Suara dentuman dahsyat itu terjadi hampir setiap 10 menit. Ia panik luar biasa berlari mencari tempat berlindung. Sementara ledakan demi ledakan yang memekakkan telinga dan menggetarkan jantung terus terjadi, ia justru melihat darah bersimbah tumpah di jalan-jalan. Rentetan bunyi senjata bersahutan di antara dentuman yang tak juga berhenti. Ia berusaha menenangkan diri, bahwa keadaan dirinya akan selamat, dan ia akan baik baik saja. Do’a di antara ketakutan tak putus diucapkan, meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar diselamatkan dari ancaman kematian yang sedang mengancam.
Paska peristiwa ‘pembersihan Ghaza” pada pertengahan Juni lalu, yang terpaksa dilakukan Hamas untuk meredam aksi senjata yang sulit dikendalikan, maka perbedaan antar Hamas dan Fatah akhirnya terjawantah dalam bentuk pemisahan wilayah. Ghaza dikuasai oleh Hamas dan Tepi Barat dikuasai oleh Fatah. Sejak itu, berbagai informasi pun berhembus di media massa. Gelombang pemberitaan yang meliput peristiwa itupun menyergap hampir seluruh head line surat kabar. Sayangnya, banyak realitas yang tidak mampu dijelaskan oleh Hamas secara memadai, karena kelemahan mereka dalam wilayah publikasinya. Sementara di sisi lain, Fatah secara leluasa memang mempunyai banyak sarana untuk mengguyur media massa dengan informasi yang tentu saja mendukung tindakannya, bahkan melakukan black campaign terhadap Hamas.
Meski banyak peristiwa penting yang mencerminkan ketulusan Hamas dalam mengelola konflik ini, tapi tidak sedikit kebohongan publik dengan ragam informasi yang yang disebarkan media massa yang menyudutkan Hamas. Karenanya, kita perlu banyak mengetahui soal apa yang terjadi di Ghaza dan Tepi Barat paska tragedi pertengahan Juni itu.