Berdo’a adalah meminta. Tidak mungkin permintaan kita akan dipenuhi oleh orang yang kita minta bantuannya jika kita sering melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Atau, tidak mungkin permintaan seorang bawahan akan dipenuhi atasannya jika dia adalah seorang yang sering melanggar peraturan. Demikian pula halnya dengan berdo’a kepada Allah. Allah pun enggan mengabulkan do’a hamba-Nya yang sering melakukan perbuatan maksiat dan melanggar aturan-Nya. Untuk itu, sudah seharusnya apabila kita ingin do’a kita dikabulkan oleh Allah, kita mesti senantiasa menaati segala peraturan-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi apa pun yang Dia larang.
Adalah Ibrahim bin Adham rahimahullah (w. 162 H), seorang ulama yang terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya, suatu hari ketika beliau sedang berjalan-jalan di pasar Basrah, orang-orang mengerumuninya dan bertanya, “Wahai Abu Ishaq – panggilan Ibrahim bin Adham–, sudah sejak lama kami memanjatkan do’a kepada Allah, tetapi mengapa do’a-do’a kami tidak dikabulkan? Padahal Dia telah berfirman dalam kitab-Nya; ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian’.(1)”
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Tempat kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan diri kami dan kesalahan amal-amal kami. Barang siapa ditunjuki oleh Allah maka tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah maka tak ada yang sanggup menunjukinya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah bagi uswah hasanah kita, Rasulullah Muhammad Saw. Beserta keluarga, para sahabat, tabiin, ulama dan pengikutnya hingga akhir zaman.