Dalam dunia Islam sekarang ini, muncul beberapa kelompok dan aliran sufi. Misalnya, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Sunni, Syi'ah, diantara itu semua, manakah yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ??
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Sendi stabilitas dunia ada empat: Keberdayaan ulama (dengan ilmunya), keadilan para penguasa, kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana mestinya, maka akanterjadiinstabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Ulama secara etimologis adalah jama’ dari kata ‘alim’ yang artinya orang yang memiliki ilmu yang membawanya takut hanya kepada Allah.(QS Al Fathir: 28.) Dari sini berarti pengertian ulama tidak hanya terbatas pada orang-orang yang memiliki kafa’ah syar’iyah saja, tapi juga mencakup semua ahli dalam bidang keilmuan apapun yang bermanfaat, dengan syarat ilmu yang dikuasainya membawa dirinya menjadi orang yang memiliki rasa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Rasa khasyyah inilah yang mendorong para ulama untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Karenanya dalam pengertian ini para kader dakwah adalah para ulama yangberperan sebagai ‘waratsatul anbiya’ (pewaris para nabi) yang selalu melakukan tawashau bil haqqi dan tawashau bis shabri (saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran).
Pada masa akhir keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, banyak para budak yang menjadi bebas dengan sendirinya dikarenakan tuan-tuannya yang meninggal atau melarikan diri. Di antara para budak tersebut, banyak yang berasal dari Turki atau biasa disebut sebagai “al-atrak,” yang artinya orang-orang Turki. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak di antara orang-orang Turki yang mantan budak ini yang menjadi pejabat pemerintahan di bawah kekuasaan Sultan Najmuddin Ayub di Mesir. Dan kebetulan ketika itu yang menjadi qadhi qudhah (semacam Ketua Mahkamah Agung – sekarang) di Mesir adalah Syaikh Al-Izz bin Abdissalam, yang terkenal dengan sebutan “sulthanul ulama” atau pemimpin para ulama. Beliau digelari demikian karena dikarenakan ketinggian ilmunya dan sikapnya yang sering mewakili para ulama pada zamannya, termasuk sikap kritis beliau terhadap penguasa