| Views |
196  |
|
Seputar Puasa dan Bulan Ramadhan Oleh : Farid Nu'man (Lanjutan …) Hadits keempat belas: keutamaan berpuasa sehari di bulan Muharam (1) عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : « من صام يوم عرفة كان له كفارة سنتين ، ومن صام يوما من المحرم فله بكل يوم ثلاثون يوما » Dari Ibnu Abbas dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang puasa pada hari Arafah, maka baginya penghapusan dosa selama dua tahun, barangsiapa yang puasa sehari pada bulan Muharam maka baginya sama dengan puasa tiga puluh hari.” (HR. Ath Thabrani, Al Mu’jam ash Shaghir, Juz. 3, hal. 100, No hadits. 960. Al Maktabah Asy Syamilah) Dalam sanad hadits ini ada periwayat bernama Al Haitsam bin Habib, Salam ath Thawil, dan Laits bin Abi Sulaim. Imam Hakim mengatakan tentang Salam ath Thawil: “Hadits-haditsnya palsu.”
Sedangkan Ibnu Kharasy berkata: “dia pendusta.”Ada pun Al Haitsam bin Habib ini disebut,”Orang yang tertuduh.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz.4 Hal. 230) Syaikh al Albany mengatakan bahwa hadits di atas adalah maudhu’ (palsu). Salam ath Thawil adalah seorang tertuduh, sedangkan Ibnu Abi Sulaim adalah dha’if. Sementara Imam Adz Dzahabi mengatakan hadits ini batil.” (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 1 hal. 489, No hadits. 412)Laits bin Sulaim ini pada akhir hayatnya mengalami perubahan, ia banyak lupa dengan haditsnya sendiri. Membolak-balik sanad, memarfu’ kan yang mursal, Sehingga Para imam seperti Ibnul Qathan, Ibnul Mahdi, Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hambal meninggalkan haditsnya. (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 2 hal. 231) Marfu’ adalah hadits yang sanadnya dianggap sampai hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mursal adalah hadits yang sanadnya terputus setelah tabi’in, tanpa melalui sahabat nabi.Catatan:Sebenarnya untuk puasa Arafah, ada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan para pengarang kitab Sunan. Lebih baik kita mendasarkan ibadah puasa Arafah kepada hadits shahih tersebut, bukan hadits di atas. Hadits tersebut sangat panjang, saya kutip seperlunya saja, yakni: Dari Abu Qatadah, dia berkata : وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَة Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang puasa Arafah, dia menjawab: “Dapat menghapuskan dosa tahun lalu dan setelahnya.” (HR. Muslim, Kitab Ash Shiyam Bab Istihbab Shiyam Tsalatsah Ayyam min Kulli Syahrin wa Shaum Yaum ‘Arafah, Juz. 6 Hal. 56, No hadits. 1977) Hanya saja keutamaan puasa ‘Arafah ini tidak berlaku bagi yang sedang wukuf di ‘Arafah. Bahkan Imam at Tirmidzi membuat Bab berjudul: كَرَاهِيَةِ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ “Makruhnya puasa ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah.” (Sunan At Tirmidzi, Juz. 3 Hal. 211)Selesai. Hadits kelima belas: Keutamaan berpuasa sehari di bulan Muharam (2) Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda مَنْ صَامَ يَوْمَا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلاثِينَ حَسَنَةً. “Barangsiapa yang berpuasa sehari pada Muharam maka baginya tiga puluh kebaikan pada tiap harinya.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam al Kabir, Juz. 9, Hal. 285, No hadits. 10919) Menurut Syaikh al Albany hadits ini maudhu’ (palsu). Para periwayatnya sama dengan hadits di atas. (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 1 Hal. 490. No hadits. 413). Imam Al Munawi berkata tentang Al Haitsam bin Habib: قال الهيثمي : فيه الهيثم بن حبيب ضعفه الذهبي. Berkata Imam Nurudin Al Haitsami: “Dalam sanad hadits ini terdapat Al Haitsam bin Habib, Imam Adz Dzahabi telah mendha’ifkannya.” (Imam al Munawi, Faidhul Qadir, Juz.6, Hal. 210. No hadits. 8782. Cet.1, Darul Kutub al ‘Ilmiyah Beirut – Libanon. 1994M-1415H. Al Maktabah Asy Syamilah) Catatan: Sebenarnya ada dalil shahih tentang puasa bulan Muharam khususnya tanggal Sembilan (puasa tasu’a) dan sepuluh (puasa ‘Asyura). Keduanya sunah.Dari Al Hakam bin al A’raj dia berkata: bahwa Ibnu ‘Abbas Radhilallahu ‘Anhu berkata kepadaku: إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمُحَرَّمِ فَاعْدُدْ وَأَصْبِحْ يَوْمَ التَّاسِعِ صَائِمًا قُلْتُ هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ قَالَ نَعَم Jika kamu melihat hilal (bulan sabit) bulan Muharam, maka hitunglah, dan hendaklah puasa pada hari ke Sembilan. “ Aku bertanya: “Apakah Rasuluallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpuasa pada hari itu?” Dia menjawab: “Ya.” (HR. Muslim, Kitab Shiyam Bab Ayyu Yaumin Yushamu fii ‘Asyura, Juz. 5, Hal. 478, No hadits. 1915) Imam An Nawawi Rahimahullah berkata :قَالَ الشَّافِعِيّ وَأَصْحَابه وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَآخَرُونَ : يُسْتَحَبّ صوم التَّاسِع وَالْعَاشِر جَمِيعًا ؛ لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ الْعَاشِر ، وَنَوَى صِيَام التَّاسِع Berkata Asy Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, dan Ishaq, dan lain-lain: “Disunahkan berpuasa pada hari kesembilan dan sepuluh secara bersamaan, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari ke sepuluh, dan berniat berpuasa pada hari kesembilannya.” (Imam An Nawawi, Syarh ‘alas Shahih Muslim, Juz.4 hal. 121) Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan puasa pada hari ‘Asyura. Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, itu hanya bagi yang mau saja, jika mau puasa maka puasalah, jika tidak maka berbukalah.” (HR. Bukhari , Kitab Ash Shiyam Bab Shiyam Yaumu ‘Asyura, Juz.7, Hal. 124, No hadits. 1862) Dari ‘Aisyah Radhilallahu ‘Anha كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ Orang-orang Quraisy pada zaman jahiliyah berpuasa pada hari ‘Asyura, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berpuasa. Ketika sampai di Madinah, dia berpuasa dan memerintahkan pada hari itu. Tapi ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, dia meninggalkan puasa tersebut. Jika ada mau maka puasalah, jika tidak maka tinggalkanlah.” (HR. Bukhari, Kitab Ash Shiyam Bab Shiyam Yaumu ‘Asyura, Juz.7, Hal. 125, No hadits. 1863) Imam Ibnu Hajar berkata وَنَقَلَ اِبْن عَبْد الْبَرّ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ الْآن لَيْسَ بِفَرْضٍ وَالْإِجْمَاع عَلَى أَنَّهُ مُسْتَحَبّ Ibnu Abdil Barr telah mengutip adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa sekarang puasa ‘Asyura tidaklah wajib, mereka ijma’ bahwa itu adalah sunnah. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 6 Hal. 282 No hadits. 1862. Al Maktabah Asy Syamilah) Hadits keenam belas: Sunahnya puasa Rabu dan Kamis عن ابن عباس ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من صام الأربعاء والخميس كتب له براءة من النار » Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang berpuasa hari Rabu dan Kamis, maka dia dihindarkan dari api neraka.” (HR. Musnad Abu Ya’ala, Juz.11, Hal. 393, No hadits. 5506) Dalam hadits ini ada periwayat bernama Abu Bakar bin Abi Maryam, seorang perawi dha’if. Berkata Imam Nuruddin al Haitsami: “Munkarul hadits (haditsnya munkar).” (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawa’id, Juz. 1, Hal. 188) Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata tentang dia dalam catatan kaki kitab Al Muhalla: “Dia adalah orang yang buruk hafalannya, banyak keraguan dan haditsnya ditinggalkan, namun tidak satu pun menuduhnya sebagai pendusta.” (Imam Abu Muhammad bin Hazm, Al Muhalla, Juz. 1, Hal. 231. Darul Fikr. Tahqiq: Syaikh Ahmad Muhammad Syakir) Imam Asy Syaukani berkata tentang dia: “Dha’if.” (Nailul Atuthar, Juz. 6, Hal. 241) Imam Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa dia dha’if, sedangkan Imam Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia, “Dha’iful hadits munkarul hadits.” (Imam Ibnu Hibban, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 2, Hal. 405) Syaikh al Albany menyatakan kedha’ifan hadits ini. (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 57, No. 480)Catatan: Selain secara sanad hadits di atas dha’if, teksnya pun bertentangan dengan hadits shahih yang menyunnahkan berpuasa pada hari Senin dan Kamis, bukan Rabu dan kamis.Seorang pelayan dari Usamah bin Yazid pergi bersama Usamah menuju Wadi al Qurra dalam rangka memungut kekayaan untuknya, saat itu dia sedang puasa Senin dan Kamis, maka pelayannya bertanya kepadanya (Usamah) لِمَ تَصُومُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ وَأَنْتَ شَيْخٌ كَبِيرٌ فَقَالَ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ وَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ Kenapa Anda berpuasa senin dan kamis, padahal Anda sudah tua?” Dia menjawab: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpuasa hari Senin dan Kamis,” ketika ditanya hal itu dia menajwab: “Sesungguhnya amal para hamba dicatat pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shaum Bab Fii Shaumi al Itsnain wal Khamis, Juz. 6, Hal. 416, No hadits. 2080. Syaikh al Albany berkata: Shahih. Lihat Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, Juz. 5, hal. 436, No hadits. 2436) Berkata Imam Abu Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi: وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى اِسْتِحْبَاب صَوْم يَوْم الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيس لِأَنَّهُمَا يَوْمَانِ تُعْرَض فِيهِمَا الْأَعْمَال . “Hadits ini menunjukkan disunahkannya puasa hari Senin dan Kamis, karena kedua hari itu adalah waktu dicatatnya amal.” (Imam Abu Thayyib, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 5 Hal. 316 No hadits. 2080).
Users' Comments (0)  |
|
|