Pernahkah anda mengalami suatu saat ketika anda membuka mushaf dan anda mulai membaca al-qur’an kemudian anak-anak anda datang mendekati anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan?, Pernahkah anda mendapatkan Mutarabbi anda mengerjakan shaum sunnah padahal anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya ataau menginstruksikannya ?, hal tersebut dilakukan oleh Mutarabbi anda hanya karena ia mendapatkan anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah anda mengalami khadimat anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah?, padahal isteri anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-nur maupun Al-ahzab.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:“Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada dibumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orangyang beriman, kenapa engkau mengatakan apa-apa yang engkau tidak lakukan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 1-3)
Dalam Shafwatul Bayan li Ma’anil Qur’an disebutkan, “Kenapa engkau mengatakan perkataan yang kamu tidak benarkan (buktikan) dengan amalmu?” (Khalid Abdurrahman al ‘Ik, Shafwatul Bayan li Ma’anil Qur’an al Karim, hal. 551)
Sebab turunya ayat ini adalah ada seorang sahabat, yakni Abdullah bin Salam radhiallanu ‘anhu yang berkata“Seandainya kami mengetahui amal yang paling utama niscayakami akan mengamalkannya” maka Allah turunkan ayat ini, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacanya hingga selesai. (HR. Tirmidzi danHakim, ia menshahihkannya, Shafwatul Bayan , Ibid)
Ketika sebuah masyarakat tak lagi menghargai moralitas sebagaimana mestinya, maka yang paling terkena dampaknya dan yang berimplikasi sangat luas terhadap kehidupan adalah jagat politik. Oleh karena makna substantif politik adalah moralitas, maka dilihat dari sisi tujuan dan realitanya, jagat politik tidak dapat dipisahkan dari moralitas.
Politik tanpa moralitas akan kehilangan esensinya yang paling fundamental. Jika ia telah kehilangan esensinya maka politik akan menjadi mesin penghancur yang sangat efektif bagi semua tata kehidupan. Sebab moralitas dalam jagat politik adalah kapasitas yang dapat membedakan kebijakan, tindakan, dan perilaku politik yang benar dan yang salah. Atas dasar perbedaan itulah semestinya para politisi bertindak dan berperilaku. Selanjutnya dengan moralitas itu pula mereka merasa mendapat penghargaan diri ketika dapat menerapkan standar itu pada kebijakan dan perilaku politik mereka dan sebaliknya merasa bersalah atau setidak-tidaknya malu ketika mereka melanggar standar tersebut.