| Views |
1028  |
|
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha Pertama: Menjauhkan diri dari hal-hal yang haram Berdo’a adalah meminta. Tidak mungkin permintaan kita akan dipenuhi oleh orang yang kita minta bantuannya jika kita sering melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Atau, tidak mungkin permintaan seorang bawahan akan dipenuhi atasannya jika dia adalah seorang yang sering melanggar peraturan. Demikian pula halnya dengan berdo’a kepada Allah. Allah pun enggan mengabulkan do’a hamba-Nya yang sering melakukan perbuatan maksiat dan melanggar aturan-Nya. Untuk itu, sudah seharusnya apabila kita ingin do’a kita dikabulkan oleh Allah, kita mesti senantiasa menaati segala peraturan-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi apa pun yang Dia larang.
Ketika membahas syarat-syarat dan adab berdo’a, Syaikh DR. Muhammad Bakr Ismail hafizhahullah berkata, “Hendaknya seorang hamba harus melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdiri di atas batasan-batasanNya, tidak makan (dan minum) kecuali yang halal, dan tidak melakukan suatu perbuatan selain amal saleh.”(1) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ . “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin sesuai apa yang yang Dia perintahkan kepada para rasul-Nya, dimana Dia berfirman; ‘ Wahai para rasul-Ku, makanlah kalian dari yang baik-baik dan beramal salehlah kalian. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.’ (2) Dan Dia juga berfirman; ‘Hai orang-orang beriman, makanlah kalian makanan yang baik-baik dari apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.’(3)”(4) Kemudian, Nabi berkisah tentang seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh, rambutnya kusut masai dan pakaiannya penuh debu, dimana orang tersebut berdo’a dengan membentangkan tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Robb… ya robb…”(5) Kata Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ . “Padahal makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram, dan dia pun dibesarkan dengan makanan yang haram; bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?”(6) Imam Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri rahimahullah (w. 161 H) berkata, “Sesungguhnya meninggalkan perbuatan dosa itu adalah ibadah.”(7) Kedua: Ikhlas Do’a adalah ibadah.(8) Beribadah harus ikhlas. Allah tidak akan menerima suatu amal ibadah yang tidak disertai dengan keikhlasan hanya kepada-Nya. Begitu juga dengan do’a. Allah tidak menerima do’a seseorang yang tidak diiringi dengan keikhlasan. Ikhlas dalam berdo’a adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah-lah satu-satunya tempat dipanjatkannya do’a dan bahwa Dia sanggup mengabulkan do’a apa pun yang dipanjatkan oleh hamba-Nya. Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) berkata, “Untuk dikabulkannya suatu do’a harus terpenuhi sejumlah syarat, di antaranya yaitu ikhlas. Hendaknya engkau mengikhlaskan diri karena Allah, sehingga engkau benar-benar berdo’a hanya kepada-Nya dalam rangka beribadah. Jangan engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun, jangan engkau menyembah-Nya karena riya` dan sum’ah, dan jangan pula agar engkau dikatakan; si fulan telah naik haji, si fulan dermawan, si fulan rajin puasa sunnah… dll. Jikalau engkau mengatakan hal ini, maka sia-sialah amalmu. Oleh sebab itu, engkau harus ikhlas.”(9) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan apabila mereka diterjang ombak yang besar seperti gunung, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Luqmaan: 32) Ketiga: Memulai do’a dengan tahmid dan shalawat Jika kita berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, hendaknya kita awali terlebih dahulu dengan membaca tahmid dan shalawat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mendengar seseorang berdo’a dalam shalatnya tanpa mengagungkan Allah terlebih dahulu dan juga tidak membaca shalawat. Maka, Rasul pun berkata, “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian orang tersebut dipanggil dan Nabi bersabda, kepadanya dan juga kepada yang lain, إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ . “Apabila salah seorang kalian berdo’a, maka hendaknya dia memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian hendaknya dia membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baru kemudian silakan dia berdo’a apa saja yang dia inginkan.”(10) Imam An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) berkata, “Para ulama sepakat dalam hal disukainya memulai berdo’a dengan membaca hamdalah dan sanjungan kepada-Nya, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula ketika mengakhiri do’a, hendaknya dengan membaca keduanya. Dan, hadits maupun atsar dalam masalah ini sangat banyak dan telah dikenal.”(11)
Users' Comments (0)  |
|
|