Dalam ushul isyrin (dua puluh prinsip/dasar) Imam Hasan Al Banna menjelaskan permasalahan tawasul dalam kalimat yang ringkas, yaitu “ Doa kepada Allah jika dibarengi dengan tawasul makhluknya adalah termasuk kedalam bagian perbedaan pendapat tentang tata cara berdoa. Hal ini tidak termasuk dalam permasalahan aqidah”
Ucapan Imam Hasan Al Banna tersebut telah menyebabkan kemarahan saudara-saudara kita yang menisbatkan dirinya kepada kaum salaf. Mereka anggap hal itu sebagai menyepelekan Tauhid dan membebaskan Aqidah dari segala bentuk syirik. Mereka juga menuduh Hasan Al Banna telah terpengaruh oleh tasawuf, sebagaimana ada dalam perjalanan hidupnya yang pertama.
Seorang penulis yang bernama Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad ashihipernah melontarkan hal yang serius terhadap tokoh kita kali ini , dalam buku nya yang diterjemahkan edisi indonesia ”Dialog dengan Ikhwani ” Yayasan Al-Madinah, Solo.Dalam bukunya tersebut. Ia berbuat aniaya terhadap Umar Tilmisani. Ia menceritakan bahwa Umar Tilmisani telah menjama' dan qashar solat Ashar hanya untuk nonton film di bioskop, amat tergila-gila pada lagu Ummu Kaltsum, belajar gitar dan dansa ala Perancis dan kegilaan lainnya. Memang, Umar at Tilmisani 'muda' pernah seperti itu, tetapi tulisan yang meyebutkan Mursyid 'Am Umar Tilmisani berperilaku seperti itu tidak lain adalah kebohongan yang nyata dan ia (Abu Abdillah) sendiri menyadari kebohongan itu.
Sungguh, Umar Tilmisani memang pernah jahiliyah ketika masa-masa mudanya. Ia memiliki gaya hidup glamour dan kebarat-baratan seperti yang ia tulis dalam Dzikrayat la Mudzakkiraat. Di buku itulah ia bercerita tentang ke-jahiliyah-an masa mudanya (dalam buku itulah yang dirujuk Abu Abdillah). Namun setelah itu, Umar mengalami perubahan hidup ketika mulai mengenal Islam melalui dakwah al Banna dan IM. Bahkan, akhirnya ia menjadi tokoh besar dan memiliki kelayakan untuk menduduki jabatan sebagai Mursyid 'Am yang persyaratannya amat ketat. Jadi, sebutan Abu Abdillah – semoga Allah swt mengampuninya – kepadanya bahwa ketika menjadi pemimpin IM beliau melakukan ke-jahiliyahan-seperti yang dituduhkan adalah dusta. Itu adalah masa lalunya ketika masih jahiliyah dan belum tersentuh Ikhwan, apalagi menjadi Mursyid 'Am. Letak kebohongannya adalah buku yang dirujuk, Dzikrayat la Mudzakkiraat karya Umar Tilmisani, menceritakan kisah hidupnya yang gelap pada masa lalu dan terang pada masa Ikhwan secara lengkap. Artinya, Abu Abdillah membaca juga kalau ke-jahiliyah-an itu adalah masa lalu Umar Tilmisani sebelum menjadi anggota Ikhwan dan jauh sebelum menjadi Mursyid 'Am. Mengapa Abu Abdillah tetap menulis di bukunya bahwa saat jahiliyah itu Umar adalah pimpinan Ikhwan? (lihat kedustaan ini dalam Dialog Bersama Ikhwani, hlm 24-27).
Ada apa sebenarnya dengan Tokoh kita pada kali ini ? Nah pembaca...mari kita ulas biografi dari seorang da^i. Murabbi, mujahid ustadz Umar tilmisani rahimahullah....selamak menyimak
Kekuasaan, Jama’ah dan logika yang keliru ( Dalam Menasihati Penguasa )
Views
967
Sebagian jamaah Islam berpendapat bahwa jika kekuasaan dipegang oleh penguasa yang tidak menggunakan syari’at Islam dan kekuasaannya mengekor pada pihak asing yang memusuhi Islam, maka Jihad melawannya adalah disyari’atkan, bahkan wajib hukumnya. Itulah tugas yang jelas bagi jama’ah islam pengemban panji kebenaran, Dasar hukum jama’ah tersebut melakukan perlawanan/Jihad berdasarkan Alqur’an dan Sunnah serta fatwa para Ulama sudah cukup banyak.
Hanya saja, teks-teks dalil tersebut sering diungkapkan sesudah terjadinya kekerasan, untuk mencari pembenaran atas berbagai peristiwa kekerasan yang telah terjadi secara sporadis, dan terkadang dengan cara yang misterius yang boleh jadi merupakan pekerjaan fihak-fihak tertentu yang mengadu domba bahkan hendak menghancurkan citra Agama yang lurus ini menjadi Agama yang Menakutkan, Terorisme dan segala cap buruk lainnya disematkan kepada Dakwah dan para Da’inya yang kebetulan tidak tahu apa-apa dan bahkan tidak menyetujuitindakkan tersebut.