| Views |
136  |
|
Seputar Puasa dan Bulan Ramadhan Oleh : Farid Nu'man
(Lanjutan …) Hadits ketiga: Doa berbuka puasa (memiliki beberapa versi) Versi 1: عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ “Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwa dia menyampaikan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; jika berbuka puasa dia membaca Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizqika afthartu.” Hadits di atas diriwayatkan oleh: - Imam Abu Daud, dalam kitab Sunan Abi Daud, Juz. 6, Hal. 309. Bab Qaul ‘Indal Ifthar, No. 2011, dari Mu’adz bin Zuhrah. - Imam al Baihaqi, dalam kitab As Sunan Al Kubra, Juz. 4, Hal. 239, dari Mu’adz bin Zuhrah. - Imam ath Thabarani, dalam kitab Al Mu’jam al Awsath, Juz. 16, Hal. 338, No. 7762, dari Anas bin Malik. Lihat juga kitabnya yang lain Al Mu’jam Ash Shaghir, Juz. 3, Hal. 52, No. 912, dari Anas bin Malik - Imam al Baihaqi, dalam kitab Syu’abul Iman, Juz. 8, Hal. 430, No. 3747, dari Mu’adz bin Zuhrah. Jadi, hadits di atas diriwayatkan oleh dua jalur; yakni Anas bin Malik dan Mu’adz bin Zuhrah.
Penilaian: 1. Dalam Jalur Anas bin malik, terdapat perawi bernama Isma’il bin Amru al Bajali dan Daud bin Az Zibiriqan. Hadits ini Dha’if. Berkata seorang Imam Ahli hadits masa kini (w. 1999), Asy Syaikh al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin al Albany Rahimahullah: قلت : وهو ضعيف قال الذهبي في ( الضعفاء ) : ( ضعفه غير واحد ) . قلت : وشيخه داود بن الزبرقان شرمنه قال الذهبي : ( قال أبو داود : متروك وقال البخاري : مقارب الحديث ) وقال الحافظ في ( التقريب ) : ( متروك كذبه الازدي ) . والحديث قال الهيثمي في ( المجمع ) : ( رواه الطبراني في ( الاوسط ) وفيه داود بن الزبرقان وهو ضعيف ) “Aku (Syaikh al Albany) berkata: Dia (Isma’il bin Amru al Bajali) adalah dha’if (lemah). Berkata Imam Adz Dzahabi dalam kitab Adh Dhu’afa: “Yang mendha’ifkan lebih dari satu orang.” Aku (Syaikh al Albany) berkata: “Gurunya, yaitu Daud bin Az Zibriqan lebih buruk darinya. Berkata Imam Adz Dzahabi: Berkata Abu Daud: “Dia (Daud bin Az Zibriqan) adalah matruk (haditsnya ditinggalkan).” Imam Bukhari berkata: “Haditsnya pertengahan”. Imam Al hafizh Ibnu Hajar dalam kitab At Taqrib berkata: “Haditsnya ditinggalkan, dan Al Azdi menganggapnya sebagai pendusta.” Menurut Imam al Haitsami dalam Al Majma’: “Diriwayatkan Ath Thabarani dalam Al Ausath, dalam sanadnya terdapat Daud bin Az Zibriqan, dia adalah dha’if.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa’ al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 37-38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah) 2. Jalur Mu’adz bin Zuhrah, juga dha’if. Hadits ini mursal (riwayatnya tanpa melalui sahabat Nabi). Berkata Syaikh al Albany: قلت : وهذا سند ضعيف فانه مع إرساله فيه جهالة معاذ هذا “Aku (Syaikh al Albany) berkata: “Sanad hadits ini dha’if, karena mursal, dan Mu’adz ini adalah tidak dikenal biografinya.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa’ al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon. Lihat juga dalam kitab Shahih wa Dha’if Al Jami’ Ash Shaghir, Juz. 20, Hal. 402. No. 9830. Al Maktabah Asy Syamilah) Hadits mursal adalah hadits yang terputus sanad (periwayatannya) setelah generasi tabi’in. Mu’adz bin Zuhrah ini seorang tabi’in, yang tidak langsung mendengar hadits ini dari sahabat nabi. Doa berbuka puasa Versi 2: بسم الله و الحمد لله اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت و عليك توكلت سبحانك و بحمدك تقبل مني إنك أنت السميع العليم . “Bismillah wal hamdulillah, Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, wa ‘alaika tawakkaltu, subhanaka wa bihamdika taqabbal minni innaka antas samii’ul ‘aliim.” Hadits ini juga dha’if, dari Anas bin Malik. (Lihat Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Shahih wa Dha’if al Jami’ Ash Shaghir, Juz. 5, Hal. 91, No. 1644. Markaz Nur Al Islam Li Abhats Al Quran was Sunnah, Iskandariah. Al Maktabah Asy Syamilah) Doa berbuka puasa Versi 3: Dari Ibnu ‘Abbas:كان إذا أفطر قال : اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم . “Adalah Rasululah jika berbuka, dia mengucapkan: “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, fataqabbal minni innaka antas samii’ul ‘Aliim.” Hadits ini juga dha’if. (Syaikh al Albany, Shahih wa Dha’if Al jami’ Ash Shaghir, Juz. 20, Hal. 402, No. 9831. Markaz Nur Al Islam Li Abhats Al Quran was Sunnah, Iskandariah. Al Maktabah Asy Syamilah) Jika doa-doa di atas dha’if semua, lalu bagaimanakah dengan doa yang sangat terkenal berikut ini: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar.” (HR. Malik, Juz. 5, Hal. 469, no.1465. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Juz.5, Hal. 565, Ahmad, Juz. 3, hal. 250, No. 1244, pada riwayat Ahmad lafazhnya berbeda: “Bismillahi Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa.” Ibnus Sunni, ‘Amalul Yaum wal Lailah, Juz. 2, Hal. 372. No. 456. Teks riwayat Ibnus Sunni agak berbeda:” Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar, bismillah.”) Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: والصواب قال البخاري منكر الحديث جداً “Yang benar, menurut Imam Bukhari hadits ini sangat munkar.” (Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Lisanul Mizan, Juz.2, Hal. 385. Al Maktabah Asy Syamilah) Apakah hadits mungkar itu? Secara ringkas, hadits mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya, banyak salah dan lalainya, dan nampak kefasikannya, serta bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh orang terpercaya, dan termasuk kelompok hadits dha’if jiddan (sangat lemah). (Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan, Taisir al Mushthalah al Hadits, Hal. 80-81) Sedangkan Prof.Dr. Ali Mushthafa Ya’qub, MA, mengatakan bahwa hadits mungkar adalah hadits paling buruk peringkat ketiga, setelah hadits maudhu’ (palsu) dan hadits matruk (semi palsu). Demikianlah. Jika doa berbuka puasa adalah dha’if, tak satu pun yang shahih, begitu pula doa hendak makan, maka dengan apa kita membaca doa hendak makan? Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Radhiallahu ‘Anhu: فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Wahai anak! sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhari, Juz. 16, Hal. 470, No. 4957. Muslim, Juz.10, Hal. 298, No. 3767. Ibnu Majah, Juz. 9, Hal. 481, No. 3258. Ahmad, Juz. 33, Hal. 70, No. 15740. Al Maktabah Asy Syamilah) Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “Beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: “Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Daud, Juz. 10, Hal. 209, No. 3275. At Timidzi, Juz. 7, Hal. 55, No. 1781. Dalam teks Imam At Tirmidzi agak berbeda yakni: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka katakanlah, “Bismillah,” jika lupa membaca di awalnya, maka bacalah, “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Dengan teks serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Juz. 9, Hal. 477, No. 3255. Ahmad, Juz.51, Hal. 111, No. 23954. Al Hakim dalam Mustadrak ‘Alas Shahihain, Juz. 16, No. 412, No. 7187, katanya sanad hadits ini shahih, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Syaikh al Albany berkata tentang hadits di atas: shahih. Misykat al Mashabih, Juz. 2, hal. 455, No. 4202. Al Maktabah Asy Syamilah) Dalam hadits lain: كان إذا قرب إليه الطعام يقول : بسم الله ، فإذا فرغ قال : اللهم أطعمتو أسقيت و أقنيت و هديت و أحييت ، فلله الحمد على ما أعطيت “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: “Bismillah,” setelah makan ia membaca,”Allahumma Ath’amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi ‘ala maa a’thaita.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih, seluruh periwayatnya tsiqah (kredibel) sesuai syarat Imam Muslim, Lihat Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, pembahasan hadits no.71) Inilah doa yang shahih, yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika kita hendak menyantap makanan atau minuman, baik pada bulan puasa atau tidak. Komentar Syaikh al Albany. و في هذا الحديث أن التسمية في أول الطعام بلفظ " بسم الله " لا زيادة فيها ،و كل الأحاديث الصحيحة التي وردت في الباب كهذا الحديث ليس فيها الزيادة ، و لاأعلمها وردت في حديث ، فهي بدعة عند الفقهاء بمعنى البدعة ، و أما المقلدونفجوابهم معروف : " شو فيها ؟ ! " . فنقول : فيها كل شيء و هو الاستدراك على الشارع الحكيم الذي ما ترك شيئا يقربناإلى الله إلا أمرنا به و شرعه لنا ، فلو كان ذلك مشروعا ليس فيه شيء لفعله و لومرة واحدة ، و هل هذه الزيادة إلا كزيادة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلممن العاطس بعد الحمد .و قد أنكرها عبد الله بن عمر رضي الله عنه كما في " مستدرك الحاكم " ، و جزمالسيوطي في " الحاوي للفتاوي " ( 1 / 338 ) بأنها بدعة مذمومة “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa doa tasmiyah pada awal makan dengan lafaz “bismillah” tanpa ada tambahan apa-apa, semua hadits shahih yang membicarakan bab ini juga demikian tanpa ada tambahan, dan saya tidak mengetahui adanya tambahan itu dalam hadits, dan tambahan itu menurut istilah para fuqaha (ahli fiqih) adalah bid’ah, namun bagi orang-orang yang sudah terlanjur menggunakannya akan mengatakan perkataan yang sudah bisa diketahui: “Bukankah doa ini telah banyak dipakai?!” Kami katakan: “Segala tambahan yang diberikan kepada pembuat syariat, berupa amalan yang jika memang benar itu bisa mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, pastilah akan diperintahkan oleh syariat, seandainya itu disyariatkan pasti hal itu dilakukan oleh Rasulullah walau cuma sekali. Hal ini seperti menambahkan shalawat kepada Nabi, bagi orang yang membaca Alhamdulillah setelah bersin. Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu telah mengingkari tambahan ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Mustadrak-nya Imam al Hakim, dan ditegaskan oleh Imam as Suyuthi dalam Al Hawi Lil Fatawa (1/338), bahwa tambahan itu adalah bid’ah tercela.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, No. 71. Markaz Nur Al Islam Li Abhats Al Quran was Sunnah, Iskandariah. Al Maktabah Asy Syamilah) Ternyata, tidak semua dha’if Untuk doa yang nabi ucapkan ketika ifthar (berbuka puasa), ada yang biasa beliau praktekkan yakni: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (HR. Abu Daud, Juz. 6, Hal. 308, No. 2010, As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 4, Hal. 239, Al Hakim dalam Mustadrak ‘alas Shahihain, Juz. 4, Hal. 67, No. 1484, katanya shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim. Menurut Syaikh al Albany hadits ini hasan, dalam kitab Misykat Al Mashabih, Juz.1, Hal. 450, No. 1993) Kesimpulan Jadi, doa hendak makan atau berbuka puasa yang sesuai sunah shahihah adalah membaca “bismillah”, sedangkan ketika berbuka puasa ada tambahannya yakni “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” Wallahu A’lam (Catatan: setelah diperiksa ke lebih dari 50 kitab hadits yang terdapat dalam Al Maktabah Asy Syamilah, belum ditemukan do’a terkenal dengan redaksi, “Allahumma laka shumtu, wa bika amantu, wa ‘ala rizqika afthartu, birahmatika yaa arhama ar raahimin.” Bisa jadi redaksi seperti ini merupakan tambahan dari sebagian manusia, tidak bersumber dari kitab-kitab hadits yang bisa dipercaya) Hadits Keempat: hadits tentang pembatal puasa karena benda masuk ke lubang tubuh Berikut haditsnya: إنما الإفطار مما دخل ، و ليس مما خرج “Sesungguhnya yang membuat batalnya puasa hanyalah karena sesuatu yang masuk bukan sesuatu yang keluar.” Bagaimanakah status hadits ini? Berikut pembahasan dari Al Muhaddits al ‘Allamah Syaikh al Albany Rahimahullah: ضعيف . أخرجه أبو يعلى في " مسنده " : حدثنا أحمد بن منيع : حدثنا مروان بنمعاوية عن رزين البكري قال : حدثنا مولاة لنا يقال لها : سلمى من بكر بن وائلأنها سمعت عائشة تقول : " دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال :يا عائشة هل من كسرة ؟ فأتيته بقرص ، فوضعه في فيه و قال : يا عائشة هل دخلبطني منه شيء ؟ كذلك قبلة الصائم ، إنما الإفطار .... " . قلت : و هذا سند ضعيف، من أجل سلمى هذه ، فإنها لا تعرف كما في " التقريب " ، و رزين البكري إن كانهو الجهني فثقة ، و إلا فمجهول . و قد أشار إلى ذلك الهيثمي في " المجمع " ( 3/ 167 ) قال : " رواه أبو يعلى و فيه من لم أعرفه " . و الصواب في الحديث أنهموقوف على ابن عباس كما سبق بيانه قبل حديث . Dhaif. Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam “Musnad”-nya: Berkata kepadaku Ahmad bin Mani’, bercerita kepadaku Marwan bin Mu’awiyah, dari Razin al Bakri, dia berkata: Bercerita kepadaku pembantuku yang wanita, bernama Salma binti Bakr bin Wail, bahwa dia mendengar ‘Aisyah berkata: Rasulullah masuk …dan seterusnya, (hingga hadits di atas). Berkata Syaikh al Albany: sanad ini dhaif, lantaran perawi bernama Salma. Dia tidak dikenal sebagaimana dikatakan dalam “At Taqrib”. Sedangkan, Razin al Bakri, jika dia adalah Al Juhni maka dia tsiqah (bisa dipercaya), jika bukan maka dia majhul (tidak dikenal). Al Hatsami telah mengisyaratkan hal itu dalam Al Majma’ (3/167), dia berkata: “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan di dalamnya ada yang aku tidak kenal.” Yang benar hadits ini mauquf (terhenti) pada Ibnu Abbas sebagaimana penjelasan sebelum ini. (Syaikh al Albany, Silsilah Ad Dhaifah, Juz. 2, Hal. 460. No. 961. Al Maktabah Asy Syamilah). Demikianlah jadi, tidak mengapa ada benda masuk ke lubang tubuh kita, baik mulut, hidung, atau telinga, lantaran kedhaifan hadits yang mengatakan itu. Lagi pula, hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits yang menunjukkan kebolehan berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung ketika wudhu), tentu kumur dan istinsyaq, merupakan perbuatan yang membuat ‘benda’ masuk lubang tubuh bukan? Hadits Kelima: Sedekah paling afdhal adalah saat Ramadhan وروى صدقة بن موسى ، عن ثابت ، عن أنس قال : قيل يا رسول الله ، أي الصدقة أفضل ؟ قال : « صدقة في رمضان » “Diriwayatkan dari Shadaqah bin Musa, dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling utama?”, Beliau menjawab: “Shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. At Tirmidzi, Juz. 3, Hal. 72, No. 599. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Juz.8, Hal. 141, No. 3476) Imam at Tirmidzi berkata tentang Shadaqah bin Musa (Nama Kun-yahnya Abul Mughirah): لَيْسَ عِنْدَهُمْ بِذَاكَ الْقَوِيِّ “Menurut mereka (para Imam Ahli hadits), dia tidak kuat (lemah).” (Sunan At Tirmidzi, Juz. 3, Hal. 72, No. 599) Dalam kitab Mizanul I’tidal disebutkan tentang Shadaqah bin Musa: ضعفه ابن معين، والنسائي، وغيرهما. “Imam Yahya bin Ma’in mendha’ifkannya, begitu pula Imam An Nasa’i, dan selain mereka berdua.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal fii Naqdir Rijal, Juz. 2, Hal. 312. Darul Ma’rifah li Thiba’ah wan Nasyr, Beirut-Libanon. Al Maktabah Asy Syamilah) عبد الرحمن قال سألت ابى عن صدقة ابى المغيرة قال: لين الحديث، يكتب حديثه ولا يحتج به، ليس بقوى. “Abdurrahman berkata: aku bertanya kepada ayahku tentang Shadaqah bin Musa (Abu al Mughirah), dia menjawab: “Haditsnya lemah, haditsnya sekedar ditulis, tetapi tidak bisa dijadikan hujjah (dalil/argument).” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz.4, Hal. 432) Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany telah mendha’ifkan hadits di atas dalam berbagai kitabnya. (Irwa’ al Ghalil, Juz. 3, Hal. 397. Dha’if at Targhib wat Tarhib, Juz. 1, Hal. 155, No. 618. Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi, Juz.2, Hal. 163, No. 663. Al Maktabah Asy Syamilah) Catatan: Walaupun hadits di atas dha’if, namun bukan berarti meniadakan nilai dan arti penting bersedekah pada bulan Ramadhan. Sebab beramal shalih, termasuk bersedekah, pada bulan Ramadhan memang dianjurkan untuk digalakkan. Yang jelas, pada bulan apa pun, jika bersedekah dilakukan secara ikhlas dan benar, maka Allah Ta’ala akan memberikan ganjarannya yang setimpal. Tetapi, jika bershadaqah dilakukan tidak ikhlas dan pamer, walau dilakukan pada bulan Ramadhan, tentulah ditolak, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal shalih.
Users' Comments (0)  |
|
|