Secara bahasa (lughatan): Akhlaq adalah jamak dari Al khuluq, yang berarti:
وهو الدِّين والطبْع والسجية
“Yaitu ad din (agama), tabiat, dan perangai.” (Ibnu Manzhur al Mishri, Lisanul ‘Arab, Juz. 10, Hal. 85. Al Maktabah Asy Syamilah)
وقالَ ابنُ الأعْرابِيِّ : الخُلُقُ : المُرُوءةُ
“Berkata Ibnul Arabi: Al Khuluq artinya muru’ah (kepribadian).” (Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq al Hasani, Tajjul ‘Arusy, Hal. 6292. Al Maktabah Ays Syamilah)
Keinginan untuk tobat adalah sebuah kebaikan, selama benar-benar dari hati yang tulus dan serius. Termasuk tobat secara bertahap. Ini karena Islam agama rahmatan lil ‘Alamin. Saya rasa pada kenyataannya tidak ada manusia yang langsung menjadi baik kecuali dengan proses dan belajar. Ketika dia bertobat dari satu keburukan, mungkin masih ada keburukan lain yang masih dikerjakannya. Ini semua tetap di hargai dalam Islam sesuai firmanNya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az Zalzalah : 7)
Selama ini "sunnatullah" yang dipahami kebanyakan orang ialah hukum alam seperti gaya gravitasi bumi, perputaran bumi mengelilingi matahari, air mencari tempat yang paling rendah dan lain-lain yang sejenis itu. Padahal sesungguhnya "sunnatullah" bukan itu saja. Justru yang paling banyak disorot Al-Qur`an sebagai "sunnatullah" ialah fenomena sosial yang berkaitan dengan prilaku manusia dan masyarakat yang jika melanggar "rambu-rambu" tertentu, akan berhadapan dengan ketentuan Allah yang pasti dan tidak akan beranjak walau setapakpun. Umpamanya, suatu kaum yang diuji Allah dengan nikmat dan kekayaan melimpah ruah, tetapi kesenangan itu mereka gunakan untuk kemurkaan Allah seperti hura-hura, foya-foya, dan mengumbar hawa nafsu, akan ditimpakan Allah kepada mereka bencana hebat. Firman-Nya:
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (al-Isra` 16).
Begitu juga manusia-manusia yang tidak mau menerapkan konsep Allah (baik yang bersifat hukum, ekonomi, politik, sosial, dll.) akan menghadapi kehidupan yang "sempit" seperti yang diterangkan Allah dalam surat Thaha: 124. Kehidupan seperti ini bisa diterjemahkan dengan: pertumbuhan ekonomi yang minus, utang melilitpinggang, kondisi sosial yang rawan, hukum yang tidak berwibawa, iklim politik yang mengerikan dengan perebutan kekuasaan, dsb.