Login

Assalamu'alaikum Wr.Wb





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Statistik

Sejak Juni 2007
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini77
mod_vvisit_counterkemarin364
mod_vvisit_counterpekan ini1518
mod_vvisit_counterbulan ini2606
mod_vvisit_countertotal79358

Kami Peduli

  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
powered_by.png, 1 kB

Akhbar filistin


Halaman Depan
MUSLIM TANPA EMBEL-EMBEL PDF Cetak E-mail
Views 1313    

Oleh Abu Farhan

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Tempat kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan diri kami dan kesalahan amal-amal kami. Barang siapa ditunjuki oleh Allah maka tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah maka tak ada yang sanggup menunjukinya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah bagi uswah hasanah kita, Rasulullah Muhammad Saw. Beserta keluarga, para sahabat, tabiin, ulama dan pengikutnya hingga akhir zaman.     

 Hampir setiap bulan penulis dan mungkin sebagian besar kaum muslimin menerima e_mail yang isinya mengajak kepada jama’ah ini jama’ah itu. Organisasi ini organisasi itu. Manhaj ini manhaj itu. Bukan hanya melalui e_mail, mungkin melalui obrolan, melalui buku, melalui majalah dan majelis ta’lim. Satu dan yang lainnya saling menawarkan dan mempromosikan keistemewaan dan kehebatan manhaj atau jama’ahnya.

Seperti pedagang obat satu dan lainnya merasa obatnya yang paling baik dan paling mujarab. Atau seperti penjual kecap. Kecapnyalah yang nomor satu. Pada tataran ini mungkin tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika satu dengan yang lain saling menjelek-jelekkan, menjatuhkan hingga saling lempar tuduhan.     

Apalagi ditambah dengan julukan-julukan yang menyeramkan. Seperti ahli bid’ah, ahli neraka, orang bodoh (juhala), orang yang sok tahu (ruwaibidhoh), khawarij, zindiq  hingga anjing-anjing neraka (kilaabun naar). Maka suasana “jualan” manhaj/jama’ah/organisasi tersebut menjadi keruh dan panas bagaikan api yang membara.     

Bukan hanya dalam tulisan, di lapangan lebih seru lagi. Ada rumah seorang ustadz yang dibakar. Ada yang “dilabrak”, diperlakukan dengan cara kasar dan diarak ke balai desa. Ada yang dijauhi, diboikot dan tidak dijawab salamnya. Ada yang diancam dengan pedang. Ada yang dikafirkan. Hingga ada yang bermubahalah (bersumpah agar laknat Allah dijatuhkan kepada salah seorang diantara mereka yang berdusta).     

Ruaaar biasa!!! Umat disuguhi drama kolasal yang menegangkan. Penuh intrik, caci maki dan dendam kesumat  Sehingga –mungkin- orang-orang diluar kita akan senang dan tertawa terbahak-bahak. Serta bergumam, “Tuh lihat umat Islam saling cakar-cakaran.”     

Melihat realitas tersebut, penulis berfikir. Bukankah kita semuanya beragama Islam? Bukankah Tuhan kita sama? Bukankah Nabi kita sama? Bukankah kiblat kita sama?. Bukankah rukun iman dan rukun Islam kita sama?      Lalu untuk apa kita “berkelahi”??? Kenapa tidak kita lepaskan baju-baju jama’ah/organisasi atau manhaj tersebut? Tidak cukupkah kita menjadi muslim tanpa embel-embel? Itulah pokok permasalahan yang akan penulis kupas dalam tulisan ini. Selamat menikmati!!!       

MUSLIM TANPA EMBEL-EMBEL

 Suatu hari kami duduk-duduk dekat Rasulullah SAW, tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian putih dan rambutnya hitam legam. Tak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak seorangpun diantara kami mengenalnya. Ia duduk di depan Nabi, lututnya ditempelkan ke lutut beliau, dan kedua tangannya diletakkan dipaha beliau, lalu berkata :”Hai Muhammad! Beritahu aku tentang Islam?.” Rasulullah SAW menjawab : “Islam itu engkau bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan sholat mengeluarkan zakat, berpuasa ramadhan dan menuanaikan haji ke baitullah jika engkau mampu.” Laki-laki itu berkata :”Benar.” Kami heran kepadanya, ia bertanya tapi setelah itu membenarkan jawaban Nabi ……..”(1) Pensyarah hadits tersebut berkata, “Hadits mulia ini merupakan salah satu pokok ajaran Islam. Ia mengandung keterangan mengenai rukun Islam yang lima…”(2) Dalam riwayat Imam Bukhari-Muslim dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khatab RA berkata, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, : Islam dibangun diatas lima pondasi : bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasul Allah, melaksanakan sholat, mengeluarkan zakat, haji ke baitullah dan puasa Ramadhan.”(3)  Imam Nawawi berkata, “...hadits ini adalah pondasi terpenting untuk mengetahui pilar-pilar agama. Kepada pilar-pilar itulah seharusnya seluruh individu muslim berpegang teguh.”(4)  “Hadits ini  merupakan sebuah prinsip yang agung yang menjadi dasar dalam memahami agama. Rukun-rukunnya telah dicakup dalam kalimat yang tepat dan singkat.”(5) Itulah inti, rukun dan pokok ajaran Islam. Pendek, padat, singkat dan mudah dipahami. Namun sekarang Islam menjadi sulit. Karena banyaknya kelompok/firqah yang menawarkan Islam dengan versinya masing-masing. Ada yang menawarkan Islam model zaman dahulu. Islam kebangkitan ulama, islam pengikut Ahmad, Islam pengikut Muhammad. Islam pembebasan, Islam yang  bertabligh dan berda’wah. Hingga pengikut Islam yang berjihad dan nge-bom di berbagai belahan dunia, tak peduli di daerah perang atau daerah aman.Padahal Islam itu ya Islam, sebuah agama yang mudah, indah, selamat dan damai. Orang Badui dan lelaki dusunpun dalam waktu yang singkat dapat memahami ajaran Islam. “…ada seorang laki-laki dari penduduk dusun yang cakap mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah sedangkan kami semuapun mendengarkannya. Lelaki itu berkata, “Wahai Muahmmad, telah datang kepada kami utusanmu. Dia mengatakan kepada kami bahwa Allah telah mengutusmu.” Rasulullah bersabda, “Dia (utusanku) telah berkata benar.” Orang dusun itu kembali berkata, “Siapakah yang telah menciptakan langit?” Rasulullah menjawab, “Allah.” Lelaki dusun itu bertanya lagi, “Siapakah yang telah menciptakan bumi?” Rasulullah menjawab, “Allah.” Lelaki dusun itu berkata, “Siapakah yang telah menciptakan gunung-gunung ini menjulang tinggi dan telah menjadikan apa yang ada di dalamnya?.” Rasulullah bersabda, “Allah.”Lelaki itu berkata, “Demi dzat yang telah menciptakan langit, bumi dan menjadikan gunung-gunung menjulang tinggi, apakah Allah yang telah mengutusmu?’ Rasulullah bersabda, “benar.” Lelaki utusan itu berkata, “Utusanmu itu mengatakan bahwa kami wajib mengerjakan sholat lima waktu dalam sehari semalam.” Rasulullah berkata, “ Dia telah berkata benar.” Lelaki itu berkata, “ Demi dzat Yang telah mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu untuk mengerjakan ini?’ Rasulullah menjawab, “Benar.” Lelaki it kembali berkata, “Utusanmu berkata bahwa kami wajib membayar zakat dari harta milik kami.” Rasulullah bersabda, “Dia telah berkata benar.” Lelaki itu berkata, “ Demi Dzat Yang telah mengutusmu apakah Allah memerintahkan dirimu untuk mengerjakan hal ini?” Rasulullah menjawab benar.Lelaki itu berkata, “Utusanmu berkata bahwa kami wajib mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan dalam satu tahun yang kita jalani.” Rasulullah bersabda, “Dia telah berkata benar.” Lelaki itu berkata, “ Demi Dzat Yang telah mengutusmu apakah Allah memerintahkan dirimu untuk mengerjakan hal ini?” rasulullah menjawab benar.” Lelaki itu berkata, “Utusanmu berkata bahwa kami wajib menunaikan ibdah haji ke Baitullah. (Namun hanya) diperuntukkan bagi orang yang mampu dalam perjalanan.” Rasulullah bersabda, “Dia telah berkata benar.” Setelah itu lelekai tersebut berpaling sembari berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan menambah dan mengurangi hal-hal tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya bersabda, “Apabila lelaki itu berkata jujur, pasti ia akan masuk syurga.”(6) Itulah Islam yang diajarkan Rasulullah. Islam tanpa embel-embel. Islam tanpa gelar ini gelar itu, tanpa julukan ini julukan itu. Islam murni. Islam yang tidak campur baur dengan ambisi kelompok. Ambisi sebuah jama’ah. Ambisi organisasi maupun ambisi orang yang mengaku sebagai pengikut orang terdahulu maupun orang masa kini.  

I.1 Pengertian Islam & Muslim Selanjutnya mari kita pahami makna Islam. Yang berasal dari akar kata salima yang terbentuk dari kata siin, laam dan miim. Yang berarti Al-istislam (berserah diri), As-salamah (selamat dan sejahtera). Dan As silmi yang berarti kedamaian atau perdamaian. Jadi Islam adalah agama yang menyuruh umatnya untuk berserah diri kepada Allah SWT. Agama yang membawa kedamaian, ketentraman, kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan akherat. Agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.Adapun muslim adalah orang yang beragama Islam. Jadi setiap manusia yang bersyahadat maka dia muslim. Setiap manusia yang meyakini rukun Islam maka dia muslim. Setiap orang yang menerima ajaran Alqur’an dan sunnah maka dia muslim. Muslim itu bertingkat-tingkat. Ada yang muslim saja, ada yang mukmin dan ada juga yang muhsin. Tingkatan tertinggi adalah dari kalangan Nabi dan Rasul, menyusul kemudian orang-orang yang benar (shiddiqiin), para syuhada dan orang-orang yang shalih.Muslim adalah orang tunduk (Al Khudhuu’) dan patuh (Adz Dzullu) kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

 

Artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya..” (An Nisaa 65) 

Diriwayatkan dari imam berenam dari Abdullah bin Zubair katanya, “Zubair bertengkar dengan seorang sahabat anshar tentang pembagian air di depan Rasulullah SAW yang memberi putusan dengan sabdanya kepada Zubair, “Airilah tanamanmu dahulu, kemudian salurkanlah air itu ke tanaman tetanggamu.” Lalu nyeletuklah sahabat Anshar itu dan berkata, “Apakah karena ia putera bibimu.” Maka berubahlah wajah rasulullah mendengar komentar tersebut dan berbalik kepada Zubair dan berkata, “Airilah tanamanmu dahulu, kemudian tahanlah air itu hingga kembali ke dinding dan sesudah itu salurkanlah air kepada tanaman tetanggamu.” Demikian Zubair mendapatkan haknya secara penuh, padahal pada mulanya Nabi telah mengusulkan kepada Zubair cara yang lebih luwes.

 Kata Zubair, “Saya kira ayat-ayat ini :”Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim mengenai perkara yang mereka perselisihkan, “ hanya diturunkan berkenaan denganperistiwa itu.Diketengahkan oleh Tabrani, “Zubair mengadukan seorang laki-laki kepada rasulullah SAW, maka beliau menetapkan keputusan buat kemenangan Zubair. Maka kata laki-laki itu, “Ia dimenangkan tidak lain hanya karena ia saudara sepupunya.” Maka turunlah ayat, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim …sampai akhir ayat (An Nisaa 65).

Diketengahkan oleh Ibnu Abi hatim dari Sa’id bin Musayab mengenai firmannya, “Maka demi Tuhanmu …sampai akhir ayat, “ bahwa ia diturunkan mengenai Zubair bin Awwam dan Hatib bin Abi Balta’ah yang bersengketa tentang air. Maka Nabi SAW memutuskan agar yang tinggi diairi lebih dulu kemudian baru yang rendah.(7) Muslim berarti juga orang yang berserah diri kepada Allah SWT. Puas dan ridho menerima segala keputusan dan aturan Allah dan Rasul-Nya.

Artinya :”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Ali Imran 83)Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah mencela orang-orang yang mencari agama selain agama Allah yang telah diturunkan lewat Rasul-rasul dan kitab-kitab-Nya, yaitu agama yang menyerukan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak bersekutu dan yang kepadanya telah menyerahkan diri (taslim) segala apa yang ada di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa…”(8) Muslim berarti juga orang yang menginginkan mendapatkan kedamaian dunia dan akherat. Damai hatinya, damai lisannya dan damai perbuatannya. Muslim juga berarti orang yang menginginkan keselamatan di dunia dan akherat. Sekaligus orang yang selamat hati, lisan dan perbuatannya.Dari Abdullah bin Umar RA. Rasululah bersabda, “Muslim adalah orang yang selamat semua orang Islam dari bencana lidah dan tangannya…”(9) 

 I.2. Semua Nabi dan Rasul  Adalah Muslim Semua Nabi, mulai dari nabi Adam AS hingga Rasulullah SAW adalah muslim. Dikatakan muslim karena mereka semua telah ridha menjadikan Allah sebagai Tuhan (Rabb), sebagai tempat menyembah (ilah) dan tempat mohon pertolongan dan dzat yang memiliki nama dan sifat yang agung dan mulia (Asmaul husna). Para Nabi tersebut hanya beda syariatnya saja. Sedangkan inti agamanya yaitu tauhid, mengesakan Allah semata, semuanya sama. Tidak ada perbedaan sedikitpun. Dan inilah inti ajaran Islam yaitu pada kalimat tauhid Laailaaha illallah. Karena itulah mereka dinamakan muslim sejak dulu kala.

 

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.”(Al Hajj 78).Selanjutnya marilah kita perhatikan ayat-ayat Allah dalam surat Al Baqarah berikut ini :131.“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". 132.  Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".133.  Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia Berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya".135.  Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (Kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik".136.  Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya". Selanjutnya marilah kita lihat surat Ali Imran berikut ini :64.  Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".67.  Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. 

 I.3. Umat Yang Selamat       Umat Islam adalah umat yang selamat. Umat yang dijamin Allah masuk syurga. Umat yang diridhai agamanya. Umat yang disempurnakan ajarannya oleh Allah SWT. Allah berfirman yang artinya :Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam,  tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka,  barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Ali Imran 19).      Umat yang selamat berarti juga bahwa umat Islam tidak boleh diperangi atau dibunuh oleh seorang khalifah/umara kalau ia telah menunaikan rukun Islam. Kecuali karena melanggar ketentuan Allah. Misalnya berzina (bagi yang sudah menikah), membunuh dan murtad. Sekaligus merupakan umat yang akan diselamatkan Allah dari pedihnya siksa neraka.Dalam madzab Syafi’i & Maliki jika seorang muslim tidak mau melaksanakan sholat maka ia harus dibunuh. Sedangkan menurut imam Ahmad, Ishaq dan Ibnu Mubarok ia harus dibunuh karena telah kafir.  Sedangkan orang yang menolak membayar zakat, tidak mau puasa dan tidak menunaikan ibadah haji, menurut madzhab Syafi’i, ia tidak dibunuh. Sedangkan menurut Imam Ahmad dalam pendapatnya yang paling masyhur ia harus dibunuh.(10) Rasulullah bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, kecuali diakibatkan satu dari tiga hal yaitu orang tua yang berzina (telah menikah), membunuh dan murtad” (HR Bukhari-Muslim).(11) Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw. adalah utusan Allah, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat. Barang siapa melaksanakannya berarti ia telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan sebab yang dibenarkan Islam, sedang perhitungannya mereka (terserah) pada Allah SWT” (Muttafaq ‘alaihi).(12)  Hal sama juga diriwayatkan melalui jalan Abu Harairah.Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. dan Muadz bin Jabal berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah saw. Bersabda , “Hai Muadz.” Muadz menyahut, “Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah.” Rasulullah saw. memanggil lagi, “Hai Muadz.” Muadz menjawab, “Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah saw. Memanggil, “Hai Muadz.” Muadz menjawab, “Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah.” Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap hamba yang bersaksi bahwa, “Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan api neraka atasnya. Muadz berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang banyak agar mereka merasa senang?” Rasulullah saw. Bersabda, “Kalau engkau kabarkan, mereka akan menjadikannya sebagai andalan .” (HR Muslim)Hadis riwayat Itban bin Malik ra.: Dari Mahmud bin Rabi` ia berkata:, “Aku datang ke Madinah dan bertemu Itban.” Dan aku berkata, “Aku mendengar cerita tentang engkau.” Itban berkata, “Mataku terkena suatu penyakit.” Lalu aku menyuruh orang menghadap Rasulullah saw. untuk mengatakan kepada beliau bahwa aku ingin engkau (Rasulullah saw.) datang dan mengerjakan salat di rumahku, sehingga aku dapat menjadikannya sebagai mushalla. Nabi pun datang bersama beberapa orang sahabat beliau. Beliau masuk dan mengerjakan salat di rumahku. Sementara itu para sahabat saling berbincang di antara mereka. Mereka umumnya sedang membicarakan Malik bin Dukhsyum (artinya, mereka membicarakan sikap orang-orang munafik yang buruk, di antaranya Malik). Mereka ingin Rasulullah saw. berdoa agar Malik mendapat celaka. Mereka ingin ia tertimpa malapetaka. Ketika Rasulullah saw. selesai salat, beliau bertanya, “Bukankah ia bersaksi: Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah?” Para sahabat menjawab, “Memang benar ia mengucapkan itu, tetapi itu tidak ada dalam hatinya.” Rasulullah saw. Bersabda, “Seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidak akan masuk neraka atau dimakan api neraka “ (HR Muslim).      Hadits-hadits Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang selamat. Umat yang akan bahagia. Umat yang bebas dari api neraka dan umat yang dijanjikan Allah dengan jannah.      

 I.4. Umat Yang Diridhai Allah “ ……pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….”(Al Maaidah ayat 3).      Ibnu Katsier berkata, “Karena Allah telah rela untukmu agama Islam, maka terimalah dan puaskan hatimu dengan pemberian dan pilihan Allah itu, sebab tiada yang lebih baik dari apa yang diridhai Allh azza wa jalla.”(13) Ibnu Abbas berkata, “ Karena agama Islam telah disempurnakan maka tidak berhajat kepada tambahan atau potongan, tidak boleh ditambah atau dikurangi, dan Allah telah rela maka tidak akan murka untuk selamanya, pada orang yang memeluk agama Islam dan patuh pada tuntunannya.”Assuddi berkata, “Ayat ini turun di hari Arafah, dan sesudah ini tidak turun lagi ayat mengenai halal dan haram.” Ibnu Jarir berkata, “Rasulullah SAW wafat sesudah delapan puluh satu hari dari hari araofah itu.” Ketika turun ayat, “al yauma akmaltu lakum diinakum...” tepat pada hari Arafah yang disebut yaumul hajjil akbar, maka menangislah Umar RA, “Rasulullah bertanya, apa yang menyebabkan engkau menangis?” Jawab Umar, “Yang membuatku menangis, sebab kami akan selalu bertambah dalam tuntunan agama, adapun jika telah sempurna, maka tiada sesuatu sempurna melainkan akan berkurang.” “benar” jawab Nabi SAW.Sesuai dengan hadits yang berbunyi, “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya asing dan akan kembali menjadi asing, maka berbahagialah bagi orang-orang yang mengikutinya sehingga menjadi asing.”(13)                  

 I.5. Umat Pertengahan      Umat Islam adalah umat pertengahan. Yaitu umat yang memperhatikan dunia dan akherat. Bukan umat yang hanya sibuk dengan akherat seperti para rahib, pendeta dan bhiksu. Atau umat yang hanya sibuk dengan dunia seperti orang-orang yang berpaham materialisme, kapitalisme, konsumerisme dan permisifisme. “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al Qashash 77)Menurut Imam Ibnu Katsier maksudnya adalah beramal dengan harta dan nikmat yang dianugerhakan Allah untuk taat dan taqarrub kepada Allah SWT sehingga mendapatkan balasan di akherat. Serta tidak melupakan apa-apa yang dibolehkan oleh Allah SWT berupa makanan, minuman, tempat tinggal, nikah dan seterusnya. Karena Allah memiliki haq, diri kita memiliki haq, anak kita memiliki haq, istri kita memiliki haq dst.      

 Umat Islam adalah umat pertengahan antara ilmu dan amal. Umat Islam bukan umat yang hanya menuntut ilmu hingga berjilid-jilid tebalnya lalu tidak diamalkan atau diperjuangkan. Contohnya kita membaca tentang hukum rajam, qishash dan hukum tata negara, tapi sedikit yang mau meperjuangkannya. Sebab kita mencari aman dengan hanya mengamalkan ibadah-ibadah yang bersifat individual saja. Umat Islam juga bukan umat yang sibuk dengan amalan-amalan tanpa ilmu. Sebagaimana yang kita saksikan di negeri ini. Betapa banyak umat islam yang sibuk dengan dzikir-dzikir tertentu dan sholawat-sholawat tertentu tanpa dilandasi ilmu dan hujah yang kuat.“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”(Al Baqarah 143). Dalam tafsir Depag dinyatakan bahwa umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, Karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.Imam Ibnu Katsier menyatakan bahwa arti wasath adalah pertengahan yang terbaik.  Rasulullah bersabda, “Akan dipanggil Nabi Nuh AS pada hari kiamat, lalu ditanya, Apakah anda telah menyampaikan? Jawab Nuh, Ya. Lalu dipanggil kaumnya dan ditanya, Apakah Nuh telah menyampaikan perintah-Ku kepadamu?. Mereka menjawab, “Tidak ada orang yang mengajari kami.” Lalu Nuh ditanya, “Siapakah saksimu?” Jawab Nuh, “Muhammad dan umatnya.”. Maka itulah firman Allah, “Demikianlah aku jadikan kalian umat pertengahan…..dst.”“Pada hari kiamat nanti akan datang seorang Nabi hanya membawa dua orang umatnya, atau lebih dari itu, kemudian dipanggil kaumnya dan ditanya, “Apakah Nabi ini telah menyampaikan perintah kepadamu? Jawab mereka, “Tidk.” Lalu Nabi itu ditanya, “Apakah anda telah menyampaikan kepada kaummu? Jawabnya, “Ya” Dan siapakah saksimu? Jawabnya, “Muhammad dengan umatnya.” Lalu menyampaikan kepada kaumnya? Jawab mereka, “Ya’ Lalu ditanya, ‘Dari mana kalian mengetahui? Jawab umat Muhammad, “Telah datang kepada kami seorang Nabi dan memberitahu kepada kami bahwa Rasul telah menyampaikan perintah Allah kepada kaumnya, yaitu firman Allah : Wa kadzalika ja’alnaakum ummatan washatan…=Demikian aku jadikan umat yang adil……dst.(HR Ahmad)

  Penutup      Marilah kita kedepankan identitas kita sebagai muslim. Cintailah kaum muslimin, sayangilah mereka dan hargailah mereka. Senyumlah kepada mereka. Dengarkanlah pendapat mereka. Janganlah merasa lebih baik, tinggi hati dan sombong karena merasa sudah membaca & mengkaji banyak kitab. Karena hanyalah Allah-lah yang tahu dengan pasti kedudukan kita disisi-Nya. Wallahu a’lam.



1.Mushtafa Dieb Al Bugha Muhyiddin Mistu, Menyelami Makna 40 Hadits Rasululah Syarah Kitab Arba’in An Nawawiyah, Al I’tishom Cahaya Umat, Jakarta, 2005, hal. 7-8,  hadits riwayat  Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan  An Nasa’i dari Umar bin Khatab RA. Lihat juga Al Imam Yahya bin Syafaruddin An Nawawi, 40 Hadits tentang Kaidah-Kaidah Agung Agama Islam serta Penjelasannya, Al Qawam,  Cemani, 2001, Abdullah bin Ibrahim Al Anshari, hal.  43-45.

2. Ibid Abdullah bin Ibrahim Al Anshari hal.  47.

3. Ibid, Mushtafa Dieb,  hal. 13,  ibid n-Nawawi hal. 62-64.

4. Imam An Nawawi, Terjemah Syarah Shahih  Muslim, Mustaqiim, Jakarta, 1423 H, Buku I, Pentahqiq ‘Isham Ash Shababithi, Hazim Muhammad & ‘Imad ‘Amir, Hal. 349.

5. Ibid Abdullah bin Ibrahim Al Anshari hal.  63.

6. HR Bukhari dari Anas, Terjemah Syarah Shahih Muslim, hal. 329-331.

7. Tafsir Jalalain, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006, hal. 406-407.

8. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, PT. Bina Ilmu, Surabaya, hal. 120.

9. Terjemah Shahih Bukhari, Wijaya Jakarta, 1992, Bab Iman hadits no. 8,

10. Ibid hal. 49-50.

11. Ibid hal. 50.

12. Mustahafa Dieb Al Bugha, hal. 45

13. Terjemah Tafsir Ibnu Katsier jilid 3 hal. 20.

14. Ibid hal 20-21.


Published in : Artikel,
Kutip artikel Print kirim ke teman

Users' Comments (0) RSS feed comment

Tidak ada komentar

Beri komentar



mXcomment 1.0.2 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Monday, 11 June 2007
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 11 June 2007 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Dari Admin

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Selamat Datang di website perisaidakwah.com dilaunching sejak bulan Juni 2007. kirimkan kritik, saran bahkan artikel ke perisaidakwah@gmail.com
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

### Tidak dilarang menyebarkan isi dari web ini dengan tetap mencantumkan sumbernya####

Sindikasi

Yang online

Saat ini ada 1 tamu online

Jajak Pendapat

Siapakah Calon Presiden 2009 pilihan anda..??
 

Komentar

Muhammadiyah,...
Peran Mirza Ghulam Ahmad adalah setetes...
Selengkapnya
By Anti AHmadiyah

MAKNA SUNNAH DALAM...
kenapa harus ada sunnah dan...
Selengkapnya
By des pet

Muhammadiyah,...
Gelar anda sebagai alumni sebuah...
Selengkapnya
By reza

© 2009 perisaidakwah.com