Benar, di negeri ini, siapa pun bebas memeluk agama yang diyakininya. Tidak ada yang melarang apakah seseorang mau beragama Islam, Kristen, Hindu ataupun Budha. Bahkan Kong Hu Chu dan aliran kepercayaan pun dilindungi keberadaannya oleh Undang-undang.
Allah dan Rasul-Nya juga tidak memaksa manusia memeluk agama Islam. Banyak ayat Al-Qur`an yang menyatakan demikian. Di antaranya, “Tidak ada paksaan untuk masuk agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 2). Dan dalam ayat lain disebutkan, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, niscaya semua orang di bumi ini akan beriman semuanya. Maka, apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya?” (QS. Yunus [10]: 99).
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Sendi stabilitas dunia ada empat: Keberdayaan ulama (dengan ilmunya), keadilan para penguasa, kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana mestinya, maka akanterjadiinstabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Ulama secara etimologis adalah jama’ dari kata ‘alim’ yang artinya orang yang memiliki ilmu yang membawanya takut hanya kepada Allah.(QS Al Fathir: 28.) Dari sini berarti pengertian ulama tidak hanya terbatas pada orang-orang yang memiliki kafa’ah syar’iyah saja, tapi juga mencakup semua ahli dalam bidang keilmuan apapun yang bermanfaat, dengan syarat ilmu yang dikuasainya membawa dirinya menjadi orang yang memiliki rasa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Rasa khasyyah inilah yang mendorong para ulama untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Karenanya dalam pengertian ini para kader dakwah adalah para ulama yangberperan sebagai ‘waratsatul anbiya’ (pewaris para nabi) yang selalu melakukan tawashau bil haqqi dan tawashau bis shabri (saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran).
Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya. “Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.” “Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.” “Siapa sih sepagi ini mengintai kita?” sang ibu balik bertanya. “Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita.” Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, ‘Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.