Statistik

Sejak Juni 2007
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini87
mod_vvisit_counterkemarin435
mod_vvisit_counterpekan ini522
mod_vvisit_counterbulan ini522
mod_vvisit_countertotal71246

Kami Peduli

  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
powered_by.png, 1 kB
Halaman Depan arrow Fiqih arrow Hadits-Hadits Dha’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu) IV
Hadits-Hadits Dha’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu) IV PDF Cetak E-mail
Views 126    

Seputar Puasa dan Bulan Ramadhan

Oleh : Farid Nu'man

 

(Lanjutan …)

 

 

Hadits kesembilan: Nabi tidak pernah menyentuh wajah ‘Aisyah selama berpuasa.                

Dari Muhammad bin Asy’at, bahwa ‘Aisyah berkata:                 

 كان لا يمس من وجهي شيئا و أنا صائمة                               

“Rasulullah tidak pernah menyentuh wajahku sekalipun saat aku sedang puasa.” (HR. Ahmad, Juz. 52, Hal. 257, No. 24600. Ibnu Hibban, Juz. 15, Hal. 89, No. 3615)

Secara ringkas saya ambil keterangan dari Syaikh al Albany, beliau berkata: “Mungkar.” Ada dua hal yang membuat cacat hadits ini: pertama, rawi bernama  Shalih bin Abi Shalih al Asady, dia adalah majhul (tidak diketahui identitasnya) sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Adz Dzahabi: “Zakaria bin Abi Zaidah meriwayatkan darinya secara menyendiri.” Kedua, hadits ini bertentangan dengan hadits shahih bahwa Rasulullah pernah mencium isterinya padahal keduanya sedang puasa, lihat Silsilah ash Shahihah no. 219. (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Adh Dha’ifah, Juz. 2, Hal. 457, No. 958. Markaz Nur Al Islam Li Abhats Al Quran was Sunnah Iskandariah. Al Maktabah Asy Syamilah)                

Adapun tentang Muhammad bin al Asy’ats dia juga seorang yang keadaannya tidak dikenal (majhul al hal) (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, Juz.1, Hal. 587. Darul Maktabah Al ‘Ilmiah Beirut-Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah) 

Kesimpulan:                

Jadi, larangan mencium isteri ketika puasa adalah tidak berdasar. Justru dalam riwayat shahih disebutkan bahwa hal itu dibolehkan, namun bagi yang tidak bisa menguasai diri sebaiknya dihindari.  Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu ‘Anhu:

عنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَهَشَشْتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ قُلْتُ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيمَ               

Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium isteri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya berkata: “Hari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium isteri padahal sedang puasa.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?”, Saya (Umar) menjawab: “Tidak mengapa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Lalu, kenapa masih ditanya?” (HR. Ahmad, Juz.1, Hal. 136, 354, No. 132, 350. As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz.4, Hal. 218. Al Maktabah Asy Syamilah)               

Hadits di atas menerangkan bahwa mencium isteri dan berkumur-kumur hukumnya sama yakni boleh, kecuali berlebihan hingga bersyahwat, apalagi mengeluarkan air mani.               

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

                كان يقبلني و هو صائم و أنا صائمة           

“Rasulullah mencium saya dan dia sedang puasa dan aku juga berpuasa.” Syaikh al Albany berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari.” (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, Hal. 218, No. 219. Al Maktabah Asy Syamilah) 

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:قال ابن المنذر رخص في القبلة عمر وابن عباس وأبو هريرة وعائشة، وعطاء، والشعبي، والحسن، وأحمد،

 وإسحاق.ومذهب الاحناف والشافعية: أنها تكره على من حركت شهوته، ولا تكره لغيره، لكن الاولى تركها.ولا فرق بين الشيخ والشاب في ذلك، والاعتبار بتحريك الشهوة، وخوف الانزال، فإن حركت شهوة شاب، أو شيخ قوي، كرهت.وإن لم تحركها لشيخ أو شاب ضعيف، لم تكره، والاولى تركها.وسواء قبل الخد أو الفم أو غيرهما.وهكذا المباشرة باليد والمعانقة لهما حكم القبلة.               

Berkata Ibnul Mundzir: Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah,  Aisyah, Atha’, Asy Sya’bi, Ahmad dan Ishaq, mereka memberikan rukhshah (keringanan) dalam hal mencium (isteri).                

Madzhab Hanafi dn Asy Syaf’i: Mencium itu makruh jika melahirkan syahwat, dan tidak makruh jika tidak bersyahwat, tetapi lebih utama meninggalkannya.               

Dalam hal ini, tak ada perbedaan antara anak muda dan orang tua, yang menjadi pelajaran adalah munculnya syahwat (rangsangan) itu, dan kekhawatiran terjadinya inzal (keluarnya mani). Maka, munculnya syahwat, baik anak muda dan orang tua yang masih punya kekuatan, adalah makruh.. Namun, jika tidak menimbulkan syahwat, baik untuk orang tua atau anak muda yang lemah, maka tidak makruh, dan lebih utama adalah meninggalkannya. Sama saja, baik mencium pipi, atau mulut, atau lainnya. Begitu pula mubasyarah (hubungan-cumbu) dengan tangan atau berpelukan, hukumnya sama dengan mencium. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah , Juz. 1, Hal. 461. Al Maktabah Asy Syamilah)

Perhatian!               

Sebenarnya para ulama terbagi atas empat pendapat dalam hal mencium isteri ketika berpuasa, namun pandangan yang lebih kuat adalah yang menetapkan kebolehannya berdasarkan dalil-dalil shahih yang ada, hanya saja bagi yang dikhawatiri tidak bisa menguasai diri lebih baik ditinggalkan.

Keterangan tambahan               

Untuk menguatkan pendapat ini saya akan paparkan berbagai riwayat berkenaan tentang itu. Bahwa para orang-orang mulia, yakni Rasulullah, para sahabat dan tabi’in pernah mencium isterinya ketika berpuasa, bahkan lebih dari itu mereka bermubasyarah (bercumbu) pada siang hari, bahkan –maaf- sampai memegang kemaluan isterinya.

Perbuatan Rasulullah dan ‘Aisyah               

Rasulullah adalah laki-laki yang paling mampu menahan hawa nafsunya, namun diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha dia berkata :

كان يباشر و هو صائم ، ثم يجعل بينه و بينها ثوبا . يعني الفرج               

“Rasulullah bermubasyarah padahal sedang puasa, lalu dia membuat tabir dengan kain antara dirinya dengan kemaluan (‘Aisyah).” (HR. Ahmad, Juz. 49 Hal. 334, No. 23178)               

Tentang hadits ini, berkata Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin al Albany Rahimahullah

و هذا سند جيد ، رجاله كلهم ثقات رجال مسلم ، و لولا أن طلحة هذا فيهكلام يسير من قبل حفظه ، لقلت : إنه صحيح الإسناد ، و لكن تكلم فيه بعضهم ،و قال الحافظ في " التقريب " : " صدوق يخطىء " .قلت : و في هذا الحديث فائدة هامة و هو تفسير المباشرة بأنه مس المرأة فيمادون الفرج ، فهو يؤيد التفسير الذي سبق نقله عن القاري ، و إن كان حكاه بصيغةالتمريض ( قيل ) : فهذا الحديث يدل على أنه قول معتمد ، و ليس في أدلة الشريعةما ينافيه ، بل قد وجدنا في أقوال السلف ما يزيده قوة ، فمنهم راوية الحديثعائشة نفسها رضي الله عنها ، فروى الطحاوي ( 1 / 347 ) بسند صحيح عن حكيمبن عقال أنه قال : سألت عائشة : ما يحرم علي من امرأتي و أنا صائم ؟ قالت :فرجها و حكيم هذا وثقه ابن حبان و قال العجيلي : " بصري تابعي ثقة " .و قد علقه البخاري ( 4 / 120 بصيغة الجزم : " باب المباشرة للصائم ، و قالتعائشة رضي الله عنها : يحرم عليه فرجها " .و قال الحافظ :" وصله الطحاوي من طريق أبي مرة مولى عقيل عن حكيم بن عقال .... و إسناده إلىحكيم صحيح ، و يؤدي معناه أيضا ما رواه عبد الرزاق بإسناد صحيح عن مسروق : سألتعائشة : ما يحل للرجل من امرأته صائما ؟ قالت . كل شيء إلا الجماع " .         

“Sanad hadits ini jayyid (bagus). Semua rijalnya (periwayatnya) tsiqat (terpercaya) dan dipakai oleh Imam Muslim, seandainya Thalhah (salah seorang perawinya) tidak mendapat kritikan, saya akan katakan: hadits ini sanadnya shahih. Namun, sebagian ulama ada yang membicarakannya. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam At Taqrib: “Dia jujur tapi melakukan kesalahan.”               

Selanjutnya, ada faedah penting dari hadits ini, yakni tafsir tentang arti mubasyarah (bercumbu), yakni menyentuh wanita (isteri) selain kemaluannya. Pemaknaan ini mendukung tafsir yang telah dikutip oleh Al Qari. Walau pun dia dalam mengutipnya dengan bentuk kata tamridh (dikatakan ..). Maka hadits ini dapat dijadikan sebagai acuan, dan tidak ada dalil syariat yang menentangnya. Bahkan saya (Syaikh al Albany) telah menemukan prilaku para salaf (generasi terdahulu) yang memperkuat kebolehannya. Di antaranya adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha yang beliau tafsirkan sendiri, Ath Thahawi telah meriwayatkan (1/347) dengan sanad yang shahih dari Hakim bin Iqal, bahwa dia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: ‘Apa yang haram bagiku terhadap isteriku saat aku sedang puasa?’, Dia menjawab: ‘Kemaluannya.’                

Hakim bin Iqal ini dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban. Berkata Al ‘Ijili: “Dia (Hakim) adalah orang Bashrah (nama kota di Irak), generasi tabi’in, dan tsiqah (terpercaya).” Sedangkan Imam Bukhari telah mengomentari hadits ini (4/120)  dalam bab khusus dengan bentuk kata pasti: “Bab Mubasyarah (bercumbu) bagi orang yang berpuasa dan perkataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: Haram bagi suaminya, kemaluannya.”               

Sementara Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Ath Thahawi menyambungkan sanad hadits itu melalui Abu Murrah, bekas pelayan Uqail, dari Hakim bin Iqal …” Penyandaran kepada Hakim bin Iqal ini adalah shahih. Hal serupa juga diriwayatlan oleh Abdurrazzaq dengan sanad yang shahih dari Masruq: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa sajakah yang dihalalkan bagi suami yang sedang puasa atas isterinya?” Dia menjawab: “Semuanya halal kecuali jima’ (bersetubuh).” (Syaikh al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz.1, Hal. 220, No. 221. Markaz Nur Al Islam Li Abhats Al Quran was Sunnah, Iskandariah. Al Maktabah Asy Syamilah)Pendapat Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu               

Beliau adalah maha gurunya para mufassir (ahli tafsir). Ia dijuluki Hibrul Ummah (tintanya umat ini). Namun dia memiliki pandangan yang amat moderat dalam hal ini. Imam Ibnu Hazm Rahimahullah meriwayatkan :

 عن سعيد بن جبير أن رجلا قال لابن عباس : إني تزوجت ابنة عم ليجميلة ، فبني بي في رمضان ، فهل لي - بأبي أنت و أمي - إلى قبلتها من سبيل ؟فقال له ابن عباس : هل تملك نفسك ؟ قال : نعم ، قال : قبل ، قال : فبأبي أنتو أمي هل إلى مباشرتها من سبيل ؟ ! قال : هل تملك نفسك ؟ قال : نعم ، قال :فباشرها ، قال : فهل لي أن أضرب بيدي على فرجها من سبيل ؟ قال : و هل تملك نفسك؟ قال : نعم ، قال : اضرب . " و هذه أصح طريق عن ابن عباس " .          

"Dari Said bin Jubeir bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas: ‘Aku menikahi seorang putrid anak paman saya, ia seorang yang cantik. Saya membawanya pada bulan Ramdhan. Maka bolehkah bagi saya menciumnya?’ maka Ibnu Abbas menjawab: “Apakah engkau bisa menahan hawa nafsu?’ dia menjawab: ‘Ya,’Ibnu Abbas berkata: “Ciumlah!”Laki-laki itu betanya lagi: ‘Bolehkah saya bercumbu dengannya?’Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’Ibnu Abbas berkata: ‘Bercumbulah.”Laki-laki itu bertanya lagi: ‘Bolehkah tangan saya memegang kemaluannya?’Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’Ibnu Abbas berkata: ‘Peganglah.”               

Ibnu Hazm berkata: “Ini adalah sanad yang paling shahih dari  Ibnu Abbas.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz.  6, Hal. 212 Darul Fikr. Tahqiq: Ustadz Ahmad Muhammad Syakir. Al maktabah Asy Syamilah). Perilaku Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu                

Dia  adalah seorang sahabat nabi yang termasuk  mubasysyiruna bil jannah (dijamin masuk surga) oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Dia adalah tokoh utama perang Al Qadisiyah melawan Persia. Namun demikian, itu semua tidak membuatnya malu untuk tetap romantis dengan isterinya. Walau pun dia sedang berpuasa, tidak menghalanginya untuk mubasyarah dengan isterinya.                 

Imam Ibnu Hazm al Andalusi berkata:   

" و من طريق صحاح عن سعد بن أبي وقاص أنه سئل أتقبل و أنت صائم ؟قال : نعم ، و أقبض على متاعها                

“Dari jalan yang shahih dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa dia ditanya: “Apakah engkau mencium (isteri) ketika sedang puasa?” Dia menjawab: “Ya, bahkan aku menggenggam kemaluannya segala.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz.6, Hal. 212.Darul Fikr. Tahqiq: Ustadz Ahmad Muhammad Syakir. Al maktabah Asy Syamilah) Perbuatan Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu                

Dia ahli membaca Al Qur’an dan tafsirnya, dan menjadi manusia pertama yang berani membaca Al Qur’an di depan ka’bah ketika masa-masa awal Islam.

 عَنْ عَمْرِو بن شُرَحْبِيلَ،"إِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يُبَاشِرُ امْرَأَتَهُ نِصْفَ النَّهَارِ، وَهُوَ صَائِمٌ".          

“Dari ‘Amru bin Syurahbil: “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud pernah mubasyarah dengan isterinya pada tengah siang, padahal dia  sedang puasa.” (Imam ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Juz. 8, Hal. 256, No. 9458. Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, Juz. 4, Hal. 191, No. 8442. Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 6, Hal. 212. Katanya: “Ini adalah jalan yang paling shahih dari Ibnu Mas’ud.”)                

Semua atsar (riwayat) di atas, baik Ibnu Abbas, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ibnu Mas’ud  adalah shahih, maka bersenang-senang dengan isteri ketika berpuasa adalah boleh, namun bagi orang yang tidak mampu meredam hawa nafsunya, lebih baik ditinggalkan. Tetapi, kita tidak dibenarkan mengingkari pendapat yang memakruhkan mencium isteri atau lebih dari itu, sebab para ulama yang memakruhkan itu juga para imam agama yang mendalam ilmunya (lihat pembahasan dari Syaikh Sayyid Sabiq sebelumnya). Komentar Al ‘Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddn al Albany Rahimahullah.                

Beliau menguatkan riwayat-riwayat di atas, baginya kebolehan mencium bahkan mubasyarah dengan isteri adalah pendapat yang lebih kuat, walau sebaiknya dihindarkan bagi yang tidak mampu meredam hawa nafsu.

                 أثر ابن مسعود هذا أخرجه ابن أبي شيبة ( 2 / 167 / 2 ) بسند صحيح علىشرطهما ، و أثر سعد هو عنده بلفظ " قال : نعم و آخذ بجهازها " و سنده صحيح علىشرط مسلم ، و أثر ابن عباس عنده أيضا و لكنه مختصر بلفظ :" فرخص له في القبلة و المباشرة و وضع اليد ما لم يعده إلى غيره " .و سنده صحيح على شرط البخاري .و روى ابن أبي شيبة ( 2 / 170 / 1 ) عن عمرو بن هرم قال :سئل جابر بن زيد عن رجل نظر إلى امرأته في رمضان فأمنى من شهوتها هل يفطر ؟قال : لا ، و يتم صومه " .و ترجم ابن خزيمة للحديث بقوله :" باب الرخصة في المباشرة التي هي دون الجماع للصائم ، و الدليل على أن اسمالواحد قد يقع على فعلين أحدهما مباح ، و الآخر محظور " .            

Atsar (segala perbuatan dan perkataan sahabat dan tabi’in) dari Ibnu Mas’ud ini telah juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/167) dengan sanad yang shahih, sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Sedangkan atsar dari Sa’ad bin Abi Waqqash juga diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan redaksi: “Benar, bahkan aku memegang juga kemaluannya.” Sanad ini shahih, sesuai syarat Imam Muslim.  Sedangkan atsar Ibnu Abbas  oleh Ibnu Abi Syaibah juga disebutkannya, tetapi dengan redaksi yang agak ringkas, yakni:                

“Dia (Ibnu Abbas) memberikan keringanan kepada orang itu (yang bertanya) untuk mencium isterinya, bermubasyarah, dan meletakkan tangannya di atas kemaluan isterinya, selama tidak mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih dari itu.”                

Sanad atsar ini shahih sesuai syarat Bukhari. Ibnu Abi Syaibah (2/170/1)  meriwayatkan dari Amru bin Haram: bahwa Jabir bin Zaid ditanya tentang laki-laki yang melihat isterinya pada bulan Ramadhan sampai keluar mani-nya karena syahwatnya, apakah batal puasanya? Beliau menjawab: “Tidak, hendaknya dia menyempurnakan puasanya.”                               

Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, dalam pokok bahasan:                

“Bab rukhshah (keringanan) dalam bermubasyarah (bercumbu) yang tanpa disertai jima’ (setubuh) bagi orang yang berpuasa.”                 

Disertai pula dalil mengenai satu kata yang bisa menghasilkan dua macam perbuatan, ada yang mengatakannya mubah (boleh) dan yang lainnya mengatakan mahzhur (terlarang). (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, Hal. 220, No. 221. Markaz Nur Al Islam Li Abhats Al Quran was Sunnah, Iskandariyah. Al Maktabah Asy Syamilah).  Demikian. Wallahu A’lam


Published in : Fiqih,
Kutip artikel Print kirim ke teman

Users' Comments (0) RSS feed comment

Tidak ada komentar

Beri komentar



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Ditulis Oleh admin   
Wednesday, 20 August 2008
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 20 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
© 2008 perisaidakwah.com