| Views |
273  |
|
Seputar Puasa dan Bulan Ramadhan Oleh : Farid Nu'man (Lanjutan …) Hadits ketujuh belas: Puasanya orang bepergian dinilai sama dengan orang yang tidak puasa ketika mukim Dari Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: صَائِمُ رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ كَالْمُفْطِرِ فِي الْحَضَرِ "Puasa Ramadhan bagi orang yang sedang safar, sama halnya dengan yang tidak puasa ketika mukim.” (HR. An Nasa’i, Kitab Ash Shiyam Bab Dzikr Qaulihi Ash Sha’im fis Safar kal Mufthir fil hadhara,Juz. 7, Hal. 427, No hadits. 2247. Ibnu Majah, Kitab Ash Shiyam Bab Maa Ja’a fil Ifthar fis Safar, Juz. 5, Hal. 171, No hadits. 1656. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, Juz. 4, Hal. 244)
Imam al Baihaqi berkata وهو موقوف وفي اسناده انقطاع وروى مرفوعا واسناده ضعيف Hadits ini mauquf, sanadnya terputus. Sedangkan yang riwayat marfu’ sanadnya dha’if. (Ibid) Hadits mauquf adalah hadits yang hanya sampai atau terhenti pada sahabat nabi saja, tidak sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Keterangan tentang hadits marfu’ lihat hal. 21) Syaikh al Albany berkata و هذا إسناد ضعيف و له علتان :الأولى : الانقطاع لأن أبا سلمة لم يسمع عن أبيه كما في " الفتح " .الثانية : أسامة بن زيد في حفظه ضعف ، و قد خالفه الثقة و هو ابن أبي ذئب فرواهعن الزهري ابن شهاب به موقوفا “Sanad hadits ini dha’if karena dua faktor. Pertama, sanadnya terputus, lantaran Abu Salamah tidak pernah mendengar langsung dari Ayahnya sebagaimana diterangkan dalam “Al Fath.” Kedua, Usamah bin Zaid lemah hafalannya, dan yang lebih terpercaya darinya telah menyelisihi dirinya yakni Ibnu Abi Dzi’b, dan Ibnu Syihab Az Zuhri telah meriwayatkan darinya secara mauquf. (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz.2 Hal. 75, No hadits. 498) Imam Asy Syaukani mengutip dari Imam Ibnu Hajar , juga mengatakan bahwa sanad hadits ini terputus, karena Abu Salamah belum pernah dengar langsung dari ayahnya tentang hadits ini. (Nailul Authar, Juz. 7, Hal, 99. Al Maktabah Asy Syamilah) Hadits kedelapan belas: Berpuasa Ramadhan di Madinah lebih baik … رمضان بالمدينة خير من ألف رمضان فيما سواها من البلدان ، و جمعة بالمدينةخير من ألف جمعة فيما سواها من البلدان “Ramadhan di Madinah lebih baik dibanding seribu Ramadhan di tempat lain dan melakukan shalat Jum’at di Madinah lebih baik seribu kali Jum’at dibanding Jum’at di tempat lain.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Juz. 1, Hal. 493) Dalam sanad hadits ini terdapat Abdullah bin Katsir. Imam Adz Dzahabi berkata: “Dia (Abdullah bin Katsir) tidak diketahui. Hadits di atas batil dan sanadnya sangat gelap (tidak jelas). Imam Dhiya’uddin tidak menempatkan hadits ini dalam hadits-hadits pilihan, karena Abdullah bin Katsir meriwayatkannya secara tunggal dari Abdullah bin Ayyub al Makhrami.” (Imam Adz Dzahabi, Mizan al I’tidal, Juz. 2 Hal. 473. Darul Ma’rifah Lithiba’ah wan Nasyr, Beirut – Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah) Perkataan Imam Adz Dzahabi di atas juga disepakati oleh Imam Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dalam Lisanul Mizan, Juz. 2, Hal. 55. Al Maktabah Asy Syamilah Syaikh al Albany Rahimahullah mengkategorikan hadits ini sebagai hadits batil, walau pun ada riwayat lain yang serupa, namun semua riwayat tersebut diriwayatkan oleh perawi dha’if (lemah hafalannya), majhul (tidak dikenal) bahkan pemalsu hadits. (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 330, No. 83) Selesai. Hadits kesembilan belas: Puasa Ramadhan di Mekkah lebih baik …من أدرك رمضان بمكة فصام و قام منه ما تيسر له ، كتب الله له مائة ألف شهررمضان فيما سواها ، و كتب الله له بكل يوم عتق رقبة ، و كل ليلة عتق رقبة ، وكل يوم حملان فرس في سبيل الله ، و في كل يوم حسنة ، و في كل ليلة حسنة “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan di Mekkah dan shalat malam sesuai kemampuannya, maka dia dicatat seperti melakukan seratus ribu kali puasa Ramadhan di luar Mekkah, dan dicatat baginya setiap hari seperti membebaskan satu budak, dan malamnya seperti membebaskan satu budak, dan setiap harinya mendapatkan pahala orang yang mempersiapkan kuda perang fisabilillah, dan setiap hari adalah satu kebaikan dan setiap malam satu kebaikan pula. (HR. Sunan Ibnu Majah, Kitab Al Manasik Bab Shiyam Syahri Ramadhan bi Makkah, Juz. 9, Hal. 265, No hadits. 3108) Dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahim bin Zaid al ‘Ammy. Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang dia: “Dia bukan apa-apa.” Sementara Imam Abu Zur’ah mengatakan: “Dha’iful Hadits (haditsnya lemah).” Abdurrahman bertanya kepada ayahnya tentang dia: “Haditsnya ditinggalkan.” (Imam Abu Hatim ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 5 Hal. 339-340. Al Maktabah Asy Syamilah) Sementara dalam Taqribut Tahdzib, disebutkan bahwa Imam Yahya bin Ma’in menyebut Abdurrahim bin Zaid al ‘Ammy adalah pendusta dan matruk (ditinggalkan haditsnya/semi palsu). (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, Juz. 1, Hal. 598. Dar al Maktabah al ‘Ilmiyah, Beirut – Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah) Sementara Syaikh al Albany mengatakan hadits ini maudhu’ (palsu). Beliau berkata:و هذا موضوع ، و لوائح الوضع عليهظاهرة ، و آفته عبد الرحيم هذا ، فقد قال ابن معين فيه : " كذاب خبيث " . و قالالنسائي : " ليس بثقة و لا مأمون " . و قال ابن حبان ( 2 / 152 ) : " يروي عنأبيه العجائب مما لا يشك من الحديث صناعته أنها معمولة أو مقلوبة كلها " . ثمرأيت الحديث في " العلل " لابن أبي حاتم ، و قال ( 1 / 250 ) : " هذا حديث منكر، و عبد الرحيم بن زيد متروك الحديث " . “Ini adalah maudhu’ (palsu), barangkali kepalsuannya sangat nampak, yaitu terlihat pada kecacatan Abdurrahim. Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Pendusta yang busuk.” Imam An Nasa’i berkata: “Tidak bisa dipercaya dan tidak amanah.” Berkata Ibnu Hibban (2/152): “Dia meriwayatkan dari ayahnnya keanehan-keanehan yang tidak diragukan lagi sebagai hadits buatannya sendiri, dikerjakannya, dan semuanya terbalik.” Kemudian saya (Syaikh al Albany) melihat hadits ini dalam kitab Al ‘Ilal (1/250) karya Abu Hatim dia berkata: “Hadits ini munkar, dan Abdurrahim bin Zaid adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan/tidak dipakai).” (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 331, No hadits. 832. Lihat juga Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 2 hal. 161) Catatan: Dengan jelasnya kelemahan (bahkan palsu) hadits-hadits keutamaan puasa Ramadhan di Mekkah dan Madinah, maka kita simpulkan bahwa keutamaan puasa Ramadhan ditentukan oleh kualitas puasa itu sendiri. Sedangkan, untuk keutamaan shalat di masjidil haram (Mekkah) dan masjid nabawi (Madinah) telah diterangkan dalam hadits shahih. Hadits shahih itulah yang kita jadikan alasan. Hadits-hadits tersebut adalah عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Shalat di masjidku ini (masjid nabawi) lebih baik seribu kali shalat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram.” (HR. Bukhari, Kitab Al Jum’ah Bab Fahdlush Shalah fi Masjid Makkah wal Madinah, Juz. 4 Hal. 377 No hadits. 1116) Kenapa dikecualikan masjidil haram? Karena shalat di masjidil haram justru seratus kali lebih utama dibanding di masjid nabawi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد إلا المسجد الحرام و صلاة في المسجد الحرام أفضل من صلاة في مسجدي هذا بمائة صلاة . “Shalat di masjidku (masjid nabawi) ini lebih utama seribu kali shalat dibanding shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil haram. Sedangkan shalat di masjidil haram lebih utama seratus kali shalat di masjidku ini. (HR. Ahmad, Juz. 32 Hal. 343, No hadits. 15533. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, lihat Fathul Bari, Juz. 4, Hal. 191. Syaikh al Albany mengatakan: Shahih. Lihat Shahih wa Dha’if Al Jami’ Ash Shaghir, Juz. 16, Hal. 10, No hadits. 7288. Al Maktabah Asy Syamilah) Hadits Keduapuluh: Puasa Ramadhan tidak sampai Allah Ta’ala tanpa zakat شهر رمضان معلق بين السماء و الأرض ، و لا يرفع إلى الله إلا بزكاة الفطر “Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, tidak sampai kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah.” Hadits ini dha’if. Imam Ibnul Jauzi berkata dalam Al Wahiyat: لا يصح فيه محمد بن عبيد البصري مجهول .“Tidak shahih, di dalamnya ada Muhammad bin ‘Ubaid Al Bashri, dia majhul (tidak dikenal).” (Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, Juz. 4, Hal. 219) Imam Ibnu Hajar berkata: لا يتابع عليه .“Hadits ini tidak ada penguatnya.” (Imam Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, Juz. 2, Hal. 432) Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Nashirudin al Albany mengatakan hadits ini dha’if. Dia juga mengatakan: ثم إن الحديث لو صح لكان ظاهر الدلالة على أن قبول صوم رمضان متوقف على إخراجصدقة الفطر ، فمن لم يخرجها لم يقبل صومه ، و لا أعلم أحدا من أهل العلم يقولبه ، و التأويل الذي نقلته آنفا عن المقدسي بعيد جدا عن ظاهر الحديث ، على أنالتأويل فرع التصحيح ، و الحديث ليس بصحيح .أقول هذا ، و أنا أعلم أن بعض المفتين ينشر هذا الحديث على الناس كلما أتى شهررمضان ، و ذلك من التساهل الذي كنا نطمع في أن يحذروا الناس منه فضلا عن أنيقعوا فيه هم أنفسهم ! “Jika hadits ini shahih, maka menurut zhahirnya menunjukkan bahwa ibadah puasa baru diterima jika sudah mengeluarkan zakat fitrah, bagi yang belum menunaikan zakat fitrah maka puasanya tidak diterima, saya tidak mengetahui satu pun ulama yang berpendapat demikian. Pemahaman yang saya kutip barusan saya ambil dari Al Muqaddasy adalah takwil yang sangat jauh dari teks hadits, itu jika haditsnya shahih, ternyata haditsnya tidak shahih. Saya katakan demikian, karena saya mengetahui bahwa sebagian mufti (ahli fatwa) ada yang menyebarkan hadits ini ketika masuknya bulan Ramadhan. Itu adalah salah satu bentuk menggampangkan masalah yang saya khawatirkan, padahal seharusnya mereka hati-hati dalam mengutarakannya!” (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 1, Hal. 120, No. 43.Al Maktabah Asy Syamilah) Hadits Kedua puluh satu: Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’ban wa balighna fi Ramadhan Hadits ini sangat terkenal, sering terdapat dalam spanduk dan majalah-majalah Islam menjelang datangnya Ramadhan.عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika masuk bulan Rajab, dia berkata: “Allahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Sya’ban wa Barik lanaa fii Ramadhan.” (Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban wa Berkahilah kami di bulan Ramadhan). (HR. Ahmad, Juz. 5, Hal. 260, No hadits. 2228. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, Juz. 9, Hal. 139, No hadits. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, “Wa Balighnaa fii Ramadhan.” Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Juz. 8, Hal. 331, No hadits. 3654) Dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi. Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: “Munkarul hadits.” (haditsnya munkar) (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Al Maktabah Asy Syamilah) Imam An Nasa’i berkata: “Aku tidak tahu siapa dia.” Imam Adz Dzahabi sendiri mengatakan: “Dha’if.” Sedangkan tentang Ziyad an Numairi beliau berkata: “Ziyad dha’if juga.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 2, Hal. 65) Imam Abu Daud berkata: “Aku tidak mengenal haditsnya.” Sementara Imam An Nasa’i dalam kitabnya yang lain, Adh Dhu’afa, mengatakan: “Munkarul hadits.” Sedangkan dalam Al Kuna dia berkata: “Tidak bisa dipercaya.”(Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz. 3, Hal. 263) Imam al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi: “Dia dha’if menurut jumhur (mayoritas ahli hadits).” (Majma’ az Zawaid, Juz. 10, Hal. 388. Al Maktabah Asy Syamilah) Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa penduduk Bashrah meriwayatkan dari Ziyad hadits-hadits munkar. Imam Yahya bin Ma’in meninggalkan hadits-haditsnya, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah (dalil). Imam Yahya bin Ma’in juga berkata tentang dia: “Tidak ada apa-apanya.” (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 1, Hal. 306) Sementara dalam Al Jarh wat Ta’dil, Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dha’if.” (Imam Abu Hatim ar Razi, Al jarh Wat Ta’dil, Juz. 3, Hal. 536) Syaikh al Albany mendha’ifkan hadits ini. (Misykah al Mashabih, Juz. 1, Hal. 306, No. 1369) Wallahu A’lam
Users' Comments (0)  |
|
|