Statistik

Sejak Juni 2007
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini22
mod_vvisit_counterkemarin435
mod_vvisit_counterpekan ini457
mod_vvisit_counterbulan ini457
mod_vvisit_countertotal71181

Kami Peduli

  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
powered_by.png, 1 kB

Halaman Depan arrow Artikel arrow Sunatullah dalam Politik
Sunatullah dalam Politik PDF Cetak E-mail
Views 551    

oleh : DR.Daud Rasyid 

Selama ini "sunnatullah" yang dipahami kebanyakan orang ialah hukum alam seperti gaya gravitasi bumi, perputaran bumi mengelilingi matahari, air mencari tempat yang paling rendah dan lain-lain yang sejenis itu. Padahal sesungguhnya "sunnatullah" bukan itu saja. Justru yang paling banyak disorot Al-Qur`an sebagai "sunnatullah" ialah fenomena sosial yang berkaitan dengan prilaku manusia dan masyarakat yang jika melanggar "rambu-rambu" tertentu, akan berhadapan dengan ketentuan Allah yang pasti dan tidak akan beranjak walau setapakpun. Umpamanya, suatu kaum yang diuji Allah dengan nikmat dan kekayaan melimpah ruah, tetapi kesenangan itu mereka gunakan untuk kemurkaan Allah seperti hura-hura, foya-foya, dan mengumbar hawa nafsu, akan ditimpakan Allah kepada mereka bencana hebat. Firman-Nya:

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (al-Isra` 16).

Begitu juga manusia-manusia yang tidak mau menerapkan konsep Allah (baik yang bersifat hukum, ekonomi, politik, sosial, dll.) akan menghadapi kehidupan yang "sempit" seperti yang diterangkan Allah dalam surat Thaha: 124. Kehidupan seperti ini bisa diterjemahkan dengan: pertumbuhan ekonomi yang minus, utang melilitpinggang, kondisi sosial yang rawan, hukum yang tidak berwibawa, iklim politik yang mengerikan dengan perebutan kekuasaan, dsb.

Selain al-Qur`an, hadits Nabi sangat kaya dengan informasi semisal ini. Karena hadits, tidak hanya menceritakan keadaan real yang terjadi kala itu, tetapi juga menginformasikan masalah-masalah futuristik (nubu’at) yang sebagian besarnya telah teruji kebenarannya. Sekali lagi, sunnatullah yang diterangkan di dalam hadits juga berkaitan dengan "human behaviour". Memang biang kerusakan dan kehancuran di dunia ini tidak lebih dari manusia. Nah, jika ayat-ayat dan prediksi Nabi itu diaktualisasikan, maka tidak terlalu sulit menangkap kejadian serta kondisi sulit yang kita alami sekarang ini. Sudah tentu "sunnatullah" dalam politik itu sangat banyak dan tak mungkin diuraikan satu persatu dalam halaman ini.

Di antara "sunnatullah" itu, ialah bila keadilan tidak ditegakkan maka kehancuran tidak dapat dihindarkan. Ketidakadilan dapat dijumpai dalam berbagai sektor dan beraneka bentuk. Ada ketidakadilan dalam pemerataan hasil pembangunan, dimana yang menikmati hasil pembangunan adalah hanya segelintir saja dari rakyat. Sementara mayoritas rakyat tetap dalam garis kemiskinan dan memprihatinkan, bahkan dapat disebut sebagai "tamu" di negeri sendiri. Bentuk ini di negeri kita sudah dimaklumi adanya. Kerusuhan yang banyak terjadi di mana-mana -sejak masa kampanye pemilu, hingga akhir-akhir ini- membuktikan benarnya asumsi ini. Orang-orang yang merasa tidak turut mengecap hasil, sementara dia merasa ada haknya dalam hasil itu, biasanya akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Ada pula ketidakadilan dalam menilai dan memperlakukan pihak lain, seperti dalam pemilu misalnya. Ketidakadilan yang sangat mengancam, ialah perlakuan diskriminatif dalam menegakkan hukum. Pada prinsipnya, hukum/peraturan harus berlaku untuk semua orang tanpa kecuali. Setiap yang bersalah harus dikenakan hukuman. Tak seorangpun yang kebal terhadap hukuman. Maka di dalam Islam dikenal asas "equality among the law" (persamaan kedudukan di mata hukum) yang belakangan diadopsi oleh hukum barat sebagai salah satu asasnya. Prinsip ini di dalam Islam sangat dipegang teguh. Hingga Nabi Saw. sendiripun pernah mengeluarkan statemennya: "Law anna Fathimat binta Muhammad saraqat, laqatha`tu yadaha" (andaikan Fatimah, sang puteri Nabi mencuri, pasti kupotong tangannya)(H.R. al-Bukhari). Umar ibn al-Khattab menghukum putera gubernurnya di Mesir karena memukul seorang pemuda kristen Koptik dengan cambuk. Pemuda koptik itu disuruh Umar membalas pukulannya atas putera Gubernur. Tidak seorangpun yang kebal hukuman baik karena jabatan ataupun karena status sosial. Yang salah harus dipersalahkan demi keadilan.

Isyarat kehancuran akibat tidak menegakkan keadilan itu datang dari hadits Nabi sendiri, yaitu: "Sesungguhnya penyebab kehancuran bangsa-bangsa sebelum kamu dahulu, adalah (perlakuan yang diskriminatif) jika yang mencuri itu berasal dari rakyat jelata, mereka tegakkan hukum. Tetapi, jika pencurinya orang-orang elit, mereka bebaskan begitu saja…."

Dalam dunia peradilan, praktik "kolusi" atau "suap menyuap" bukan hal baru lagi. Kongkalikong antara hakim, jaksa dan pengacara sudah menjadi rahasia umum. Bahkan ada yang namanya "mafia peradilan" atau "putusan yang ditenderkan". Orang yang jelas-jelas bersalah bisa lepas dari hukum, sementara orang yang tidak berdosa, entah bagaimana skenarionya, bisa dijerat oleh hukuman dan masuk penjara. Kasus-kasus yang santer di media massa hanyalah sebagian kecil dari praktek kezaliman di masyarakat. Kasus terbunuhnya Udin di Yogyakarta penuh dengan misteri dan pembunuhnya konon belum didapatkan. Sementara yang dikorbankan adalah orang yang tak tahu menahu duduk persoalannya. Terbunuhnya empat mahasiswa Trisakti juga mengundang tandatanya besar. Siapa penembak yang sesungguhnya, apakah polisi atau ada pasukan lain? Lebih penting dari itu, kenapa di pengadilan yang dipersoalkan adalah kesalahan prosedur, padahal seharusnya siapa pelaku dan perancang pembunuhan?

Demikian juga banyaknya tahanan yang mati di dalam penjara tanpa diketahui duduk perkaranya. Pencuri seribu rupiah bisa mati digebuk massa, tetapi pencuri milyaran, bahkan trilyunan rupiah hidup bebas dan bahkan terhormat. Pembantai ribuan nyawa manusia di Tanjung Priok, Lampung dan Aceh sampai hari ini belum diajukan ke meja hijau. Kasusnya ditutup begitu saja, karena alasan politik. Dengan gampangnya, Try Sutrisno menjawab kepada wartawan: "Kasus Tanjung Priok sudah ditutup". Siapakah yang menutupnya? Kenapa ditutup dan apa alasannya? Kalau ada, kuatkah alasan itu? Padahal sebetulnya tak satu kejahatanpun dapat dinyatakan "selesai" sebelum perkaranya diputuskan di pengadilan.

Di era reformasi ini dalam pelepasan napol (narapidana politik) dan tapol (tahanan politik) saja sudah terlihat benih diskriminasi. Yang banyak dilepaskan adalah tahanan yang mendapat dukungan Amerika. Alasan pemerintah sementara ini, ialah bahwa tapol dan napol berkelas-kelas. Yang dibebaskan hanya napol yang terlibat penghinaan terhadap pemerintah Orde Baru. Sementara Tapol dan Napol Islam tetap mendekam di dalam sel. Kenapa? Karena mereka tidak masuk daftar "pesanan", dan orang Islam tidak punya pembela, kecuali Allah swt. Kasus ini juga membuktikan bahwa persoalan Islam masih dianggap "berat" oleh penguasa. Tahanan yang dipenjarakan karena memperjuangkan Islam masih menempati urutan paling berbahaya dalam pandangan mereka. Untuk itu pelepasannya tidak bisa dengan segera. Sementara oposisi yang didukung Amerika, pemerintah enggan menghalanginya. Nah sekarang, sesudah dilepaskan, Pakpahan justru jadi "PR" pemerintah. Di sana sini membuat move dan psy-war. Itu rasanya tidak akan terjadi pada tapol dan napol Islam yang istiqomah dengan Islamnya. Jadi selama ketidakadilan masih mendominasi dan keadilan tidak kunjung tegak, maka sangat dikhawatirkan ancaman Allah tadi akan jadi kenyataan.

Kufur ni`mat. Selain ketidakadilan, kufur terhadap ni`mat Allah juga berpotensi mendatangkan kemurkaan Allah alias bencana. Karunia Allah tidak semata-mata bukti atas keridhaan Allah pada manusia. Tetapi bisa menjadi ujian bagi kecerdasan manusia. Bila mereka kurang pandai bersyukur, maka nikmat tadi bisa saja dicabut Allah secara mendadak (uncountable) dan akhirnya mereka jatuh dalam kemelaratan yang berkepanjangan. Bentuk-bentuk kufur ni`mat itu dalam kehidupan antara lain:

(a) Memandang bahwa kesuksesan yang dicapai manusia adalah karena kehebatan dan keahliannya (human ability) semata. Padahal dalam kacamata Islam, semua kesuksesan manusia adalah karena kemurahan Allah swt. Ketika Indonesia berada pada puncak kejayaannya, penguasanya sering memberi kesan bahwa keberhasilan itu adalah lantaran kehebatannya dan ketepatan strategi pembangunan. Belakangan baru terbukti bahwa kejayaan itu semuanya adalah semu. Kemewahan itu berasal dari utang luar negeri yang ratusan miliar dollar US. Berpestapora dengan pinjaman sementara yang akan memikulnya adalah rakyat kecil yang tidak merasakan sedikitpun hasil pinjaman itu.

(b) Menggunakan kekayaan materi itu untuk sesuatu yang dimurkai Allah. Konsekuensi sikap syukur atas ni`mat ialah mengalokasikannya di jalan Allah. Tentu maksudnya tidak saja membangun masjid, sebab Islam tidak hanya berputar di sekitar masjid. Dunia pendidikan kita masih jauh ketinggalan dari negara-negara yang sekelas dengan kita. Di negara miskin seperti Mesir saja, misalnya, Al-Azhar sanggup memberikan pendidikan gratis dan berkualitas kepada rakyat Mesir - dan pendatang dari dunia Islam, termasuk dari Indonesia- mulai dari SD sampai ke tingkat "doktor". Di masa jaya-jayanyapun, pemerintah tidak memberikan pendidikan gratis kepada rakyat. Pendidikan yang adapun tidak membuat rakyat menjadi cerdas, saking rendahnya mutu pendidikan itu. Akhirnya pendidikan berkualitas diserobot oleh lembaga-lembaga swasta untuk kepentingan bisnis dan missinya.

Kesehatan tidak kurang parahnya. Walaupun ada puskesmas tersebar sampai ke desa-desa, namun itu sangat tidak memadai bila dibanding dengan kadar ni`mat yang diberikan Allah. Harga obat melambung tinggi. Padahal di negara lain, subsidi terhadap obat itu demikian besarnya, sehingga rakyat tidak merasa berat untuk berobat. Demikian pula memberdayakan ekonomi rakyat dengan membagi-bagi ni`mat itu secara merata kepada seluruh rakyat, agar tidak hanya dirasakan segelintir anak bangsa, apalagi hanya dinikmati oleh orang asing yang kemudian menjadi warga negara RI. Namun yang terlihat di depan mata kepala kita, nikmat yang melimpah ruah itu justru dibuang ke tempat-tempat maksiat; meja perjudian, diskotik, panti pijat, pesta-pesta mewah, tumbuh dan semaraknya tempat-tempat prostitusi.

(c) Pemborosan (tabzir atau mubazzir). Pemborosan adalah watak yang melekat dalam pemerintahan orde baru dan menjangkit pada orang-orang kayanya. Bukan rahasia lagi dalam suatu instansi, bila diakhir tahun anggaran belanja, tidak boleh ada yang tersisa. Jika masih tersisa, itu harus dihabiskan dengan cara apapun jua. Di tahun 1997 dimana rakyat sedang rentan-rentannya menanggung beban krisis moneter, kita temukan ibu-ibu dharmawanita dari suatu departemen melakukan shoping ke Bangkok dan Singapura. Apakah anda kira mereka ini pergi dengan biaya dari kantong suaminya masing-masing? Impossible!

Dua bencana: kelaparan dan ketakutan:

Kufur ni`mat dalam perspektif Al-Qur’an, akan mendatangkan dua bencana besar: Pertama, kelaparan (al-ju`) yang bisa diterjemahkan dengan krisis pangan, sembako, dan krisis moneter. Walaupun secara logika, negeri agraris seperti Indonesia yang curah hujannya relatif tinggi, tanah pertaniannya terhampar luas lagi subur, tidak mungkin mengalami krisis pangan. Namun kenyataannya kita masih mengimport beras dari luar. Memang kalau ingin menemukan keajaiban-keajaiban dunia, datanglah ke Indonesia, niscaya anda akan menemukan keanehan-keanehan dunia, baik keajaiban alamnya maupun keanehan manusianya. Kedua, rasa ketakutan, kekhawatiran dan tidak aman (al-khauf). Kedua bencana ini sudah terjadi secara real dalam masyarakat. Rasa ketakutan yang mencekam, akibat kerusuhan massal, issu ancaman bom, serta ketakutan akan tindakan kejahatan (fear of crime) seperti penodongan, perkosaan, pembunuhan, dsb. Sehingga membuat orang hidup tidak tenteram, tidak merasa aman, atau senantiasa dihantui perasaan cemas dan khawatir.

Hal inilah yang diperingatkan Allah dalam salah satu ayat-Nya:

"Dan Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang tadinya aman sentosa, memperoleh rezeki yang melimpah ruah dari berbagai penjuru, tetapi (penduduk) negeri itu kufur terhadap ni`mat Allah, maka Allah merasakan kepada mereka kelaparan dan rasa takut, akibat apa yang mereka perbuat." (an-Nahl: 112)

Namun pada ayat lain, Allah swt memberikan solusi atas dua bencana tersebut dalam sepotong ayat. Mari kita simak ayat berikut:

"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan yang memiliki baitullah ini, yang memberi mereka makan dari kelaparan dan memberi rasa aman dari ketakutan." (Quraisy: 3-4).

Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa solusi yang hakiki dari krisis di atas adalah memperbaiki hubungan dengan Allah swt yang dibahasakan dengan ungkapan "menyembah Allah". Selama ini kita memang sudah melakukan penyembahan kepada-Nya, namun penyembahan itu masih sektoral dan parsial. Kita menyembah Allah hanya di dalam shalat saja. Di luar shalat dan ibadah seremonial lainnya, cendrung kita tidak menyembah Allah. Buktinya, kita masih enggan menerapkan sistem yang dibangun Allah swt. Dan kita masih lebih percaya pada sistem yang kita ciptakan sendiri. Bukankah ini artinya, kita tidak percaya bahwa sistem yang diturunkan Allah itu efektif untuk mengatur kehidupan kita. Jadi pada intinya, adalah menyembah Allah secara totalitas.

Begitulah sunnatullah. Semoga pengalaman masa lalu jadi pelajaran berharga bagi kita semua, Amiin.

sumber : http://daudrasyid.com/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=1 

 

Published in : Artikel,
Kutip artikel Print kirim ke teman

Users' Comments (0) RSS feed comment

Tidak ada komentar

Beri komentar



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Ditulis Oleh admin   
Thursday, 21 August 2008
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 22 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Dari Admin

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Selamat Datang di website perisaidakwah.com dilaunching sejak bulan Juni 2007. kirimkan kritik, saran bahkan artikel ke perisaidakwah@gmail.com
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

### Tidak dilarang menyebarkan isi dari web ini dengan tetap mencantumkan sumbernya####

Sindikasi

Yang online

Komentar

Muhammadiyah,...
Peran Mirza Ghulam Ahmad adalah setetes...
Selengkapnya
By Anti AHmadiyah

MAKNA SUNNAH DALAM...
kenapa harus ada sunnah dan...
Selengkapnya
By des pet

Muhammadiyah,...
Gelar anda sebagai alumni sebuah...
Selengkapnya
By reza

© 2008 perisaidakwah.com