Statistik

Sejak Juni 2007
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini50
mod_vvisit_counterkemarin364
mod_vvisit_counterpekan ini1491
mod_vvisit_counterbulan ini2579
mod_vvisit_countertotal79331

Kami Peduli

  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
  • Freedom For Palestine
powered_by.png, 1 kB

Akhbar filistin


Halaman Depan arrow Fiqih arrow Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan TBC
Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan TBC PDF Cetak E-mail
Views 836    

Abduh Zulfikar Akaha

Benar, di negeri ini, siapa pun bebas memeluk agama yang diyakininya. Tidak ada yang melarang apakah seseorang mau beragama Islam, Kristen, Hindu ataupun Budha. Bahkan Kong Hu Chu dan aliran kepercayaan pun dilindungi keberadaannya oleh Undang-undang.

Allah dan Rasul-Nya juga tidak memaksa manusia memeluk agama Islam. Banyak ayat Al-Qur`an yang menyatakan demikian. Di antaranya, “Tidak ada paksaan untuk masuk agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 2). Dan dalam ayat lain disebutkan, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, niscaya semua orang di bumi ini akan beriman semuanya. Maka, apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya?” (QS. Yunus [10]: 99).

Namun, manakala seseorang telah masuk agama Islam, maka dia pun wajib menaati segala hukum dan aturan yang ada di dalamnya. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara sempurna.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H), penulis kitab Tafsir Al-Qur`an Al-‘Azhim, berkata tentang ayat ini, “Allah Ta’ala menyuruh hamba-hambaNya yang beriman kepada-Nya dan percaya kepada Rasul-Nya untuk melakukan semua aturan dan syariat Islam.

Mereka harus mengamalkan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya semampu mereka.”Logikanya sederhana saja. Jika seseorang menjadi warga negara Indonesia, maka dia pun wajib mematuhi segala aturan dan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Dia juga wajib mengakui Presiden dan pemerintahan Republik Indonesia yang sah.

Dan siapa pun yang mengaku sebagai orang Indonesia, tetapi dia mempunyai presiden dan undang-undang sendiri, niscaya pemerintah dan aparat serta rakyat tidak akan mendiamkannya.Begitu pula jika ada orang yang mengaku Muhammadiyah namun dia mengatakan bahwa pendiri Muhammadiyah bukan KH. Ahmad Dahlan dan mempunyai AD/ART sendiri yang bukan AD/ART Muhammadiyah. Apa reaksi orang Muhammadiyah? Tentu mereka tidak akan terima. Bagaimanapun juga KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. 

Muhammadiyah dan TBC

Sebagai orang yang lahir dari keluarga Muhammadiyah dan pernah mengenyam pendidikan di Muhammadiyah, penulis cukup prihatin melihat sebagian tokoh Muhammadiyah dalam menyikapi Ahmadiyah. Muhammadiyah yang dulu dikenal dengan anti “TBC” (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat)-nya, kini seolah telah berubah.Dengan dalih kebebasan (keblabasan?) beragama dan HAM, beberapa tokoh Muhammadiyah yang sangat terkenal menoleransi keberadaan Ahmadiyah di negeri ini, meskipun di negeri asalnya telah dilarang. Suara mereka sangat lantang, sering diekspos media massa. Bagaikan echo, suara mereka disuarakan lagi oleh ‘orang-orang yang berkepentingan’ dengan disertai bumbu.

Di antara mereka ada yg mengatakan, Ahmadiyah mempunyai hak untuk hidup dan tidak bisa dikeluarkan dari Islam. Ada juga yg mengatakan, pembubaran aliran Ahmadiyah bukan solusi, karena meskipun organisasinya dibubarkan tetapi keyakinan pengikutnya sulit dihilangkan. Dan, ada pula yang mengatakan, keyakinan Ahmadiyah harus dihormati, selama mereka tidak mengganggu keyakinan orang lain. Dan sebagainya.

Mereka tokoh Muhammadiyah. Dalam banyak hal, penulis mengagumi mereka, dulu dan kini. Namun, ini soal amar makruf nahi mungkar. Soal tawashaw bil haqq dan tawashaw bish-shabr. Dalam masalah Ahmadiyah, para sesepuh Muhammadiyah tersebut nyata-nyata tidak konsisten dengan kemuhammadiyahannya. Sebab, bukankah inti dari penolakan Muhammadiyah terhadap “TBC” adalah masalah akidah? Sekiranya takhayul, bid’ah, dan khurafat dianggap membahayakan akidah, justru meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW jauh lebih berbahaya daripada “TBC” yang selama ini diperangi oleh Muhammadiyah.

Tidak ada satu pun dalil yang menyebutkan hukuman mati untuk pelaku takhayul, bid’ah, dan khurafat. Tetapi untuk nabi palsu, Nabi bersabda, “Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul tiga puluh orang dajjal pendusta yang semuanya mengaku nabi. Maka barangsiapa yang mengaku nabi, bunuhlah ia. Dan barangsiapa yang membunuh salah seorang dari mereka, maka ia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Asakir)Dulu, orang Muhammadiyah bangga dengan anti “TBC”-nya. Sekarang, kebanggaan itu bisa saja sirna. Dengan alasan kebebasan beragama dan HAM, bukan tidak mungkin orang Muhammadiyah kelak akan membiarkan seseorang yang mengaku muslim menyembah kuburan dan berdoa kepada orang mati. Apa salahnya orang menyembah kuburan? Toh, ini adalah hak dan keyakinan. Selama mereka tidak mengganggu Muhammadiyah, biarkan saja kuburan disembah. Jangan ganggu mereka! Namun, semoga hal ini tidak terjadi.

Apabila sikap Muhammadiyah lentur dalam masalah Ahmadiyah yang mengakui si pendusta Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW, maka sangat bisa dimaklumi jika akhir-akhir ini jarang lagi terdengar suara lantang Muhammadiyah terhadap “TBC”. Karena, sebagaimana kata Ustadz Ibnu Juraimi, mantan Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, saat pelatihan kader Mu’allimin di Kaliurang Yogyakarta medio Juli 1991 silam, “Faaqidusy-sya`i laa yu’thii.” Yang kurang lebih artinya; Orang yang tidak mempunyai sesuatu tidak bisa memberi apa-apa.Kalaupun sebagian kalangan Muhammadiyah beralasan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang pembaru atau mujaddid menurut keyakinan sebagian orang Ahmadiyah, maka ini pun tetap sulit diterima. Karena, tidak ada sedikit pun peninggalan intelektual dalam disiplin ilmu keislaman yang dia tinggalkan. Pembaru dalam hal apa? Tidak ada seorang pun ulama pada masanya yang menganggapnya sebagai ulama atau ahli fiqih ataupun pakar hadits. Bahkan, para ulama setempat saat itu sepakat menganggapnya sebagai orang sesat lagi menyesatkan sekaligus antek penjajah Inggris.

Sebetulnya, apa yang dikatakan beberapa tokoh Muhammadiyah tersebut tidak salah seratus persen. Masih ada unsur kebenaran di dalamnya, meski sedikit. Namun, jangankan perkataan yang banyak salahnya, perkataan yang benar pun jika dimaksudkan untuk kebatilan, maka jatuhnya batil juga. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Kalimatu haqqin yuraadu bihaa baathil” (Perkataan yang benar tapi tujuannya batil). Dan sejatinya, yang disuarakan oleh sebagian tokoh Muhammadiyah ini bukan lagi kebebasan beragama, melainkan keblabasan beragama. Bagaimanapun, dalam ajaran Muhammadiyah tidak ada celah untuk bebas berakidah dan mengekspresikan kebebebasan untuk membela akidah sesat. Namun demikian, patut disyukuri bahwa tidak semua tokoh Muhammadiyah pro-Ahmadiyah, dengan berbagai alasannya. 

Muhammad Nabi Terakhir               

Dalam mata pelajaran Kemuhammadiyahan selalu diajarkan, bahwa arti kata Muhammadiyah adalah pengikut Nabi Muhammad. Sebuah nama yang bagus dengan tujuan yang mulia, tentu. Dan, salah satu teladan Nabi Muhammad SAW terhadap nabi palsu adalah sabda beliau berikut, “Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban)               

Menjadi pengikut Nabi Muhammad tanpa mengikuti jejak para sahabat adalah mustahil. Sebab, mereka adalah pengikut beliau yang pertama kali dan generasi terbaik umat ini. Merekalah yang paling tahu jeroan ajaran Islam (setelah Nabi), sekaligus yang paling gigih mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, mereka memerangi nabi-nabi palsu dan para pengikutnya. Perang Yamamah yang sangat dahsyat  antara kaum muslimin di bawah komando Panglima Khalid bin Al-Walid melawan Musailimah (bukan Musailamah) Al-Kadzdzab dan pasukannya, yang berakhir dengan kematian sang nabi palsu dan kemenangan umat Islam, adalah bukti nyata hal ini. Artinya, tidak ada kata toleransi dan HAM untuk soal akidah. Memerangi segala bentuk pelecehan akidah adalah konsekuensi logis bagi setiap warga Muhammadiyah yang mengaku pengikut Nabi Muhammad SAW. Sebagai pengikut beliau, kita wajib mengimani bahwa beliau adalah Rasul dan Nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi ataupun rasul sesudah beliau. Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya, “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40)Dalam hadits shahih disebutkan, “Sesungguhnya perumpamaan antara aku dengan para nabi sebelumku itu seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Dia membuat rumahnya indah dan cantik, kecuali satu lubang batu bata di sudut bangunan. Orang-orang yang mengelilingi bangunan pun dibuat heran. Mereka mengatakan; Kenapa lubang kosong itu tidak diisi batu bata? Akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah)

Keyakinan sesat Ahmadiyah tentang konsep kenabian ini diperparah lagi dengan kitab “At-Tadzkirah” yang menjadi kitab suci mereka. Sehingga, kesesatan Ahmadiyah pun menjadi semakin berbahaya. Sedemikian parahnya ajaran sesat Ahmadiyah, masihkah orang Muhammadiyah toleran dan konsisten dengan “TBC”-nya? Wallahu a’lam bish-shawab. 

*    *    * *

Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, penulis, dan Pemred Pustaka Al-Kautsar. 


Published in : Artikel,
Kutip artikel Print kirim ke teman

Users' Comments (1) RSS feed comment
Posted by reza, on 11-09-2008 13:11, IP 125.163.2.160, Tamu
1. Pemred ??
Gelar anda sebagai alumni sebuah madrasah, ditambah dengan embel-embel penulis dan pemimpin redaksi agaknya tidak membuat anda cerdas.Sayang sekali, ternyata tuduhan anda kepada Ahmadiyah justeru mencerminkan anda tidak banyak membaca !! Anda tahu tidak, Irfan Dahlan, putera KH.Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah ternyata seorang Ahmadi (anggota Ahmadiyah). Dan anda salah besar mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak mempunyai peninggalan berharga untuk Islam. Salah satu karangan beliau, yakni "Barahin Ahmadiyah" yang isinya membela Islam dan mengemukakan keindahan Islam dari serangan Nasrani, Sikh dan Hindu, mendapatkan pujian dari Muhammad Husein Batalwi, salah seorang ulama besar di India pada waktu itu. Bahkan, salah satu karya beliau, yakni "Filsafat Ajaran Islam" sangat dihargai oleh Leo Tolstoy, sastrawan ternama Rusia pada waktu itu. 
Dan sekali lagi, Ahmadiyah tidak pernah mempunyai kitab suci bernama "Tadzkirah" seperti yang anda tuduhkan. Kasihan, tuduhan anda hanya fitnah
 
» Laporkan komentar ini kepada administrator
» Balas komentar ini...
» See all 1 replies

Beri komentar



mXcomment 1.0.2 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Ditulis Oleh admin   
Wednesday, 06 August 2008
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 06 August 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
© 2009 perisaidakwah.com