| Views |
231  |
|
Seputar Puasa dan Bulan Ramadhan Oleh : Farid Nu'man (Lanjutan …)
Hadits kesepuluh: berbuka puasa dengan tiga butir kurma عن أنس ، قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم « يحب أن يفطر على ثلاث تمرات أو شيء لم تصبه النار » Dari Anas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai berbuka puasa dengan tiga butir kurma atau apa saja yang tidak terpanggang api.” (HR. Abu Ya’la, Juz. 7, Hal. 331, No. 3217. Al Uqaili, Adh Dhu’afa, Juz.3, Hal. 50) Dalam rangkaian sanad hadits ini ada perawi bernama Abdul Wahid bin Tsabit al Bahili. Imam Bukhari berkata tentang beliau: “Munkarul Hadits.” (hadits darinya mungkar) (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 2, Hal. 671. Darl Ma’rifah Lithiba’ah wan Nasyr, Beirut-Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah)
Tentang hadits di atas, Imam Al ‘Uqaili berkata: قال العقيلي لا يتابع عليه“ Hadits ini tidak memiliki penguat.” (Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Lisanul Mizan, Juz. 2, Hal. 135. Al Maktabah Asy Syamilah) Tentang hadits di atas, Imam Nuruddin al Haitsami berkata: رواه أبو يعلي وفيه عبد الواحد بن ثابت وهو ضعيف. “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, di dalamnya ada Abdul Wahid bin Tsabit, dia itu dha’if.” (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 3, Hal. 155. Darul Kutub al ‘Ilmiyah, Beirut-Libanon. 1988M-1408H. Al Maktabah Asy Syamilah) Sedangkan Syaikh al Albany berkata tentang hadits di atas: و هذا سند ضعيف جدا “Sanad ini dha’if jiddan (lemah sekali).” (Syaikh al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 495, No. 996. Al Maktabah Asy Syamilah) Kesimpulan: Maka setelah kita mengetahui kedha’ifan hadits tersebut, hendaknya tidak membatasi diri dengan kurma tiga butir atau dengan yang tidak terpanggang. Justru dalam hadits yang hasan, disebutkan bahwa Rasulullah berbuka dengan kurma basah, jika tidak ada maka dengan kurma kering, jika tidak ada maka dengan air. (HR. At Tirmidzi, Insya Allah pada Babnya nanti akan kami bahas) Hadits yang bisa diandalkan ini, tidak menyebutkan jumlah kurma sama sekali. Jadi, hal ini diberi kebebasan. Wallahu A’lam Hadits kesebelas: Menyembelih unta betina bagi yang sehari tidak berpuasa Ramadhan عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِى الْحَضَرِ فَلْيُهْدِ بَدَنَةً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُطْعِمْ ثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ لِلْمَسَاكِينِ » Dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak puasa sehari pada bulan Ramadhan, padahal dia sedang tidak bepergian, maka hendaknya dia menyembelih seekor unta betina. Apabila tidak memilikinya maka hendaklah ia member makan fakir miskin tiga puluh sha’ kurma.” (HR. Sunan Ad Daruquthni, Juz. 6, Hal. 75, No. 2333. Ibnul Jauzi, Al Maudhu’at, Juz. 2, Hal. 196. Al Maktabah Asy Syamilah) Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Khalid bin Amru, Al Harits bin ‘Abidah dan Muqatil bin Sulaiman. Kata Imam Ad Daruquthni, bahwa Al Harits bin ‘Abidah dan Muqatil bin Sulaiman adalah dha’ifan (dua orang yang lemah). (Sunan Ad Daruquthni, Juz. 6, Hal. 75, No. 2333)Imam Ibnu Hajar mengatakan hadits ini batil, ada tiga hal penyebabnya: yakni, Khalid bin Amru adalah layyin (lemah), gurunya pun juga dha’if. Sedangkan Muqatil adalah laisa bi tsiqah (tidak bisa dipercaya). (Imam Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, Juz. 1, Hal. 362. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 1, Hal. 636. Al Maktabah Asy Syamilah) Imam Waki’, Imam An Nasa’i, dan Imam As Saji mengatakan bahwa Muqatil adalah seorang pendusta, sedangkan Al Harits adalah dha’if (lemah). (Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Al Maudhu’at, Juz. 2, Hal. 196) Berkata Abdurrahman yakni Ibnu Abdil Hakim al Basyir tentang Muqatil bin Sulaiman, dia menjawab: “Tukang cerita, manusia meninggalkan haditsnya.” Sedangkan Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang Muqatil: “Haditsnya tidak ada apa-apanya.” Abdurrahman berkata,”Aku mendengar ayahku berkata tentang Muqatil, “Dia adalah matrukul hadits.” (Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 8, Hal. 355) Matruk adalah semi palsu/ditinggalkan haditsnya. Syaikh al Albany menilai bahwa hadits ini palsu. (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 200, No. 623) Demikianlah kepalsuan hadits ini. Hadits kedua belas: Larangan memakai celak mata bagi yang berpuasa Dari Nufaili, dari Ali bin Tsabit, dari Abdurrahman bin An Nu’man bin Ma’bad bin Haudzah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia memerintahkan memakai celak ketika tidur, dan bersabda:لِيَتَّقِهِ الصَّائِمُ “Jauhilah celak mata bagi yang sedang berpuasa.” (HR. Abu Daud, Juz.6, Hal. 336, No. 2029. Al Baihaqi, As Sunan al Kubra, Juz. 4, Hal. 262, tetapi lafaz dalam riwayat Al Baihaqi aga berbeda: “Janganlah kalian memakai celak mata siang hari pada saat puasa, pakailah pada malam hari, karena dapat menerangkan mata dan menumbuhkan rambut.”) Imam Abu Daud berkata: “Yahya bin Ma’in berkata kepadaku, hadits ini munkar.” (Sunan Abi Daud, Juz. 6, Hal. 336. Al Maktabah Asy Syamilah) Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang Abdurrahman bin An Nu’man bin Ma’bad bin Haudzah: “Dha’if.” (Imam Abu Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, Juz. 5 Hal. 294) Syaikh al Albany telah menyebutkan bahwa hadits ini munkar, lantaran kedha’ifan Abdurrahman bin An Nu’man, dan kemajhulan ayahnya. Majhul artinya tidak dikenal identitasnya. Berkata Syaikh al Albany Rahimahullah:جهالة أبيه النعمان بن معبد ، و قد أشار إلى ذلك شيخ الإسلام ابنتيمية في رسالة " الصيام " فقال ( ص 49 بتحقيقنا ) عقب ما سبق عن المنذري :لكن من الذي يعرف أباه و عدالته و حفظه ؟ ! ، و لهذا قال الذهبي فيه :غير معروف ، و قال الحافظ : مجهول . Ayah An Nu’man bin Ma’bad adalah majhul (tidak dikenal), hal itu telah diisyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalah “Shiyam” (Hal. 9, berdasarkan penyelidikan kami), setelah ia menyebutkan pernyataan Al Mundziri: “Tetapi, siapa yang mengenal ayahnya, keadilannya, hafalannya?!” Oleh karena itu Adz Dzahabi berkata: “Dia tidak diketahui.” Berkata Al hafizh Ibnu Hajar: “Majhul.” (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 3, Hal. 13, No. 1014) Catatan: Sebenarnya perihal apa hukumnya memakai celak mata (juga suntikan), para ulama berselisih pendapat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang hal itu, sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh al Albany berikut:فمنهم من لم يفطر بشيء من ذلك ، فإن الصيام من دين المسلمين الذي يحتاج إلىمعرفته الخاص و العام ، فلو كانت هذه الأمور مما حرمها الله و رسوله في الصيامو يفسد الصوم بها ، لكان هذا مما يجب على الرسول بيانه ، و لو ذكر ذلك لعلمهالصحابة و بلغوه الأمة كما بلغوا سائر شرعه ، فلما لم ينقل أحد من أهل العلم عنالنبي صلى الله عليه وسلم في ذلك حديثا صحيحا مسندا و لا مرسلا ، علم أنه لميذكر شيئا من ذلك ، و الحديث المروي في الكحل ضعيف ، رواه أبو داود ، و لم يروهغيره و لا هو في مسند أحمد و لا سائر الكتب . “Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa celak mata dan suntikan bagi orang berpuasa tidaklah membatalkan puasa, sesungguhnya puasa adalah salah satu ajaran agama kaum muslimin yang harus diketahui tentangnya baik secara khusus atau umum. Seandainya permasalahan ini diharamkan Allah dan RasulNya, dan dapat merusak puasa, niscaya hal itu akan Rasulullah berikan penjelasannya, dan memberikan penjelasan ilmunya kepada para sahabat dan menyampaikannya kepada umat sebagaimana mereka sampaikan seluruh aturan lainnya. Namun, belum ada satu pun ulama yang mengutip dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hal itu, secara shahih baik yang musnad atau mursal. Telah diketahui bahwa hal itu tidak terbukti. Hadits yang menyebutkan tentang celak pun dha’if, diriwayatkan oleh Abu Daud dan tidak diriwayatkan oleh selainnya, baik musnad Imam Ahmad atau seluruh kitab hadits lainnya.” (Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 3, Hal. 13, No. 1014) Wallahu A’lam Hadits ketiga belas: Larangan bersiwak sore hari bagi orang yang puasa Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:" إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتَاكُوا بِالْغَدَاةِ وَلا تَسْتَاكُوا بِالْعَشِيِّ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ صَائِمٍ تَيْبَسُ شَفَتَاهُ بِالْعَشِيِّ إِلا كَانَ نُورًا بَيْنَ عَيْنَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ " “Jika kalian puasa maka bersiwaklah pada pagi hari dan jangan bersiwak pada sore hari, karena tidaklah bagi mulut orang berpuasa yang menjadi kering pada sorenya, melainkan Allah akan memancarkannya cahaya antara kedua matanya kelak pada hari kiamat.” (HR. Ath Thabarani, Mu’jam al Kabir, Juz.4, Hal. 99, No. 3608. Sunan Ad Daruquthni, Juz. 6 Hal. 139, No. 2397) Dalam sanad hadits ini terdapat Kaisan Abu Amr dan Yazid bin Bilal. Kaisan Abu Amr ini oleh Imam Ibnu Hibban disebut: “Munkarul Hadits (haditsnya munkar).” (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 3, Hal. 105. Tahqiq: Mahmud Ibrahim Zaid) Begitu juga Imam Al Azdi berkata tentang dia: “Munkarul hadits.” (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz.11, Hal. 177. Al Maktabah Asy Syamilah) Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in mendha’ifkan dia. (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 3, Hal. 417) Dalam Takhrijul Hidayah disebutkan bahwa Kaisan ini sangat dha’if. Sedangkan Ibnu Hajar mengatakan para ulama mendha’ifkan dia. (Imam al Munawi, Faidhul Qadir, Juz.1, Hal. 508, Hadits no. 736 ) Sementara Yazid bin Bilal disebut oleh Imam Adz Dzahabi: “Haditsnya tidak shahih.” (Mizanul I’tidal, Juz. 4 Hal. 420, No. 9677) Imam al Munawi mengatakan: “Al Iraqi berkata dalam Syarh at Tirmidzi: “Hadits ini sangat dha’if.” (Imam al Munawi, Faidhul Qadir, Juz.1, Hal. 508, Hadits no. 736 ) Syaikh al Albany juga mendha’ifkan hadits ini. (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, Hal. 478, No. 401) Demikianlah, sangat jelas kelemahan hadits ini. Catatan:Yang benar dalam masalah ini, bersiwak ketika berpuasa pagi sampai sore adalah tidak apa-apa sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i, sebab justru riwayat shahih menunjukkan kebolehannya.Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata ويستحب للصائم أن يتسوك أثناء الصيام، ولا فرق بين أول النهار وآخره.قال الترمذي: " ولم ير الشافعي بالسواك، أول النهار وآخره بأسا ".وكان النبي صلى الله عليه وسلم يتسوك، وهو صائم. Disunahkan bersiwak bagi orang yang berpuasa ketika ia berpuasa, tak ada perbedaan antara di awal siang dan akhirnya. Berkata At Tirmidzi: “Imam Asy Syafi’i menganggap tidak mengapa bersiwak pada awal siang dan akhirnya.” Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersiwak, padahal dia sedang puasa. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1,Hal. 459. Al Maktabah Asy Syamilah) Beliau melanjutkan والصائم والمفطر في استعماله أول النهار وآخره سواء، لحديث عامر بن ربيعة رضي الله عنه Dan disunnahkan bagi orang yang berpuasa dan tidak, untuk bersiwak baik di awal siang atau di akhirnya, sama saja. Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah Radhiallahu ‘Anhu : وَيُذْكَرُ عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ مَا لَا أُحْصِي أَوْ أَعُدّ Disebutkan dari Amir bin Rabi’ah, dia berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersiwak, dan dia sedang puasa, dan tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Bukhari, Juz. 7, Hal.18. At Tirmidzi, Juz. 3, Hal. 170, No. 657. Ahmad, Juz.31, Hal. 290, No. 15124. Lafazh ini milik Bukhari. Fiqhus Sunnah, Juz. Hal. 45. Al Maktabah Asy Syamilah) Imam Al Bukhari membuat judul Bab dalam kitab Jami’ush Shahih-nya:بَاب سِوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ لِلصَّائِمِ“Siwak dengan yang kayu basah dan yang kering bagi orang Berpuasa”Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath:وَأَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ إِلَى الرَّدِّ عَلَى مَنْ كَرِهَ لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ ، وَقَدْ تَقَدَّمَ قَبْلُ بِبَابِ قِيَاسِ اِبْنِ سِيرِينَ السِّوَاكَ الرَّطْبَ عَلَى الْمَاء الَّذِي يُتَمَضْمَضُ بِهِ“Keterangan ini mengisyaratkan bantahan atas pihak yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa, yakni bersiwak dengan kayu basah, seperti kalangan Malikiyah dan Asy Sya’bi, dan telah dikemukakan sebelumnya tentang qiyas-nya Ibnu Sirin,bahwa bersiwak dengan ‘kayu basah’ itu seperti air yang dengannya kita berkumur-kumur (yakni boleh, pen).” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 6, hal. 183. Al Maktabah Asy Syamilah) Dalam Tuhfah al Ahwadzi disebutkan:( إِلَّا أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا السِّوَاكَ لِلصَّائِمِ بِالْعُودِ الرَّطْبِ )كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ فَإِنَّهُمْ كَرِهُوا لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ لِمَا فِيهِ مِنْ الطَّعْمِ ، وَأَجَابَ عَنْ ذَلِكَ اِبْنُ سِيرِينَ جَوَابًا حَسَنًا ، قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ : قَالَ اِبْنُ سِيرِينَ : لَا بَأْسَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ ، قِيلَ لَهُ طَعْمٌ ، قَالَ وَالْمَاءُ لَهُ طَعْمٌ وَأَنْتَ تُمَضْمِضُ بِهِ اِنْتَهَى . وَقَالَ اِبْنُ عُمَرَ : لَا بَأْسَ أَنْ يَسْتَاكَ الصَّائِمُ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، قُلْت هَذَا هُوَ الْأَحَقُّ (Sesungguhnya sebagian ahli ilmu ada yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dengan menggunakan dahan kayu yang basah) seperti kalangan Malikiyah dan Imam Asy Sya’bi, mereka memakruhkan orang berpuasa bersiwak dengan dahan kayu basah karena itu bagian dari makanan. Ibnu Sirin telah menyanggah itu dengan jawaban yang baik. Al Bukhari berkata dalam Shahihnya: “Berkata Ibnu Sirin: Tidak mengapa bersiwak dengan kayu basah, dikatakan “ bahwa itu adalah makanan”, Dia (Ibnu Sirin) menjawab: Air baginya juga makanan, dan engkau berkumur kumur dengannya (air).” Selesai. Ibnu Umar berkata: “Tidak mengapa bersiwak bagi yang berpuasa baik dengan kayu basah atau kering,” diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Aku (pengarang Tuhfah Al Ahwadzi) berkata: Inilah yang lebih benar.” (Syaikh Abdurrahman al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 2, Hal.261, No. 657. Al Maktabah Asy Syamilah) Dengan demikian tidak mengapa bahkan sunah kita bersiwak ketika berpuasa, baik, pagi, siang, atau sore secara mutlak sebagaimana yang dikatakan dalam Tuhfah al Ahwadzi:وَبِجَمِيعِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي رُوِيَتْ فِي مَعْنَاهُ وَفِي فَضْلِ السِّوَاكِ فَإِنَّهَا بِإِطْلَاقِهَا تَقْتَضِي إِبَاحَةَ السِّوَاكِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ وَالْأَقْوَى“Dan dengan semua hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ini dan keutamaan bersiwak, bahwa keutamaannya adalah mutlak, dan kebolehannya itu pada setiap waktu, setiap keadaan, dan itu lebih shahih dan lebih kuat.” (Ibid)Adapun pasta gigi, dihukumi sama dengan kayu basah, karena sama-sama mengandung air dan rasa. Dan Imam An Nawawi mengatakan bahwa dengan alat apa pun selama tujuan ‘membersihkan’ telah tercapai, itu juga dinamakan bersiwak, baik itu dengan jari, kain, atau lainnya selama tidak membahayakan. Dalam Syarh An Nasa’i disebutkan:وَهُوَ كُلّ آلَة يُتَطَهَّر بِهَا شُبِّهَ السِّوَاك بِهَا ؛ لِأَنَّهُ يُنَظِّف الْفَم ، وَالطَّهَارَة النَّظَافَة ذَكَرَهُ النَّوَوِيّ“Yaitu alat apa saja yang bisa mensucikan dengannya maka dia menyerupai siwak, karena dia bisa membersihkan mulut, bersuci dan membersihkan, demikian kata An Nawawi” (Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi, Syarh An Nasa’i, Juz. 1, Hal. 7, No. 5. Al Maktabah Asy Syamilah)
Users' Comments (0)  |
|
|