Alhamdulillah sahabat, mulai hari ini www.perisaidakwah.com sudah dapat kembali di akses setelah disuspend sejak awal oktober yang lalu, adapun penyebabnya adalah karena kami terlambat dalam melakukan pembayaran tagihan atas domain dan hosting yang kami sewa. tidak terasa sudah lebih 1 tahun kebersamaan kita dalam media dakwah ini. oleh sebab itu kami selaku pengelola website ini mengucapkan permohonan ma'af atas ketidak nyamanan yang terjadi, semoga Allah Subhana Wa Ta'alasenantiasa menyertai langkah kita semua dalam rangka menggapai ridho-Nya,
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Malik, Al Muwaththa’, Kitab An Nida Lish Shalah Bab At Targhib Fi Ash Shalah fi Ramadhan, Juz. 1, Hal. 338, No hadits. 230. Bukhari, Kitab Al Iman Bab Tathawwu’ Qiyam Ramadhan minal Iman, Juz. 1, Hal. 65, No hadits. 36. Muslim, Kitab Shalah Al Musafirin wa Qashruha Bab At Targhib fi Qiyam Ramadhan wa Huwa at Tarawih, Juz. 4, hal. 144, No hadits. 1266. Dan diriwayatkan oleh imam lainnya. Al Maktabah Asy Syamilah)
Selama ini "sunnatullah" yang dipahami kebanyakan orang ialah hukum alam seperti gaya gravitasi bumi, perputaran bumi mengelilingi matahari, air mencari tempat yang paling rendah dan lain-lain yang sejenis itu. Padahal sesungguhnya "sunnatullah" bukan itu saja. Justru yang paling banyak disorot Al-Qur`an sebagai "sunnatullah" ialah fenomena sosial yang berkaitan dengan prilaku manusia dan masyarakat yang jika melanggar "rambu-rambu" tertentu, akan berhadapan dengan ketentuan Allah yang pasti dan tidak akan beranjak walau setapakpun. Umpamanya, suatu kaum yang diuji Allah dengan nikmat dan kekayaan melimpah ruah, tetapi kesenangan itu mereka gunakan untuk kemurkaan Allah seperti hura-hura, foya-foya, dan mengumbar hawa nafsu, akan ditimpakan Allah kepada mereka bencana hebat. Firman-Nya:
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (al-Isra` 16).
Begitu juga manusia-manusia yang tidak mau menerapkan konsep Allah (baik yang bersifat hukum, ekonomi, politik, sosial, dll.) akan menghadapi kehidupan yang "sempit" seperti yang diterangkan Allah dalam surat Thaha: 124. Kehidupan seperti ini bisa diterjemahkan dengan: pertumbuhan ekonomi yang minus, utang melilitpinggang, kondisi sosial yang rawan, hukum yang tidak berwibawa, iklim politik yang mengerikan dengan perebutan kekuasaan, dsb.