| Views |
450  |
|
Taujih: Ustadz Abdul Muiz, MA Dakwah tidak mengenal udzur. Anas bin Malik mengatakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara kondisi fisik buta. Tapi pada perang Yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum hadir di tengah para mujahidin di medan perang, memakai baju besi, memegang bendera. Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, bukankah Rasulullah saw telah memberi udzur kepadamu? Ia menjawab, “Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan udzur kepada orang buta. Tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.” Alhamdulillah sekarang kita banyak. Coba kalau hanya tiga orang, tidak semangat.
Diceritakan lagi ketika tentara Holagu masuk ke kota Baghdad, terdapat seorang ulama yang juga buta. Dia menghadang tentara dengan mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri barangkali ada musuh yang kena. Secara logika, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang dalam kondisi seperti itu? Barangkali kalau dia duduk di rumah dia tidak dosa dan tidak ada pertanggung jawabannya di sisi Allah. Tapi masalahnya, ia ingin berkontribusi, ingin aktif, paling tidak ingin mati syahid. Dan benar ia mati syahid. Kisah kisah semacam ini banyak dalm kisah tabiin. Yang kita inginkan dalam tarbiyah adalah para kader dakwah seperti itu. Meskipun sudah udzur tetap saja bersemangat berjuang, berjuang, berjuang. Menurut Ahmad bin Hambal kepada muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” kapan seseorang bisa beristirahat?” Ia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” ketika salah satu kakinya menginjak surga. Artinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirahat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat. Itu kata Syaikh Ahmad Rasyid. Jadi barangsiapa yang mau istirahat silahkan mati. Meskipun setelah itu juga belum tentu bisa istirahat karena tidak ada amal. Untuk memenangkan dakwah di era siyasah seperti sekarang, setidaknya kuncinya ada 8 (delapan) yaitu : 1. Kita harus pastikan sepakat bahwa kita harus menerapkan manhaj tarbiyah. Apalagi kalau kita mengakui bahwa komunitas kita adalah komunitas Tarbiyah, di mana modal utama kita adalah kader. Kita untuk masalah dana, sarana, fasilitas masih sangat terbatas dibanding yang lain. Tapi kelebihan kita, keistimewaan kita adalah mesin dakwah kita yang dijalankan oleh kader. Untuk melahirkan kader yang berkualitas, yang tidak mengenal udzur, bahkan paling tidak Allah swt mengingatkan paling tidak perbandingan kapasitas kader kita 1 banding 10 dibanding aktifis lain. Sampai rasionya bisa satu banding seribu. Ketika Umar bin Khattab diminta mengirimkan pasukannya ke Mesir, ia hanya mengirim 1000 personil ditambah 4 orang. Di mana satu dari empat orang itu rasionya satu banding seribu. Itu hanya bisa dilakukan dengan tarbiyah, yang sistemik, terstruktur, terorganisir, dengan menggunakan manhaj. Ikhwah sekalian, Barangkali berdasarkan pengalaman, sebagai murabbi mengelola halaqah, apakah kita komitmen pada manhaj yang dikenal dengan manhaj 1427? Pedomannya itu atau feeling? Kembali pada manhaj, saya yakin betul ini bisa menjamin keberhasilan dakwah. Ini harus kembali pada manhaj. Bagaimana peran peran para kader bisa dilihat dalam manhaj. Barangkali ada keluhan liqo kering tandus, permasalahannya di mana? Itu karena kita tidak komitmen kepada manhaj. Bukankah tentang ruhiyah, fikriyah, amaliyah, masalah akhlak, keluarga, semuanya ada dalam manhaj dan terpenuhi dalam manhaj. Maka itulah yang disebut kembali pada asholah manhaj. Kita punya manhaj tarbiyah, yang waktu, pikiran, energinya, dipersiapkan lebih dari 10 tahun. Jihaz tarbawi alami, sudah bertahun-tahun. Di Indonesia juga bertahun-tahun. Lalu kita anggap seperti koran atau disimpen di lemari. Ini sangat urgen, kita harus kembali pada manhaj. 2. Fokus pada muwashofat yang berkait langsung terkait dengan Pemenangan Da’wah. Diantara banyaknya muwashofat kader da’wah, semestinya ada muwashofat yang urgent dikhususkan untuk beberapa waktu kedepan. Setiap unit pembinaan sebisa mungkin fokus pada hal-hal yang sifatnya operasional, yakni : Muwashofat Matinul Khuluq dan Muwashofat nafi’un lighairihi. Setiap kader dakwah fokus pada dua hal tersebut. Bukan yang lain tidak penting, tapi karena kondisi saat ini menuntut kita untuk fokus pada dua muwashofat tersebut. 3. Komitmen pada sarana halaqah sebagai sarana tarbiyah asasi. Saya kurang setuju dengan MLT. Digabung semua level, tidak mungkin tercapai muwashofat, kecuali dalam arahan umum. Karena apa dalam manhaj disebutkan, al usrah wasilatun ula wal aula... laisat badiilah anhaa... tidak bisa diganti, tidak ada alternatif lain. Kalau kita ingin, jamaah ini solid, maka ukuran soliditas jama’ah ini ada di unit-unit pembinaan. Kalau unit pembinaannya bermasalah, liqo hanya sekedar menyimpan badan, setor muka, menunggu taklimat, titik krusialnya di sini. Jangan juga seperti orang yang teriak teriak tarbiyah menyimpang, tidak ashalah, sementara dia tidak tarbiyah. 4. Disiplin dengan baramij halaqah. Kalau ada kondisi dominasi politik dalam halaqah, itu karena tidak disiplin dengan baramij. 5. Memprioritaskan aspek tarbiyah amaliyah, harakiyah. Maksudnya tidak hanya teori-teori. Bukan hanya membahas masalah terori tapi harus ada kaitannya dengan aplikasi. Hari ini mengerjakan apa mengerjakan apa. Dari penjelasan ini, apa yang harus di follow up untuk pemenangan dakwah. 6. Menggunakan sarana tarbawi selain halaqah yang efektif. 7. Melakukan evaluasi tarbawi secara berkala. Mana mungkin kita mengetahui kondisi kader, dari sisi kuantitas, apalagi kualitas kader. Kalau nambah, kalau berkurang? Kita tidak boleh menyalahkan musyarokah, Sampai saat ini kita belum bisa mendapatkan data pasti tentang jumlah kader. 8. Evaluasi tarbawi berbasis kinerja dan kontribusi kader pada pemenangan dakwah. Artinya kita harus modivikasi form mutabaah. Yang simpel yang singkat, yang berdampak langsung pada pemenangan dakwah. Form yang dibikin BPK bukan wahyu. Silahkan lakukan modifikasi sesuai kebutuhan lapangan. Wallahu’alam.
Users' Comments (0)  |
|
|