Login

Assalamu'alaikum Wr.Wb





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Statistik

Sejak Juni 2007
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini41
mod_vvisit_counterkemarin364
mod_vvisit_counterpekan ini1482
mod_vvisit_counterbulan ini2570
mod_vvisit_countertotal79322

Kami Peduli

  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
powered_by.png, 1 kB

Akhbar filistin


Halaman Depan
16 ADAB Dalam BERDO’A Bagian I PDF Cetak E-mail
Views 1117    

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

Pertama: Menjauhkan diri dari hal-hal yang haram

Berdo’a adalah meminta. Tidak mungkin permintaan kita akan dipenuhi oleh orang yang kita minta bantuannya jika kita sering melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Atau, tidak mungkin permintaan seorang bawahan akan dipenuhi atasannya jika dia adalah seorang yang sering melanggar peraturan. Demikian pula halnya dengan berdo’a kepada Allah. Allah pun enggan mengabulkan do’a hamba-Nya yang sering melakukan perbuatan maksiat dan melanggar aturan-Nya. Untuk itu, sudah seharusnya apabila kita ingin do’a kita dikabulkan oleh Allah, kita mesti senantiasa menaati segala peraturan-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi apa pun yang Dia larang.

 

Ketika membahas syarat-syarat dan adab berdo’a, Syaikh DR. Muhammad Bakr Ismail hafizhahullah berkata, “Hendaknya seorang hamba harus melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdiri di atas batasan-batasanNya, tidak makan (dan minum) kecuali yang halal, dan tidak melakukan suatu perbuatan selain amal saleh.”(1)

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ .

                “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin sesuai apa yang yang Dia perintahkan kepada para rasul-Nya, dimana Dia berfirman; ‘ Wahai para rasul-Ku, makanlah kalian dari yang baik-baik dan beramal salehlah kalian. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.’ (2) Dan Dia juga berfirman; ‘Hai orang-orang beriman, makanlah kalian makanan yang baik-baik dari apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.’(3)(4)

                Kemudian, Nabi berkisah tentang seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh, rambutnya kusut masai dan pakaiannya penuh debu, dimana orang tersebut berdo’a dengan membentangkan tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Robb… ya robb…”(5)

                Kata Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

                وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ .

                “Padahal makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram, dan dia pun dibesarkan dengan makanan yang haram; bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?”(6)

                Imam Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri rahimahullah (w. 161 H) berkata, “Sesungguhnya meninggalkan perbuatan dosa itu adalah ibadah.”(7)

 

Kedua: Ikhlas 

                Do’a adalah ibadah.(8) Beribadah harus ikhlas. Allah tidak akan menerima suatu amal ibadah yang tidak disertai dengan keikhlasan hanya kepada-Nya. Begitu juga dengan do’a. Allah tidak menerima do’a seseorang yang tidak diiringi dengan keikhlasan. Ikhlas dalam berdo’a adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah-lah satu-satunya tempat dipanjatkannya do’a dan bahwa Dia sanggup mengabulkan do’a apa pun yang dipanjatkan oleh hamba-Nya.

Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) berkata, “Untuk dikabulkannya suatu do’a harus terpenuhi sejumlah syarat, di antaranya yaitu ikhlas. Hendaknya engkau mengikhlaskan diri karena Allah, sehingga engkau benar-benar berdo’a hanya kepada-Nya dalam rangka beribadah. Jangan engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun, jangan engkau menyembah-Nya karena riya` dan sum’ah, dan jangan pula agar engkau dikatakan; si fulan telah naik haji, si fulan dermawan, si fulan rajin puasa sunnah… dll. Jikalau engkau mengatakan hal ini, maka sia-sialah amalmu. Oleh sebab itu, engkau harus ikhlas.”(9)

                Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan apabila mereka diterjang ombak yang besar seperti gunung, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Luqmaan: 32)

 

Ketiga: Memulai do’a dengan tahmid dan shalawat

                Jika kita berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, hendaknya kita awali terlebih dahulu dengan membaca tahmid dan shalawat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mendengar seseorang berdo’a dalam shalatnya tanpa mengagungkan Allah terlebih dahulu dan juga tidak membaca shalawat. Maka, Rasul pun berkata, “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian orang tersebut dipanggil dan Nabi bersabda, kepadanya dan juga kepada yang lain,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ .

                “Apabila salah seorang kalian berdo’a, maka hendaknya dia memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian hendaknya dia membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baru kemudian silakan dia berdo’a apa saja yang dia inginkan.”(10)

                Imam An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) berkata, “Para ulama sepakat dalam hal disukainya memulai berdo’a dengan membaca hamdalah dan sanjungan kepada-Nya, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula ketika mengakhiri do’a, hendaknya dengan membaca keduanya. Dan, hadits maupun atsar dalam masalah ini sangat banyak dan telah dikenal.”(11)



[1] Al-Fiqhu Al-Wadhih Min Al-Kitab wa As-Sunnah ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah/Syaikh DR. Muhammad Bakar Ismail/jilid 1/hlm 448/Penerbit Dar Al-Manar, Kairo/Cetakan kedua edisi revisi/1997 M – 1417 H.

[2] QS. Al-Mu`minuun: 15.

[3] QS. Al-Baqoroh: 172.

[4] HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ad-Darimi; dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Lihat; Shahih Muslim/Kitab Az-Zakah/Bab Qabul Ash-Shadaqah Min Kasbi Ath-Thayyib wa Tarbiyyatuha/hadits nomor 1686; Sunan At-Tirmidzi/Kitab Tafsir Al-Qur`an ‘An Rasulillah/Bab Wa Min Surati Al-Baqoroh/hadits nomor 2915; Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin/Bab Al-Musnad As-Sabiq/hadits nomor 7998; dan Sunan Ad-Darimi/Kitab Ar-Riqaq/Bab fi Akli Ath-Thayyib/hadits nomor 2601.

[5] Dalam hadits riwayat Al-Bazzar dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha disebutkan, “Apabila seorang hamba mengatakan ‘Ya Robb’ sebanyak empat kali, maka Allah berfirman; Aku memenuhi panggilanmu, hai hamba-Ku. Mintalah engkau, engkau akan Aku beri.” Namun ini hadits dha’if. Al-Hafizh Ali bin Abi Bakr Al-Haitsami berkata, “Di dalam sanadnya ada Al-Hakam bin Sa’id Al-Umawi yang lemah hafalannya.” Lihat; Majma’ Az-Zawa`id wa Manba’ Al-Fawa`id/Al-Haitsami/Jilid 10/Hlm 389/hadits nomor 17273. Adapun dalam hadits lain riwayat Abu Nu’aim (Hilyatul Awliya` 3/313) dari Atha` bin Yasar, disebutkan, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan ‘Ya Robb’ tiga kali (dalam do’anya), melainkan Allah akan mengabulkan do’anya.” Tetapi ini hadits mursal, karena Atha` sebagai seorang tabi’in tidak berjumpa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

[6] Ibid. (Sambungan hadits sebelumnya).

[7] Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam/Ibnu Rajab Al-Hambali/Jilid 1/Hlm 197/Penerbit Darus Salam – Kairo/Cetakan kedua/1996 H – 1417 H.

[8] Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Do’a adalah ibadah.” (Al-Hadits). Lihat hadits dan takhrijnya dalam “Bab Keutamaan Do’a.”

[9] Syarh Riyadh Ash-Shalihin/Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin/Jilid 4/Hlm 46/Penerbit Muassasah Al-Mukhtar, Kairo/Cetakan pertama/2005 M – 1426 H.

[10] HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad dari Fadhalah bin Ubaid Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih.” Lihat; Sunan At-Tirmidzi/Kitab Ad-Da’awat ‘An Rasulillah/Bab Ma Ja`a fi Jaami` Ad-Da’awat/hadits nomor 3399; Sunan Abi Dawud/Kitab Ash-Shalati/Bab Ad-Du`aa`/hadits nomor 1266; dan Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Anshar/Bab Musnad Fadhalah ibni Ubaid Al-Anshari/hadits nomor 22811. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah (w. 1420 H) menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan Abi Dawud Bikhtishar As-Sanad/jilid 1/hlm 278/hadits nomor 1314.

[11] Al-Adzkar, Al-Muntakhab Min Kalam Sayyid Al-Abrar/Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi/hlm 138/Penerbit Dar At-Taqwa, Syubro Khaima – Mesir/Cetakan pertama/2000 M – 1421 H.


Published in : Artikel,
Kutip artikel Print kirim ke teman

Users' Comments (0) RSS feed comment

Tidak ada komentar

Beri komentar



mXcomment 1.0.2 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Saturday, 16 June 2007
Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 16 June 2007 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Dari Admin

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Selamat Datang di website perisaidakwah.com dilaunching sejak bulan Juni 2007. kirimkan kritik, saran bahkan artikel ke perisaidakwah@gmail.com
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

### Tidak dilarang menyebarkan isi dari web ini dengan tetap mencantumkan sumbernya####

Sindikasi

Yang online

Jajak Pendapat

Siapakah Calon Presiden 2009 pilihan anda..??
 

Komentar

Muhammadiyah,...
Peran Mirza Ghulam Ahmad adalah setetes...
Selengkapnya
By Anti AHmadiyah

MAKNA SUNNAH DALAM...
kenapa harus ada sunnah dan...
Selengkapnya
By des pet

Muhammadiyah,...
Gelar anda sebagai alumni sebuah...
Selengkapnya
By reza

© 2009 perisaidakwah.com