma. Imam An-Nawawi berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dia tidak mendha’ifkannya.” (Al-Adzkar/hadits nomor 104). Pentahqiq kitab Al-Adzkar mengatakan; hadits hasan shahih.


Published in : Artikel,
Kutip artikel Print kirim ke teman

Users' Comments (0) RSS feed comment

Tidak ada komentar

Beri komentar



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Saturday, 16 June 2007
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Dari Admin

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Selamat Datang di website perisaidakwah.com dilaunching sejak bulan Juni 2007. kirimkan kritik, saran bahkan artikel ke perisaidakwah@gmail.com
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

### Tidak dilarang menyebarkan isi dari web ini dengan tetap mencantumkan sumbernya####

Sindikasi

Yang online

Saat ini ada 2 tamu online

Komentar

Muhammadiyah,...
Peran Mirza Ghulam Ahmad adalah setetes...
Selengkapnya
By Anti AHmadiyah

MAKNA SUNNAH DALAM...
kenapa harus ada sunnah dan...
Selengkapnya
By des pet

Muhammadiyah,...
Gelar anda sebagai alumni sebuah...
Selengkapnya
By reza

© 2008 perisaidakwah.com